Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 17 Sep 2020 20:36 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Begini Cara Merawat Keris Ratusan Tahun di Purworejo

Rinto Heksantoro
detikTravel
Museum Tosan Aji di Purworejo
Foto: Museum Tosan Aji di Purworejo (Rinto Heksantoro/detikcom)
Purworejo -

Ribuan keris berumur ratusan tahun dan benda-benda pusaka lain tersimpan rapi di Museum Tosan Aji, Purworejo. Bagaimana ya cara merawatnya?

Sebanyak 1.138 pusaka berupa keris, tombak, pedang, kujang, kudi dan lain-lain menjadi koleksi Museum Tosan Aji di Purworejo. Museum yang terletak di jalan RAA Tjokronegoro No 2 Purworejo tersebut merupakan satu-satunya museum dengan koleksi keris terbanyak dan terlengkap di Jawa Tengah, bahkan di Indonesia.

Tosan Aji sendiri adalah suatu benda pusaka yang terbuat dari unsur besi atau logam seperti keris dan sejenisnya. Tak gampang untuk merawat keris pusaka sebanyak itu.


Untuk menjaga keawetannya, biasanya keris dijamas atau disucikan. Berbagai tahapan dan uborampe atau bahan-bahan untuk untuk menjamas ribuan pusaka itu disiapkan khusus, termasuk waktu penjamasan.

"Untuk perawatan rutin yang paling ringan dilakukan selapan hari sekali atau setiap 36 hari. Keris dikasih minyak cendana atau melati biar tidak berkarat. Kalau warga biasanya memilih hari Selasa Kliwon atau Jumat Kliwon, tapi kalau museum tidak harus pakai waktu seperti itu karena koleksinya banyak dan jika memang harus segera dirawat ya harus segera dirawat," kata staf Museum Tosan Aji bagian konservasi, Purwanto saat ditemui detikcom di Musem Tosan Aji, Kamis (17/9/2020).

Museum Tosan Aji di PurworejoUborampe yang disiapkan Foto: Rinto Heksantoro/detikcom


"Secara umum, konservasi atau jamasan minimal dilaksanakan setahun sekali biasanya pas bulan Suro, itu hanya sebagai ritual saja sekaligus nguri-uri kabudayan dan memberikan edukasi kepada masyarakat bagaimana menjaga atau merawat benda pusaka," lanjutnya.

Sebelum dibersihkan atau dijamas, pria yang lebih akrab dipanggil Ipunk itu menjelaskan, ada berbagai bahan atau uborampe dan alat yang harus disiapkan terlebih dahulu.

Adapun bahan dan alat yang digunakan antara lain jeruk nipis, sikat, abu gosok, minyak cendana atau melati, air kelapa muda, air nanas dan mengkudu atau bisa diganti dengan asam sitrat, air bunga setaman, warangan, kowen, bokor, gayung serta lap kain kering.

"Pertama buka keris dari warangkanya termasuk handle atau pegangan keris. Kemudian bilah keris direndam dalam larutan asam sitrat yang telah dilarutkan dalam kowen. Direndam antara 1 - 3 jam atau lebih tergantung tingkat kekotoran karat. Setelah itu digosok pakai sikat dengan jeruk nipis dan sabun sampai tosan aji bersih biasanya berwarna putih," jelasnya.

Museum Tosan Aji di PurworejoStaf Museum Tosan Aji bagian konservasi, Purwanto Foto: Rinto Heksantoro/detikcom


Setelah dicuci bersih, keris selanjutnya dibilas dengan air bunga setaman, dilap menggunakan lap kain dan diangin-anginkan sampai kering. Proses selanjutnya adalah pewarangan yakni proses mengoles keris dengan warangan yang fungsinya untuk mengawetkan tosan aji termasuk untuk menampakkan pamor pada keris dan terakhir diolesi minyak cendana atau melati.

"Untuk perawatan keris berpamor atau tidak tetap sama caranya, termasuk benda pusaka lain seperti tombak, pedang, kujang, kudi dan lain-lain yang terbuat dari logam. Ada juga yang dari emas, perak, kuningan tapi hanya sebagai campuran atau sinarasah atau kamarogan yakni hiasan pada ornamen tosan aji dan perawatanny juga sama hanya harus lebih hati-hati," tambah Ipunk.

Tak hanya terbuat dari besi atau logam lainnya, bahan baku keris biasanya juga diambil dari batu bintang atau meteor yang jatuh ke bumi pada masa lampau. Koleksi benda pusaka di Museum Tosan Aji sendiri dibedakan menjadi beberapa tangguh, yakni tangguh Segaluh, Mataram, Majapahit, Kartosuro, Padjajaran, dan Kamardikan.

"Tangguh itu artinya masa pembuatan benda pusaka itu, jadi tidak berdasar tahun tapi berdasar ciri-ciri yang dirasa tepat pada zaman kerajaan yang berkuasa di waktu itu," paparnya.

Museum Tosan Aji di PurworejoKoleksi keris ratusan tahun di Museum Tosan Aji Purworejo Foto: Rinto Heksantoro/detikcom


Adapun salah satu koleksi keris tertua di Museum Tosan Aji adalah keris dengan tangguh Segaluh, dapur tilam upih, pamor beras wutah peninggalan Kerajaan Segaluh dari abad XII dan sudah berumur 800 tahun. Seluruh koleksi benda pusaka yang ada di museum itu merupakan hibah atau sumbangan dari masyarakat di seluruh Indonesia, termasuk mantan Menteri Dalam Negeri yakni Suparjo Rustam.

"Yang sumbangan dari bapak Suparjo Rustam adalah keris tilam upih pamor melati rinonce tangguh Mataram Senopati. Kemudian ada pedang suduk pamor buntel mayit tangguh Kartosuro dan tombak biring pamor ron duru tangguh Majapahit," bebernya.

Tak hanya benda pusaka, museum itu juga mengoleksi seperangkat gamelan Tjokronegoro yang merupakan peninggalan bupati pertama Purworejo yakni RAA Tjokronegoro I dan sudan berumur sekitar 380 tahun.


Berbagai benda purbakala lain bahkan benda pra sejarah yang berumur lebih dari 1.000 tahun juga menjadi koleksi Museum Tosan Aji. Salah satu benda purbakala yang sempat membuat geger warga Purworejo dan sekitarnya adalah wajan raksasa yang ditemukan di Kutoarjo pada akhir April 2016 lalu.

"Koleksi lain di museum ini ada wajan raksasa, lingga, yoni, arca, prasasti, watu lumpang, pipisan, koin belanda dan lain-lain serta benda pra sejarah seperti menhir, kapak beliung, fosil kayu, dolmen, stanmba yang umurnya lebih dari 1.000 tahun. Koleksi ini semua diambil dari wilayah Purworejo sendiri," pungkasnya.



Simak Video "Tradisi Unik Nusantara, Jamasan Pusaka Tulungagung"
[Gambas:Video 20detik]
(wsw/wsw)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA