Desa Wisata Sumpur Kudus memiliki keindahan yang jarang diketahui traveler. Perbukitan dengan trek menantang hingga pemandangan air terjun indah ada di sini!
Nagari Sumpur Kudus merupakan salah desa adat yang terletak di Kecamatan Sumpur Kudus, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat.
Melansir informasi dari Jejaring Desa Wisata (Jadesta) Kementerian Pariwisata (Kemenpar), desa ini berada di kawasan dataran tinggi Bukit Barisan dengan perbukitan dan lembah yang curam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Desa adat Sumpur Kudus memiliki ketinggian sekitar 365 mdpl, dengan suhu berkisar antara 22 Β°C sampai 32 Β°C. Desa ini memiliki potensi sebagai destinasi wisata alam dan budaya yang kuat.
Desa ini telah resmi terdaftar dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) dalam kategori desa wisata berkembang. Berikut beberapa fasilitas wisata yang ditawarkan:
Β· Area parkir kendaraan yang luas
Β· Balai pertemuan yang dimanfaatkan untuk kegiatan komunitas dan acara budaya
Β· Mushola
Β· Toilet umum
Β· Gerai yang menjual berbagai makanan dan minuman khas Sumbar
Β· Dilengkapi dengan selfie area untuk wisatawan mengabadikan momen
Berikut Wisata Menarik di Desa Wisata Sumpur Kudus:
1. Tugu PDRI
Tugu PDRI merupakan monumen yang dibangun sebagai simbol perjalanan sejarah yang pernah terjadi di Sumatera Barat. Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) merupakan pemerintahan sementara yang dibentuk pada 22 Desember 1948 di Bukittinggi, Sumatera Barat. Syafruddin Prawinegara sebagai pemimpinya.
Peristiwa ini menjadi sejarah penting bagi masyarakat Sumatera Barat, sehingga dibangunlah Tugu PDRI sebagai bentuk penghormatan atas peristiwa tersebut.
Wisatawan yang ingin mengunjungi tugu ini, hanya perlu mengocek uang sebesar Rp 10 ribu.
2. Makam Rajo Ibadat
Makam Rajo Ibadat merupakan makam salah satu Rajo Tigo Selo pada masa kerajaan Pagaruyung yang bertugas mengurus bidang keagaman Islam.
Situs ini menjadi salah satu situs yang banyak dikunjungi wisatawan untuk berziarah atau hanya sekedar melihat dari dekat salah satu tokoh terkemuka di Sumatera Barat pada zamannya.
Makam ini menjadi bukti sejarah dan budaya Islam yang kuat di wilayah tersebut. Untuk memasuki situs ini wisatawan hanya perlu membayar Rp 20 ribu.
3. Bukit Lontiak
Bukit ini terkenal dengan mitos yang dipercaya masyarakat setempat akan tradisi Manyucuak Ranting. Melansir salah satu studi penelitian, tradisi Manyucuak Ranting merupakan kepercayaan yang dipegang oleh masyarakat Sumpur Kudus. Tradisi ini dilakukan pendatang dengan menancapkan ranting di Bukit Lontiak agar terhindar dari sial dan malapetaka.
Selain mitos dan tradisi yang dipercaya masyarakat, bukit ini menyajikan pemandangan alam yang indah yang wajib dikunjungi di desa wisata Sumpur Kudus. Tiket untuk naik ke Bukit Lontiak sebesar Rp 10 ribu.
4. Sentra Tenun Tradisional
Di sini, wisatawan diajak menyaksikan langsung proses pembuatan kain tenun tradisional, mulai dari pemintalan benang hingga pewarnaan. Ini menjadi kegiatan wisata buatan yang edukatif sekaligus pelestarian budaya Minang.
Untuk bisa mendapatkan pengalaman menyenangkan ini, wisatawan perlu mengeluarkan harga sebesar Rp 400 ribu.
5. Pertunjukan Randai dan Tari Minang
Pertunjukan Randai dan Tari Minang merupakan seni pertunjukan tradisional dari Minangkabau, Sumatera Barat. Seni ini menampilkan seni randai yaitu teater tradisional Minangkabau dan berbagai tarian adat khas Minang.
Wisatawan bisa mendapatkan pengalaman melihat kekayaan seni yang ada di Minangkabau. Untuk melihat pertunjukan ini.
6. Makam Syekh Ibrahim
Makam Syekh Ibrahim merupakan makam tempat bersemanyamnya Syekh Ibrahim, yaitu tokoh yang menyebarkan agama Islam di Sumpur Kudus. Syekh Ibrahim merupakan salah satu tokoh yang dihormati oleh masyarakat setempat.
Makam Syekh Ibrahim menjadi wisata religi yang banyak dikunjungi wisatawan dari berbagai daerah. Untuk masuk ke kawasan makam, wisata perlu membayar tiket masuk sebesar Rp 20 ribu.
7. Lubuk Pandakian
Nah, selain wisata alam dan wisata religi, desa wisata Sumpur Kudus juga menyediakan rekreasi air yang menjadi spot favorit wisatawan.
Lubuk Pandakian merupakan lubuk atau kolam air jernih untuk berenang dan bermain air. Untuk masuk kesini, wisatawan hanya perlu membayar tiket sebesar Rp 10 ribu.
8. Puncak Bilalang Kunik
Puncak Bilalang Kunik menjadi spot favorit wisatawan yang ingin merasakan liburan dengan pemandangan alam yang indah. Puncak Bilalang Kunik menyajikan view perbukitan, kabut pagi, dan panorama hijau Sumpur Kudus dari ketinggian.
9. Batu Kasur atau Batu Uji
Batu kasur atau batu uji merupakan situs yang terdapat di desa wisata Sumpur Kudus, batu ini berupa formasi batu unik yang berbentuk seperti kasur. Untuk masuk ke situs ini, wisatawan hanya perlu membayar sebesar Rp 25 ribu.
10. Paket Wisata Pohon Asuh
Kegiatan ini meliputi pelatihan mengenai proses konservasi hutan serta menanam pohon. Wisatawan akan diberikan materi, pembelajaran, dan praktik menanam dan merawat pohon secara langsung. Harga paket wisata ini mulai dari Rp 150 ribu.
Penginapan dan Paket Wisata
Selain kegiatan menarik yang bisa dilakukan di desa wisata Sumpur Kudus, desa ini juga menyediakan beberapa homestay yang bisa disewa oleh wisatawan. Harga homestay dibanderol mulai dari Rp 200 ribuan.
Produk UMKM dan Kuliner
Desa wisata Sumpur Kudus menawarkan kuliner khas Nagari Sumpur Kudus yang dibuat dan diolah oleh warga setempat, seperti:
Β· Sambal daun kayu
Β· Gulai cipuik
Β· Sambal belalang
Β· Gulai cindawan
Β· Sayur umbut
Selain menarik wisatawan, produk ini juga menjadi salah satu sumber penghasilan warga setempat. Harga yang ditawarkan cukup terjangkau yaitu mulai dari Rp 10 ribu saja.
Bagi traveler yang berkunjung ke Sijunjung, jangan lupa sempatkan mengunjungi desa wisata Sumpur Kudus untuk merasakan wisata alam dan kebudayaan yang indah.
Simak Video "Video Aman Nggak sih Minum Air dari Sinkhole Sumatra Barat?"
[Gambas:Video 20detik]
(wsw/wsw)












































Komentar Terbanyak
Viral Bule Protes Keras Upacara Adat di Bali, Terganggu Suara Musik
Dulu Viral, Community Center Pamulang Kini Tak Terawat
Kinerjanya Cuma Diberi Nilai 50 oleh DPR, Apa Kata Menpar Widiyanti?