Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Sabtu, 23 Jan 2021 11:22 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

7 Fakta Suku Baduy yang Masih Nol Kasus Corona

Tim detikcom
detikTravel
BANTEN, INDONESIA - FEBRUARY 07:  A member of the traditional Baduy (or Badui) tribe walks on the bamboo bridge in the village in the hilly forest area of the Kendeng mountains on February 7, 2010 in Banten, Indonesia. The traditional community consists of around 5000-8000 people spread acorss a hilly area of just 50 square kilometres. The religion of the Baduy people, known as Agama Sunda Wiwitan, combines elements of Hinduism, Buddhism and traditional beliefs, including various taboos such as not eating food at night, touching money, accepting gold or silver or even cutting their hair.  (Photo by Ulet Ifansasti/Getty Images)
Suku Baduy di Lebak, Banten (Getty Images/Ulet Ifansasti)

3. Pemerintahan Suku Baduy

Mengutip tulisan di situs resmi Pemprov Banten, Suku Baduy mengenal dua sistem pemerintahan, yaitu:

1. Sistem nasional, yang mengikuti aturan negara Indonesia

2. Sistem adat yang mengikuti adat istiadat yang dipercaya masyarakat

Kedua sistem tersebut digabung atau diakulturasikan sedemikian rupa sehingga tidak terjadi benturan. Secara nasional, warga dipimpin oleh kepala desa yang disebut sebagai jaro pamarentah, yang ada di bawah camat, sedangkan secara adat tunduk pada pimpinan adat tertinggi, yaitu puun.

Jabatan puun berlangsung turun-temurun, namun tidak otomatis dari bapak ke anak, melainkan dapat juga kerabat lainnya.

Jangka waktu jabatan puun tidak ditentukan, hanya berdasarkan pada kemampuan seseorang memegang jabatan tersebut.

Sebagai tanda kepatuhan kepada penguasa, Suku Baduy secara rutin melaksanakan tradisi Seba ke Kesultanan Banten.

Sampai sekarang, upacara seba tersebut terus dilangsungkan setahun sekali, berupa menghantar hasil bumi (padi, palawija, buah-buahan) kepada Gubernur Banten (sebelumnya ke Gubernur Jawa Barat), melalui Bupati Kabupaten Lebak.

4. Kampung Baduy Dalam dan Baduy Luar

Jumlah kampung di Baduy Luar terus berkembang. Dari catatan detikcom pada 2017, kampung di Baduy Luar berjumlah 65. Jumlah itu berkembang jauh lebih banyak ketimbang pada 1997 dengan cuma ada 35 kampung.

Warga Suku Baduy Luar menunjukan buah durian yang akan dijualnya di Desa Kenekes, Lebak, Banten, Rabu (20/1/2021). Memasuki musim buah durian pada bulan Januari hingga Februari, warga Suku Baduy menjual berbagai jenis buah durian lokal dari kawasan Baduy tersebut dengan harga Rp30-50 ribu per buah. ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas/wsj.Warga Suku Baduy Luar menunjukan buah durian yang akan dijualnya di Desa Kenekes, Lebak, Banten, Rabu (20/1/2021). Memasuki musim buah durian pada bulan Januari hingga Februari, warga Suku Baduy menjual berbagai jenis buah durian lokal dari kawasan Baduy tersebut dengan harga Rp30-50 ribu per buah. ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas/wsj. Foto: ANTARA FOTO/MUHAMMAD BAGUS KHOIRUNAS

Sementara itu, jumlah kampung di Baduy dalam tidak pernah bertambah atau berkurang sejak awal hingga kelak, cuma tiga kampung. Yakni, Cibeo, Cikertawana, dan Cikeusik.

Pembagian tiga kampung Baduy Dalam sendiri juga memiliki makna penugasan adat.

Cibeo memiliki tugas urusan pelayanan masyarakat Baduy, sosial kemasyarakatan, dan terkait wilayah. Tugas pemerintahan, pertanian, dan komunikasi dengan warga luar selalu diampu oleh Cibeo.

Adapun, Cikertawana bertugas sebagai penasihat urusan-urusan keamanan, ketertiban, kesejahteraan, dan pembinaan warga Baduy.

Terakhir, Cikeusik bertugas soal keagamaan, pelaksanaan kalender adat, seperti Kawalu, Ngalaksa, atau Seba, serta pengadil atas hukum adat. Tapi. aturan tersebut menjadi satu kesatuan adat Baduy.

5. Kepercayaan Suku Baduy

Menurut kepercayaan yang mereka anut, Suku Baduy mengaku keturunan dari Batara Cikal, salah satu dari tujuh dewa yang diutus ke bumi.

Asal usul tersebut sering pula dihubungkan dengan Nabi Adam sebagai nenek moyang pertama.

Adam dan keturunannya, termasuk Suku Baduy, mempunyai tugas bertapa demi menjaga harmoni dunia.

Oleh sebab itu Suku Baduy sangat menjaga kelestarian lingkungannya dalam upaya menjaga keseimbangan alam semesta. Tak ada eksploitasi air dan tanah yang berlebihan bagi mereka. Cukup adalah batasannya.

Objek kepercayaan terpenting bagi Suku Baduy adalah Arca Domas, yang lokasinya dirahasiakan dan dianggap paling sakral.

Suku Baduy mengunjungi lokasi tersebut untuk melakukan pemujaan setahun sekali pada bulan Kalima, yang pada tahun 2003 bertepatan dengan bulan Juli.

Hanya puun (ketua adat tertinggi) dan beberapa anggota masyarakat terpilih saja yang mengikuti rombongan pemujaan tersebut.

Di kompleks Arca Domas tersebut terdapat batu lumpang yang menyimpan air hujan.

Apabila pada saat pemujaan ditemukan batu lumpang tersebut ada dalam keadaan penuh air yang jernih, itu merupakan pertanda bahwa hujan pada tahun tersebut akan banyak turun, dan panen akan berhasil baik.

Sebaliknya, apabila batu lumpang kering atau berair keruh, maka merupakan pertanda kegagalan panen.

6. Angklung Buhun

Suku Baduy memiliki angklung spesial, namanya angklung buhun atau angklung kuno. Angklung itu berukuran 50-150 cm. Satu set angklung ini berisi sembilan buah angklung dan tiga beduk.

Angklung khas BaduyAngklung khas Baduy Foto: Muhammad Zaky Fauzi Azhar/detikX

Sembilan buah angklung itu bernama Indung, Ringkung, Dongdong, Gunjung, Indung Leutik, Engklok, Trolok, dan dua buah Roer.

Angklung buhun punya makna magis di Baduy. Bunyi angklung ini diyakini akan membuat panen berlimpah. Dewi Sri, dewi kesuburan, akan datang dan membantu merawat tanaman padi gogo ketika mendengar alunan angklung.

Angklung ini tak sembarang waktu boleh dimainkan. Hanya saat-saat tertentu, di antaranya ketika penanaman padi adat, yakni saat nyacar serang (ngaseuk serang).

Selanjutnya: Aturan Berkunjung ke Pemukiman Suku Baduy

Selanjutnya
Halaman
1 2 3
BERITA TERKAIT
BACA JUGA