Kawasan Kota Tua Jakarta memancarkan pesona yang memikat, menarik ribuan pengunjung setiap hari. Alih-alih sekadar berfoto di depan bangunan era kolonial atau bersepeda dengan sepeda antik melintasi Taman Fatahillah, kali ini detikTravel memilih pendekatan yang lebih personal dan interaktif untuk menjelajahi kawasan tersebut, yakni mengikuti tur jalan kaki gratis!
Bersama Gilang Ramadhan, seorang pemandu dari Free Guided Tour UPK Kota Tua, rombongan memulai rute dengan tema "Oud Batavia en Omstreken: Then & Now" Selasa (7/4/2026). Tur itu melakukan penjelajahan kembali ke masa silam, tepatnya abad ke-17, masa ketika kawasan ini menjadi pusat perusahaan dagang paling berpengaruh di dunia, VOC.
Awal Mula Batavia dan Dampak JP Coen
Kawasan Kota Tua (Hans Wilhem/detikcom) |
Penjelajahan dimulai dengan menelaah latar belakang sejarah Kota Tua. Sebelum para peserta tiba, Gilang memamerkan replika sebuah karya seni terkenal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini adalah lukisan Jan Pieterszoon Coen atau JP Coen, Gubernur Jenderal VOC," buka Gilang.
Mengutip buku Terbitan Komunitas Bambu, Genosida Banda: Kejahatan Kemanusiaan Jan Pieter Szoon Coen. Sekitar 1619, JP Coen mengawalinya dengan menginstruksikan tentara VOC untuk menghancurkan Kota Jayakarta. Di atas reruntuhan itulah, ia mendirikan kota baru bernama Batavia.
"Nama Kota Batavia itu diambil dari nama etnis orang Belanda yaitu etnis Batavi. Mereka asalnya dari Jerman dan dianggap sebagai nenek moyangnya orang Belanda," kata Gilang.
Dari titik nol inilah, VOC membangun pusat pemerintahannya yang kala itu membentang sangat luas hingga ke Pelabuhan Sunda Kelapa-yang menjadi gerbang internasional utama Batavia.
Untuk melengkapi imajinasi peserta, Gilang memperlihatkan peta visual Batavia dari tahun 1700-an. Beberapa arsip tata kota pada era 1800-an yang ditunjukkan rupanya merupakan buah karya Johannes Rach, seorang anggota militer asal Denmark yang menetap di Batavia pada masa itu.
Sejarah Museum Seni Rupa dan Keramik
Museum Seni Rupa dan Keramik (Weka Kanaka/detikcom) |
Menyusuri rute, salah satu pemberhentian paling menarik adalah di depan gedung yang kini kita kenal sebagai Museum Seni Rupa dan Keramik. Sebelum dipenuhi karya seni nan indah, gedung megah bergaya arsitektur klasik dengan pilar-pilar besar ini menyimpan sejarah yang cukup kelam.
"Gedung ini dulunya adalah Raad van Justitie atau Gedung Departemen Kehakiman. Didirikan 1866 dan selesai dibangun 1870, arsiteknya bernama Van Raders," kata Gilang.
Pada 1943, seiring dengan pendudukan Jepang atas Indonesia, fungsi bangunan ini mengalami perubahan yang signifikan. Gedung pengadilan ini, alih-alih menjalankan peran aslinya sebagai tempat persidangan, diubah menjadi asrama (dorm) bagi tentara Jepang.
Pada saat yang sama, warga negara Belanda dan mantan pejabat yang pernah memegang kekuasaan ditahan di kamp-kamp penahanan. Dalam perjalanan sejarah, setelah kemerdekaan, bangunan ini tidak langsung berubah menjadi museum.
Pada 1962, bangunan dari masa kolonial Belanda ini sempat digunakan sebentar sebagai Balai Kota, khususnya Kantor Wali Kota, untuk Jakarta Barat di tengah-tengah pemerintahan kota yang baru terbentuk. Apa yang menyebabkan transformasinya menjadi museum seni?
"Setelah selesai menjadi kantor wali kota, sekitar tahun 1970-an tempat ini diresmikan sebagai Balai Seni Rupa," kata Gilang.
Museum Seni Rupa dan Keramik sebelumnya memiliki sebuah aula yang didedikasikan untuk pertunjukan dan memamerkan koleksi lukisannya.
Tak lama setelah itu, lembaga ini menerima sumbangan keramik dalam jumlah besar dari Asosiasi Keramik Indonesia. Pada era 1980-an, Pemerintah Provinsi Jakarta pada era Gubernur Ali Sadikin mengambil langkah signifikan untuk menghargai sumbangan berharga itu dengan mengubah citra dan menggabungkannya menjadi apa yang kini dikenal sebagai Museum Seni Rupa dan Keramik.
Para traveler yang tertarik menjelajahi sisa-sisa kemegahan Raad van Justitie sambil menikmati karya seni akan menemukan museum ini buka hingga pukul 15.00 dari Selasa hingga Jumat dengan biaya Rp 10.000/orang.
Bagi yang mencari pengalaman yang lebih santai di malam hari, pertimbangkan untuk berkunjung pada akhir pekan ketika museum memperpanjang jam operasionalnya hingga pukul 20.00 dengan biaya Rp 15.000/orang.
Menjelajahi Kota Tua tetap tak pernah membosankan ketika kita menyadari kisah-kisah yang terjalin dalam dinding-dinding kuno yang kokoh. Apakah Anda berencana mengikuti tur sejarah yang menarik ini pada akhir pekan ini, traveler?
Simak Video "Video Viral! Pungli di Kawasan Kota Tua Jakarta"
[Gambas:Video 20detik]
(fem/fem)














































Komentar Terbanyak
Meresahkan, Rombongan Pendaki Karaoke di Puncak Gunung Andong
4 Negara ASEAN Bersatu Bangun Rute Kereta Cepat, Tanpa RI
Pesawat Garuda Berputar-putar 4,5 Jam di Langit India, Terhalang Uji Coba Rudal