Gedung Juang Majalengka merupakan salah satu saksi sejarah di Jawa Barat. Kawasannya pernah jadi lokasi hukum gantung era Kolonial Belanda.
Gedung Juang Majalengka merupakan salah satu bangunan bersejarah di Kabupaten Majalengka yang berkaitan dengan masa perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Dibangun pada tahun 1860-an oleh Pemerintahan Kolonial Belanda, gedung ini dahulu digunakan sebagai tempat aktivitas para pejuang dan tokoh pergerakan dalam menyusun strategi serta kegiatan organisasi pada masa perjuangan melawan penjajahan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ini, Gedung Juang menjadi salah satu bangunan cagar budaya di wilayah Majalengka. Lokasinya terletak di Jl. Letkol Abdul Gani Nomor 5, Majalengka Kulon, Kecamatan Majalengka, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat.
Gedung ini berada kawasan kantor DPRD Majalengka dan tercatat dalam inventaris bangunan cagar budaya di Jawa Barat yang memuat berbagai bangunan bersejarah yang memiliki nilai penting bagi sejarah daerah.
Sejarah Panjang Gedung Juang Majalengka
Mengutip informasi dari penjelasan pemerhati sejarah sekaligus Ketua Yayasan Galur Rumpaka Majalengka Baheula (Grumala), Nana Rohmana dalam arsip detikTravel, Sabtu (21/3/2026), berikut kisah panjang Gedung Juang Majalengka.
1. Gedung Asisten Residen Belanda
Pada awal pembangunannya, gedung ini dikenal sebagai Gedung AR (Asisten Residen) karena digunakan sebagai kantor sekaligus rumah dinas pejabat kolonial Belanda yang menjabat sebagai Asisten Residen di wilayah Keresidenan Cirebon pada 1860.
Jabatan Asisten Residen pada masa itu memiliki peran penting dalam sistem pemerintahan kolonial karena bertugas mengawasi administrasi dan pemerintahan di tingkat kabupaten.
Keberadaan gedung ini menjadi simbol kekuasaan pemerintah kolonial di Majalengka. Lokasinya yang berada di pusat pemerintahan menunjukkan bahwa gedung tersebut menjadi salah satu bangunan penting dalam struktur administrasi Hindia Belanda di wilayah tersebut.
2. Lokasi Eksekusi Landraad
Selain berfungsi sebagai pusat administrasi kolonial, kawasan di sekitar Gedung AR juga kerap digunakan sebagai tempat pelaksanaan hukuman mati pada masa Belanda.
Dalam catatan sejarah lokal, hukuman gantung terhadap para pelanggar hukum atau pejuang yang dianggap melawan pemerintah kolonial sering dilakukan di area depan gedung.
Eksekusi tersebut biasanya berkaitan dengan keputusan pengadilan kolonial yang dikenal dengan Landraad, yaitu pengadilan untuk penduduk pribumi pada masa Hindia Belanda. Peristiwa ini menjadikan kawasan Gedung Juang sebagai salah satu lokasi yang menyimpan memori kelam dari masa penjajahan.
3. Penjara Pejuang Indonesia di Era Penjajahan Jepang
Pada masa pendudukan Jepang sekitar 1942, Gedung Juang Majalengka yang saat itu dikenal sebagai Gedung AR digunakan sebagai tempat penahanan para pejuang Indonesia.
Para pejuang yang ditangkap oleh tentara Jepang ditahan dan mengalami berbagai bentuk penyiksaan di gedung tersebut. Beberapa di antaranya bahkan dilaporkan meninggal dunia dan tidak diketahui keberadaan jasad maupun lokasi makamnya.
Gedung ini juga sempat ingin dihancurkan menggunakan bom. Namun rencana tersebut tidak berhasil karena bom yang dipasang tidak meledak.
4. Kantor Komite Nasional Daerah (KNID) Era Kemerdekaan
Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, fungsi gedung ini berubah. Bangunan tersebut kemudian digunakan sebagai kantor Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID) Majalengka.
KNID merupakan lembaga pemerintahan daerah yang dibentuk pada masa awal kemerdekaan untuk membantu penyelenggaraan pemerintahan sebelum terbentuknya sistem pemerintahan daerah secara resmi. Dari gedung inilah berbagai kegiatan administrasi dan koordinasi pemerintahan daerah dilakukan oleh para tokoh lokal pada masa awal Republik Indonesia.
5. Markas Komando Militer Pejuang 1949
Gedung Juang juga memiliki peran penting pada masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Pada tahun 1949, ketika pasukan Belanda berusaha masuk kembali ke Indonesia, gedung ini sempat dijadikan markas komando militer para pejuang Indonesia.
Saat itu para gerilyawan Indonesia melakukan perlawanan terhadap pasukan kolonial dengan bergerak dari wilayah pegunungan di sekitar Majalengka. Gedung ini menjadi salah satu titik penting untuk mengatur strategi dan koordinasi perjuangan.
Hingga kini, Gedung Juang Majalengka tetap menjadi simbol perjuangan rakyat Majalengka. Bangunan ini tidak hanya menyimpan nilai arsitektur kolonial, tetapi juga menjadi pengingat perjalanan sejarah daerah mulai dari masa penjajahan, masa revolusi kemerdekaan, hingga terbentuknya pemerintahan daerah di Indonesia.
(fem/fem)












































Komentar Terbanyak
Meresahkan, Rombongan Pendaki Karaoke di Puncak Gunung Andong
4 Negara ASEAN Bersatu Bangun Rute Kereta Cepat, Tanpa RI
Pesawat Garuda Berputar-putar 4,5 Jam di Langit India, Terhalang Uji Coba Rudal