Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 18 Jan 2021 09:42 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Mengenal Cycloop, Gunung Para Dewa nan Sakral di Papua

Hari Suroto
detikTravel
Pegunungan Cycloop Papua
Pegunungan Cycloop. (Foto: Hari Suroto)
Jakarta -

Bagi wisatawan yang baru tiba di Bandara Sentani, Jayapura, selain Danau Sentani, pertama kali yang akan dilihat adalah hamparan Pegunungan Cycloop.

Panjang Pegunungan Cycloop ini sekitar 36 kilometer yang membentang dari barat ke timur. Pegunungan ini menjadi pembatas antara Danau Sentani dan Samudera Pasifik.

Pegunungan Cycloop menjadi habitat fauna endemik Papua, di antaranya burung cenderawasih, burung kasuari, kuskus, landak semut Irian dan kanguru pohon. Pegunungan Cycloop juga merupakan sumber air bagi Danau Sentani.

Pegunungan ini dinamai Cycloop bermula pada 1768. Kala itu Louis-Antoine de Bougainville, pelaut Perancis, berlabuh di Teluk Humboldt.

Ia melihat pegunungan di pesisir utara Jayapura yang sepintas seperti raksasa bermata satu yang sedang tidur. Maka Bougainville menamai pegunungan ini Dafonsoro dengan sebutan Cycloop.

Cycloop sendiri dikenal sebagai dewa dalam mitologi Yunani. Ia adalah anak laki-laki dari Dewa Poseidon dan Dewi Thoosa.

Sedangkan masyarakat Sentani sejak zaman nenek moyang justru mengenal pegunungan ini sebagai Pegunungan Dafonsoro. Mereka juga telah memiliki dewa sendiri.

Namun begitulah yang terjadi pada masa lalu. Para petualang Eropa setiap datang di tempat yang baru, tanpa bertanya pada penduduk setempat atau waktu itu mungkin saja mereka memang tidak menjumpai penduduk di daratan, mereka dengan sesuka hatinya selalu memberi nama baru dan mencantumkannya dalam peta dunia sehingga nama yang mereka buat lebih dikenal dan menjadi rujukan.

Sedangkan nama tempat sesuai bahasa aslinya, kini tenggelam begitu saja.

Pegunungan Cycloop ini memiliki beberapa puncak tertingginya, yaitu Gunung Dafonsoro (1.580 m dpl), Gunung Butefon (1.450 m dpl), Gunung Robhong (1.970 m dpl), Gunung Haelufoi (1.960 m dpl), Gunung Rafeni (1.700 m dpl), Gunung Adumama (1.560 m dpl).

Yang menarik, gunung ini juga diberikan nama Gunung Adumama, karena kondisinya terjal dan curam, sehingga dibutuhkan tenaga ekstra untuk mendaki. Saat mendaki gunung ini warga setempat yang sering mengantar pendaki sering mengeluh 'aduh Mama' maka akhirnya diberi nama Gunung Adumama.

Oleh masyarakat Sentani, Cycloop dipercaya sebagai rumah Dewi Pemberi Kehidupan yaitu Hokaimiyae atau ibu pertiwi.

Selain itu Cycloop juga dijaga oleh empat dewa yang menyebar ke empat arah mata angin, yaitu timur (Nu), barat (Wai), selatan (Ebun), dan utara (Dobon). Tiga dewa yang disebut pertama adalah dewa yang mendatangkan petaka, yaitu penderitaan, kesengsaraan dan berbagai macam penyakit termasuk banjir dan tanah longsor. Dewa Dobon dianggap sebagai dewa yang mendatangkan kemakmuran.

Dengan demikian, Cycloop adalah pegunungan sakral yang menjadi rumah para dewa. Cycloop merupakan perpaduan unik Dewa Yunani dan Dewa Sentani.

Jadi, jika Pegunungan Cycloop diganggu dengan perambahan hutan, raksasa bermata satu yang tidur ini akan terbangun dan marah. Sehingga akan terjadi banjir dan tanah longsor.

---

Artikel ini dibuat oleh Hari Suroto dari Balai Arkeologi Papua dan diubah seperlunya oleh redaksi.



Simak Video "Gunung Etna Masih Aktif Semburkan Lava Pijar "
[Gambas:Video 20detik]
(pin/pin)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA