Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Minggu, 16 Mei 2021 19:50 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Ini Kayu dari Papua yang Tahan Ratusan Tahun Terendam Air

Hari Suroto
detikTravel
Kayu Pohon Soang
Foto: Kayu pohon soang di danau Sentani (Hari Suroto/Istimewa)
Sentani -

Ada satu rahasia mengapa rumah-rumah panggung berdiri kokoh di atas Danau Sentani. Rahasianya ada pada kayu soang yang bisa bertahan ratusan tahun di dalam air.

Sejak dulu Kayu pohon soang sudah dikenal oleh masyarakat Sentani, Papua sebagai bahan utama rumah panggung di atas permukaan Danau Sentani.

Batang pohon soang memiliki diameter 15 hingga 20 centimeter. Biasanya kayu ini digunakan sebagai tiang rumah karena dapat bertahan ratusan tahun di dalam air.

Hal ini merupakan pengetahuan kearifan lokal yang dimiliki oleh nenek moyang Sentani, sehingga mereka mampu menemukan jenis kayu yang terbaik untuk bahan konstruksi rumah mereka.

Pohon soang tergolong kayu yang tahan terhadap serangan hama perusak seperti rayap tanah, penggerek kayu, cendawan pelapuk putih dan cendawan pelapuk cokelat.

Kayu Pohon SoangKayu Pohon Soang Foto: Hari Suroto/Istimewa

Pertumbuhan kayu soang cukup lama dan membutuhkan waktu minimal 50 tahun untuk mencapai diameter ideal untuk digunakan sebagai tiang rumah.

Pohon soang (Xanthosthemon Novaguineense Valeton) Di Pegunungan Cyclops ini termasuk endemik dan sudah dilindungi sejak 1987. Pohon ini mulai langka disebabkan oleh penebangan liar untuk dijadikan arang kayu.

Keunggulan arang kayu soang yang panas baranya mampu bertahan lama, serta dinilai lebih hemat untuk pembakaran menjadi alasan para pengelola rumah makan ikan bakar memilihnya.

Masyarakat Sentani secara tradisional punya peraturan adat dalam memanfaatkan kayu soang untuk tiang rumah mereka. Mereka tidak sembarangan mengambil kayu di Pegunungan Cyclops, harus dipilih kayu yang benar-benar sudah tua agar tiang dari kayu soang tidak cepat roboh.

Dalam mengambil kayu soang juga sudah diatur secara adat, di mana tempat leluhurnya ambil maka keturunannya juga akan mengambil kayu dari lokasi yang sama, kayu ini hanya diambil untuk tiang rumah tidak boleh untuk fungsi lain.

Oleh masyarakat Sentani, kayu soang yang dijadikan tiang rumah, mereka tidak merubah bentuknya, misalnya memotongnya menjadi balok panjang. Namun disesuaikan dengan kondisi asli kayu soang.

Masyarakat Sentani hanya membuat ukiran di tiang rumah dari kayu soang. Ukiran ini berupa manusia, binatang mitologi seperti kadal, ikan, atau motif geometris.


---
Artikel ini dibuat oleh Hari Suroto dari Balai Arkeologi Papua dan diubah seperlunya oleh redaksi.



Simak Video "Peci Kayu Unik Ala Tasikmalaya"
[Gambas:Video 20detik]
(wsw/wsw)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA