Ada yang unik di balik hiruk-pikuk Kota Surabaya, traveler bisa ngopi sambil mendengarkan alunan musik gamelan yang dimainkan secara live.
Sebuah kedai dengan konsep tak biasa hadir menawarkan pengalaman berbeda di Surabaya. Sebelum kaki traveler benar-benar menapak masuk ke dalam kedai, alunan gending Jawa sudah lebih dulu menyapa dari kejauhan.
Suara itu mengalun pelan dari sebuah rumah di kawasan Jalan Dukuh Kupang, tepatnya di Jalan Dukuh Kupang 14 Nomor 10, Surabaya. Sepintas, tempat ini nyaris tak tampak seperti kedai kopi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak ada papan besar mencolok maupun desain industrial modern yang ramai. Bangunan bernuansa Jawa tersebut justru menyerupai rumah tua yang hangat.
Dari tampak depan, kedai ini terlihat rimbun dengan pepohonan besar yang menutupi sebagian bangunan. Namun di baliknya, terdapat kursi dan meja yang tertata rapi lengkap dengan area barista.
Tempat ini jauh dari pemandangan gedung-gedung tinggi yang lazim dijumpai di kota besar. Bernama Sasana Bhagavadgita, ruang ngopi ini tidak hanya menyajikan kudapan dan minuman, tetapi juga menjadi ruang refleksi bagi mereka yang sedang resah atau lelah dengan kebisingan kota.
Pengunjung bisa menikmati suasana di rumah bernuansa Jawa, lengkap dengan konsep joglo dan area lesehan yang hangat. Manajer Sasana Bhagavadgita, M. Mursyid Tamam (19) yang akrab disapa Tamam menjelaskan bahwa nama kedai ini tidak dipilih secara sembarangan.
"Sasana itu artinya tempat berkumpul. Sementara Bhagavadgita diambil dari kisah dalam kitab suci Hindu tentang kisah Krishna dan Arjuna di perang Mahabarata," ujarnya.
Kisah tersebut menggambarkan kebimbangan Arjuna yang harus melawan saudaranya sendiri, hingga akhirnya diyakinkan oleh Krishna. Filosofi itu kemudian diterjemahkan sebagai ruh dari kedai ini.
Sasana Bhagavadgita, Cafe Nyentrik di Surabaya yang Sajikan Gamelan dan Suasana "Rumah Kakek" Foto: Raihan Mahendra/ detikjatim) |
"Jadi dikomparasikan, tempat ini adalah tempat orang-orang yang bingung dan resah. Jadi ketika orang-orang tersebut mengunjungi Sasana Bhagavadgita, dengan harapan bisa dapat satu kepastian dari arti kehidupan. Seluruh overthinking lah kalau bahasa anak sekarang, di sini bisa dapat kepastian dengan ketenangan yang kami suguhkan," imbuhnya.
Salah satu elemen paling menonjol di tempat ini adalah gamelan asli berbahan kuningan yang merupakan koleksi pribadi keluarga pemilik dan telah berusia puluhan tahun.
Berbagai instrumen seperti gender, gong, kempul, kenong, kendang, suling hingga gambang tersusun di ruang utama yang sama dengan area pengunjung. Tidak ditempatkan di panggung formal, gamelan justru hadir dekat dengan pengunjung yang sedang menikmati kopi.
"Ada juga saron demung. Kebetulan hari ini kita adakan event, jadi dikeluarin. Kalau hari-hari biasa kita keluarin yang alusan saja, nggak pakai balungan saron demung tadi soalnya dipakai sanggar juga," kata Tamam.
Dengan pendekatan santai, gamelan diperkenalkan sebagai sesuatu yang dekat dan menyenangkan. Alunan gending diputar setiap hari, baik melalui speaker maupun dimainkan langsung pada momen tertentu.
Menariknya, gamelan di sini tidak hanya menjadi dekorasi. Pengunjung diperbolehkan menyentuh, mencoba, bahkan belajar memainkannya. Interaksi ini perlahan mengubah rasa takut menjadi rasa penasaran.
"Selama ini gamelan sering dianggap mistis atau horor. Padahal ya nggak gitu. Gamelan itu cuma besi dipukul," ujar Tamam.
Dipenuhi Barang-barang Antik Jadul
Nuansa Jawa tidak hanya hadir dari alunan gamelan, tetapi juga dari interior yang dipenuhi barang-barang lawas seperti mesin tik, telepon kabel, kaset beserta pemutarnya, mainan retro, hingga vespa tua.
"Nggak cuma gamelan sama wayang aja, tapi semua dekorasi lawas ini milik kakungnya owner. Kakung itu kan orangnya ngeman primpen," kata Tamam.
Nuansa Jawa ini bukan sekadar konsep. Rumah itu sejak awal memang dihuni keluarga yang dekat dengan dunia seni. Nuansa itu tetap dipertahankan meski sebagian ruang kini difungsikan sebagai kedai.
Suasana hangat ala "rumah kakek" di Sasana Bhagavadgita, kedai unik di Surabaya. Foto: Raihan Mahendra/ detikjatim) |
Oleh karena itu, semakin lama berada di Sasana Bhagavadgita, pengunjung tidak sekadar datang untuk ngopi, melainkan seperti sedang bertamu.
Salah satu pengunjung, Hera Marthaningdyah (52), mengaku senang dengan kehadiran kedai berkonsep Jawa tersebut.
"Bagus juga sih, jadi kita mengenalkan budaya ke kalangan muda yang sekarang sukanya modern gitu. Dengan kedai ini, mereka bisa berkarya, pentas kecil-kecilan seperti ini, jadi pengunjung apalagi yang suka dengan alunannya, merasa nyaman," kata Hera.
--------
Artikel ini telah naik di detikJatim.
(wsw/wsw)














































Komentar Terbanyak
Bisa-bisanya Predator Seks Pati Ngaku Lagi Jalani Ritual di Makam Raden Gunungsari
Jumlah Turis Asing Melancong ke RI Naik, Terbanyak dari Malaysia
Gemas, 2 Ekor Harimau Lahir di Taman Satwa Lembah Hijau Lampung