Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Sabtu, 09 Nov 2019 21:46 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Karimunbesar, Pulau di Perbatasan yang Dihuni 25 Suku Berbeda

Ahmad Masaul Khoiri
detikTravel
Rumah adat Suku Melayu di Karimun (Foto: Ahmad Masaul Khoiri/detikcom)
Rumah adat Suku Melayu di Karimun (Foto: Ahmad Masaul Khoiri/detikcom)
Tanjung Balai Karimun - Sebuah keramaian pasti mengundang orang-orang untuk datang. Adalah Pulau Karimunbesar yang terbilang kecil ini dihuni sebanyak 25 suku.

Keramaian Pulau Karimunbesar dimulai beberapa dekade lalu hingga tak hanya dihuni oleh Suku Melayu. Saat itu perdagangan bebas terbuka lebar dan menarik suku-suku dari pulau lain hingga mancanegara, seperti Singapura, Malaysia hingga China.

Suku pertama yang menghuni Pulau Karimunbesar adalah Melayu. Hingga kini suku tersebut masih mempertahankan, memperhatikan, dan menjaga adat Melayu di Karimun.




"24 suku ada di sini, selain Melayu. Sejak Kesultanan Melaka pulau ini ditempati orang Melayu, sejak dahulu kala. Mengalami perubahan dari masa lalu," jelas Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Kabupaten Karimun, Abu Samah Haji Arab, beberapa waktu lalu.

"Budaya Melayu masih ada dan 65 persen penduduknya adalah Melayu," imbuh dia.

Karimunbesar, Pulau Kecil yang Dihuni 25 Suku BerbedaKetua Lembaga Adat Melayu (LAM) Kabupaten Karimun, Abu Samah Haji Arab (Foto: Ahmad Masaul Khoiri/detikcom)

Kata Abu, yang dikembangkan dari Melayu saat ini adalah masalah berpakaian. Ada pun di antaranya baju kurung dan tanjak juga kopiah hitam dengan penerapannya PNS wajib mengenakan setiap hari Jumat.

Suku Melayu di Pulau Karimunbesar memiliki tarian klasik dan modern yang masih dipertahankan hingga kini. Hasilnya, sering mengikuti even di ibu kota Jakarta.

Abu mengakui bahwa peninggalan Suku Melayu di Pulau Karimun tak terlalu banyak dibanding yang ada di Pulau Bintan. Pulau yang menghasilkan bauxit atau timah ini juga punya lahan karet, pasir dan batu granit yang memakmurkan masyarakat hingga menarik kaum urban.

Tarian klasik dari Suku MleayuTarian klasik dari Suku Mleayu Foto: Ahmad Masaul Khoiri/detikcom

Seperti di daerah perbatasan lain, warga Karimunbesar juga memiliki keluarga di Johor atau kota lainnya. Meski beda negara tapi ikatan kekeluargaan masih berjalan.

"Kita punya ego. Kita menjaga daerah kami aman. Kita kembangkan toleransi tinggi tapi tidak lepas dari Islam," kata Abu menjelaskan kenapa Suku Melayu masih tetap eksis.

"Jadi sifat orang-orang Melayu itu sangat terbuka, dari pengalaman saya," imbuh dia.

Pulau Karimunbesar yang padatPulau Karimunbesar yang padat (Foto: Ahmad Masaul Khoiri/detikcom)

Dengan potensi yang besar, kata Abu, Pulau Karimunbesar pernah menjadi daerah konfrontasi pada tahun 1965 dengan Malaysia. Krisis itu berlanjut sampai tahun 1970.

Tapi semua itu kini berlalu. Pulau Karimunbesar ingin menjadi Batam kedua di perbatasan dengan sektor pariwisata jadi andalan dan pembangunan di sana semakin digalakkan.

Ikuti terus berita tentang ekspedisi di pulau-pulau terdepan Indonesia di tapalbatas.detik.com!

Simak Video "Gemerlap di Perbatasan Indonesia Bagian Utara"
[Gambas:Video 20detik]
(msl/msl)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA