Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 25 Feb 2019 18:10 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Toleransi Kampung Sawah Bekasi di Mata Traveler

Johanes Randy Prakoso
detikTravel
Para peserta Wisata Toleransi Kampung Sawah (Randy/detikTravel)
Para peserta Wisata Toleransi Kampung Sawah (Randy/detikTravel)
Bekasi - Wisata Toleransi Kampung Sawah di Bekasi pada Sabtu pekan lalu (23/2) turut diikuti sejumlah traveler. Ini kata mereka.

Lewat komunitas Koko Jali, sejumlah traveler diajak serta mengikuti Wisata Toleransi Kampung Sawah pada Sabtu lalu. Wisata itu pun diikuti oleh sejumlah traveler dengan berbagai latar belakang.

Yang pertama adalah Sari dari Cibubur. Ia datang bersama suami dan kedua anaknya. Sari sendiri memiliki latar belakang agama Katolik, dan ingin mengajarkan perbedan sejak dini pada anaknya.

"Terutama kalau dari kami pribadi mengajak anak-anak agar dari sini mereka medapatkan pengalaman bagaimana belajar bertoleransi secara nyata, bukan hanya teori belajar dari buku. Karena dengan mengalami mereka akan memahami dan mengingat seumur hidupnya," ujar Sari.

Selain Sari, hadir juga Lisa yang merupakan warga asli Kampung Sawah. Mewakili generasi muda, ia melihat pentingnya nilai toleransi di sana yang bisa jadi contoh.

"Menarik sih, bagus. Terus bisa dikembangkan lagi untuk generasi muda supaya kita bisa tahu toleransi dari tiap daerah, khususnya Kampung Sawah ini. Jadi berbeda agama, mereka selalu toleransi," ujar Lisa.

Terakhir, ada Satria Aditama yang merupakan dosen di salah satu universitas di Jakarta. Mengajar mata kuliah Pancasila, ia melihat langsung nilai toleransi di Kampung Sawah yang berawal dari saling mengerti dalam perbedaan.

"Sangat menarik. Kita bisa melihat bagaimana pada dasarnya orang indonesia bisa menerima perbedaan. Kita lihat ada gereja katolik yang tidak begitu jauh dari gereja protestan, di mana gereja protestannya mepet sama masjid dan mereka melihat perbedaan itu sudah biasa," ujar Satria.

Lebih lanjut, menurut Satria perbedaan di Kampung Sawah menjadi cara hidup masyarakat di sana. Tidak ada rasa takut, melainkan berkembang dalam perbedaan dan menciptakan toleransi.

"Mereka tidak bingung atas perbedaan, mereka tidak takut pada perbedaan. mereka tumbuh berkembang dalam perbedaan. Mungkin mereka gak mendapat edukasi formal tentang perbedaan, tapi mereka secara alamiah rasa toleransi itu tumbuh," tutup Satria.

Sejatinya perbedaan itu jangan dilihat sebagai suatu ancaman, tapi kekuatan agar setiap insan dapat lebih mengenal satu sama lain. (bnl/aff)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA