Tradisi Leluhur Nusa Utara, Perayaan Tahun Baru di Perbatasan Filipina
Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Tradisi Leluhur Nusa Utara, Perayaan Tahun Baru di Perbatasan Filipina

Hari Suroto - detikTravel
Kamis, 26 Feb 2026 11:08 WIB
Tulude merupakan tradisi tahunan warisan para leluhur masyarakat Nusa Utara, upacara melepaskan tahun yang lama dan bersiap menerima tahun yang baru, dengan harapan akan lebih baik dari tahun sebelumnya.
Tradisi Tulude masyarakat Nusa Utara. Foto: Haspo Sinambela
Jakarta -

Traveler yang berkunjung ke Manado, dapat menyaksikan tulude yang hanya dilakukan satu kali dalam setahun di Nusa Utara.

Nusa Utara (Kepulauan Sangihe, Talaud dan Sitaro) terletak di ujung utara Provinsi Sulawesi Utara berbatasan dengan Filipina. Untuk mencapai Nusa Utara, traveler dapat naik kapal cepat selama 4 jam perjalanan dari Manado.

Tulude merupakan tradisi tahunan warisan para leluhur masyarakat Nusa Utara, upacara melepaskan tahun yang lama dan bersiap menerima tahun yang baru, dengan harapan akan lebih baik dari tahun sebelumnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Sebagai bentuk rasa syukur atas pergantian tahun sebagai berkat dari Mawu Ruata Gengghona Langi (Tuhan yang Mahakuasa. Tulude berasal dari bahasa Sangihe dari kata manulude yang artinya menolak. Tulude atau Mandullu'u Tonna dimulai dengan rangkaian syair sasambo dalam bahasa Sangihe yang berisi doa restu oleh tokoh adat pembawa ucapan Tatahulending Banua.

Tulude merupakan tradisi tahunan warisan para leluhur masyarakat Nusa Utara, upacara melepaskan tahun yang lama dan bersiap menerima tahun yang baru, dengan harapan akan lebih baik dari tahun sebelumnya.Tulude merupakan tradisi tahunan warisan para leluhur masyarakat Nusa Utara, upacara melepaskan tahun yang lama dan bersiap menerima tahun yang baru, dengan harapan akan lebih baik dari tahun sebelumnya. Foto: Haspo Sinambela

Pelepasan perahu kayu (tatolang) yang berisi sesajian bahan pangan hasil kebun dan laut ke tengah laut, disertai dengan kata-kata atau ucapan bahwa segala sesuatu yang buruk telah dilepaskan ke tengah laut dan meninggalkan kehidupan manusia.

Penjemputan kue adat tamo, kemudian diarak keliling untuk dibawa masuk ke arena upacara. Upacara diakhiri dengan pemotongan kue tamo dan dimeriahkan oleh tarian gunde, ampa wayer, lenso dan penampilan kelompok nyanyian masamper serta makan bersama yang diikuti semua orang. Kue tamo merupakan kudapan yang terbuat dari dodol berhiaskan cabai, udang, buah pala serta aneka hiasan lainnya dan berbentuk kerucut.

Tarian ampa wayer dilakukan secara berkelompok dan diiringi oleh musik keroncong, gitar dan trem bas. Tulude terkait dengan astronomi Nusa Utara dan Bintang Fajar. Pelaksanaan tulude awalnya pada 31 Desember malam saat pergantian tahun, dalam perkembangannya kemudian tulude bergeser ke akhir Januari bahkan awal Februari. Tulude merupakan simbol kerukunan, persatuan, serta kebersamaan masyarakat. Memohon penyertaan Tuhan dalam melanjutkan hidup di tahun baru.

----

Hari Suroto
Penulis bekerja di Balai Pelestarian Kebudayaan XVII Sulawesi Utara

Kredit foto: Haspo Sinambela




(ddn/ddn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads