Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 24 Des 2020 21:02 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Tenun Ikat Malaka Bagian Adat dan Wujud Kemandirian Perempuan

Femi Diah
detikTravel
Tradisi menenun masih dilakukan oleh nona dan mama di kawasan Malaka, perbatasan RI-Timor Leste. Tenun motif Garuda jadi salah satu kebanggaan warga di sana.
Menenun menjadi wujud emansipasi perempuan dan bagian tak terpisahkan dengan adat. (Grandyos Zafna/detikFOTO)
Malaka -

Tradisi menenun oleh perempuan di Malaka masih lestari. Memenuhi kebutuhan adat, tenun sekaligus menjadi sumber penghasilan dan kemandirian mama dan nona di kabupaten yang berbatasan langsung dengan Timor Leste itu.

Tenun dengan kekhasan tenun ikat di Pulau Timor itu menjadi salah satu ucapan selamat datang dari tuan rumah di desa-desa di Malaka, Nusa Tenggara Timur (NTT). Tenun berdampingan dengan sirih dan pinang untuk tradisi itu.

Adalah perempuan-perempuan Malaka yang membuat tenun itu. Mereka membedakan tenun laki-laki dan perempuan.

Perbedaan tenun itu ada pada warnanya. Kain laki-laki, yang disebut tasmaneh, lebih rumit ketimbang kain perempuan, yang dinamai futus.

"Untuk perempuan warnanya lebih beragam, ada hitam, merah kuning, biru, hijau, pokoknya semua ada. Motifnya hanya satu," kata Sesilya Abuk, 42, dari Suku Umamae, dalam perbincangan dengan detikTravel dalam tapal batas detikcom yang didukung oleh BRI.

Karena motifnya cuma satu, kain perempuan membutuhkan waktu pembuatan lebih singkat. Tidak sampai satu bulan. Harganya pun lebih murah, sekitar Rp 400-500 ribu.

Sementara itu, kain tenun laki-laki lebih rumit. Kalau motifnya berulang harganya akan semakin mahal. Rata-rata dibanderol dengan nominal Rp 1 juta.

"Kani tenun ini dipakai dalam upacara adat, hajatan, ada orang meninggal, dll," kata dia.

Bagi Sesilya menenun merupakan wujud emansipasi perempuan Malaka. Dan itu sudah ditanamkan secara turun-temurun bahwa perempuan di Malaka harus mandiri.

"Saya menenun sejak kelas 4 SD sampai sekarang," kata dia.

Penenun lain dari, Yoshefina Bui, dari Desa Metamauk, Kobalima Timur, juga menenun untuk mendapatkan penghasilan. Dia tidak mau cuma bergantung kepada suaminya yang memiliki mata pencaharian nelayan.

Mama Fin, sapaan karib Yoshefin, juga berupaya mengembangkan usahanya itu dengan mengambil pinjaman dari BRI Unit Kobalima.

"Saya mengambil pinjaman KUR BRI sebesar Rp 5 juta tahun lalu. Itu buat beli benang, untuk mengembangkan usaha ini," kata Mama Fin.

Mama Fin rata-rata menghasilkan kain tenun berupa sarung sebulan sekali. Sementara itu, selendang tenun yang kecil sekitar 4-5 hari.

"Itu tidak diselingi dengan kegiatan lain. Akhir-akhir ini banyak sekali acara adat, jadi lebih lama," dia menambahkan.

Seperti Sesilya, Mama Fin juga menenun sejak remaja. Dia belajar dari kedua orang tuanya.

***
detikcom bersama BRI mengadakan program Tapal Batas yang mengulas mengenai perkembangan infrastruktur, ekonomi, hingga wisata di beberapa wilayah terdepan khususnya di masa pandemi. Untuk mengetahui informasi dari program ini ikuti terus beritanya di tapalbatas.detik.com!



Simak Video "Sopi, Minuman Tradisional NTT"
[Gambas:Video 20detik]
(fem/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA