Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 27 Des 2021 08:30 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Sangkrah, Kelurahan di Solo, Kawasan Pengendali Banjir Sejak Zaman Belanda

Pabrik limun De Hoop di Sangkrah, Solo
Pabrik limun De Hoop di Sangkrah, Solo (Bayu Ardi Isnanto/detikcom)
Solo -

Kawasan Sangkrah, yang kini menjadi salah satu nama kelurahan di Kota Solo, memiliki sejarah panjang. Sangkrah penting dalam pengelolaan sungai sejak dulu.

Kisah-kisah tentang Sangkrah diungkap dalam kegiatan napak tilas oleh komunitas sejarah Solo Societeit. Kegiatan ini bertajuk 'Mutiara Solo Timur: Menyapa Kawasan Sangkrah Tempo Doeloe'.

Sangkrah, kawasan dengan luas 45 hekatre di Kecamatan Pasar Kliwon itu merupakan peradaban lama dan cikal bakal Kota Solo. Kelurahan Sangkrah dilintasi tiga sungai yaitu Sungai Bengawan Solo, Sungai Pepe dan Sungai Kecing.

Pendiri Solo Societeit, Heri Priyatmoko, menyebut penamaan Sangkrah erat hubungannya dengan sungai, yakni berkaitan dengan mencegat atau membendung sesuatu di sungai, seperti sampah atau ikan.

Ahli bahasa CF Winter dalam kamus Tembung Kawi Mawi Tegesipun, sangkrah bermakna susuh atau sarang. Sedangkan dalam kamus Bausastra Jawa karya WJS Poerwadarminta, dijelaskan terminologi sangkrah adalah rêrencekan lsp. sing dianggo ropoh ut. sing kèli ing banyu (ranting-ranting untuk mencegat barang yang hanyut di air).

"Sejak awal Sangkrah adalah sungai besar. Babad Giyanti menyebutkan kata 'Bengawan Sangkrah' dalam proses pencarian lokasi ibu kota kerajaan," kata Heri usai kegiatan di Sangkrah, Minggu (26/12/2021).


Pengendalian banjir dari Sangkrah

Dalam perkembangannya, Pakubuwono IV (1788-1820) menguruk kawasan Sangkrah hingga Baturono (barat Semanggi) menjadi daratan. Hal ini dilakukan sebagai langkah pengendalian banjir di masa itu.

Proyek pengendalian banjir juga dilakukan di era-era selanjutnya. Salah satunya di masa Pakubuwono X, yakni setelah adanya peristiwa banjir tahun 1902 yang disebabkan Kali Pepe meluap.

Kemudian dibangunlah kanal yang menghubungkan Sungai Pepe dan Bengawan Solo. Proyek ini rampung pada tahun 1910. Meski demikian, kala itu banjir masih saja menjadi masalah warga Solo.

"Pakubuwono X bersama petinggi kolonial Belanda kemudian membangun pintu air di Demangan, Sangkrah tahun 1918," ujar dosen sejarah Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tersebut.

Upaya penanganan banjir terus dilakukan secara berkelanjutan, karena banjir masih menjadi bencana bagi warga Solo. Puncaknya, Solo mengalami banjir besar pada 1966. Penanganan banjir pun masih dilakukan sampai sekarang.

Bangun jembatan

Ketua Solo Societeit, Dani Saptoni, menjelaskan Sangkrah memiliki jembatan yang juga bersejarah. Berdasarkan arsip lawas, diduga lokasi yang dimaksud ialah di sebelah Kantor Kelurahan Sangkrah.

[Gambas:Instagram]



Media massa berbahasa Belanda di tahun 1930 memuat artikel berjudul 'Jalan Baru ke Sangkrah'. Jembatan yang relatif kecil ini bisa dikatakan menghabiskan dana yang besar, yakni 11.000 gulden.

"Biayanya termasuk mahal. Ternyata penyebabnya daerah yang dihubungkan itu dahulunya terisolasi. Selain membangun jembatan, Pakubuwono X juga membangun jalan ke selatan," ujar Dani.

Stasiun hingga limun

Di era Pakubuwono X, Kota Solo menjadi daerah modern dengan munculnya listrik hingga kereta trem. Termasuk, di Sangkrah, berdiri Stasiun Solo Kota pada 11 Juni 1920 yang menghubungkan Solo dengan Wonogiri.

Kehadiran stasiun menguntungkan warga pedesaan karena tak perlu lagi menginap di kota saat berdagang. Mereka bisa melaju naik kereta setiap harinya.

"Keramaian yang terjadi di sekitar stasiun pun memunculkan kegiatan perekonomian masyarakat. Berdirilah Pasar Sangkrah yang berada di sisi barat stasiun," ujar Dani.

[Gambas:Instagram]



Tak hanya pasar, pabrik-pabrik pun dibangun di sekitar pasar. Salah satunya ialah pabrik limun De Hoop yang peninggalannya masih dapat ditemukan saat ini.

Limun yang berasal dari kata lemonade adalah minuman bersoda dengan berbagai macam rasa. Di era itu, limun merupakan minuman untuk masyarakat kelas atas.

"Seiring adanya stasiun, distribusi barang semakin mudah, harga limun pun semakin terjangkau dan bisa dinikmati wong cilik," katanya.

Pabrik limun De Hoop berhenti beroperasi pada 1980. Namun, bangunannya tidak diubah hingga sekarang.

"Pernah digunakan untuk pabrik sabun. Sekarang dipakai untuk gudang elektronik. Tadi, kami juga sempat mengunjunginya," katanya.

Adapun kegiatan napak tilas tersebut dilakukan untuk mengisi libur Natal dan Tahun Baru. Setelah menjelajah Sangkrah, para peserta juga mengikuti diskusi sejarah.

"Setelah sekian lama pandemi, akhirnya kita lakukan kembali kegiatan seperti ini. Pesertanya terbatas dan kita terapkan protokol kesehatan," kata dia.

(fem/fem)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA