Kawasan Kota Tua Jakarta boleh dibilang gudang harta karun yang menyimpan lapisan-lapisan sejarah memikat yang menanti untuk dijelajahi. Termasuk, Museum Wayang.
Museum Wayang menonjol sebagai salah satu bangunan paling ikonik di kawasan ini. Sungguh mengejutkan mengetahui bahwa bangunan bergaya kolonial ini dulunya adalah sebuah gereja tua, yang pernah menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi tokoh-tokoh penting VOC, termasuk Jan Pieterszoon Coen.
Sebuah tinjauan komprehensif mengenai peran yang terus berkembang dari bangunan ini disajikan dalam tur jalan kaki bertajuk "Oud Batavia en Omstreken: Then & Now," yang diselenggarakan oleh Free Guided Tour UPK Kota Tua.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ceritanya itu cukup panjang dan completely different dengan institusi atau gedung yang kita lihat sekarang," ujar Gilang Ramadhan, pemandu (guide) tur tersebut saat menjelaskan di depan Museum Wayang Jl. Pintu Besar Utara No. 27, Kota Tua, Jakarta Barat, Selasa (7/4/2026).
Bermula dari Gereja Belanda Kuno
Museum Wayang bersolek dan kini menjadi makin cantik. Begini potretnya. (Pradita Utama) |
Asal-usul Museum Wayang dapat ditelusuri hingga 1640. Pada masa itu, pemerintah kolonial membangun sebuah tempat ibadah yang dikenal sebagai Gereja Belanda Kuno (De Oude Hollandsche Kerk).
Seiring berjalannya waktu, struktur bangunan tersebut mulai menunjukkan tanda-tanda kerusakan, sehingga dilakukan renovasi dan perluasan pada abad ke-18, yang berujung pada pendirian Gereja Belanda Baru (De Nieuwe Hollandsche Kerk).
Namun demikian, keberadaan gereja tersebut tidak ditakdirkan untuk bertahan selamanya. Pada tahun 1808, pusat administrasi Hindia Belanda berpindah dari Batavia (Kota Tua) ke kawasan Weltevreden, yang kini dikenal sebagai Jakarta Pusat.
"Kebutuhan gereja di sana sudah dianggap tidak relevan lagi. Akhirnya gedungnya dihancurkan karena mereka membangun gereja-gereja lain di Weltevreden," kata Gilang.
Sebuah perusahaan bernama Geo Wehry & Co. kemudian mengakuisisi tanah dan reruntuhan yang tersisa. Kini, sebuah gudang berdiri di lokasi bekas gereja tersebut, dan strukturnya masih dapat dilihat hingga saat ini.
Berkembang Menjadi Museum Batavia Lama
Wisatawan mengunjungi Museum Wayang di kawasan Kota Tua, Jakarta Pusat (Pradita Utama/detikcom) |
Sejarah bangunan tersebut berlanjut setelah itu. Pada tahun 1930-an, Bataviaasch Genootschap, sebuah perkumpulan cendekiawan di Batavia yang berfokus pada ilmu pengetahuan, seni, dan sejarah, mengakuisisi gudang tersebut.
Komunitas ini, yang didirikan sebagian oleh Jacob Radermacher dan pernah dipimpin oleh Thomas Stamford Raffles selama invasi Inggris pada tahun 1811, telah berkembang menjadi sebuah museum.
"Komunitas ini membeli gedungnya untuk dibuat Museum Batavia Lama yang menceritakan Batavia1600-an dan 1700-an. Museumnya resmi dibuka pada 1939," kata Gilang.
Itu dibuktikan dengan plakat peninggalan bertuliskan Museum Batavia Lama 1939-1974 yang masih tersimpan di area museum.
Setelah kemerdekaan Indonesia, pada 1975, bangunan ini direnovasi dan diresmikan oleh Gubernur Jakarta saat itu, Ali Sadikin, sebagai Museum Wayang yang kita kenal sekarang.
Sisa-sisa makam milik Gubernur Jenderal VOC
Satu hal yang sering membuat para wisatawan sedikit merinding adalah adanya sebuah nisan kuno di dalam museum. Secara historis, Gereja Belanda Kuno berfungsi ganda sebagai tempat ibadah dan tempat pemakaman bagi para Gubernur Jenderal VOC beserta keluarganya.
Saat memasuki bagian awal Museum Wayang, pengunjung masih dapat melihat deretan nisan asli yang ditata dengan jelas di taman dalam ruangan. Nisan Jan Pieterszoon (J.P.) Coen menonjol secara mencolok, menandai warisan pendiri Batavia, yang berperan penting dalam pendirian kota tersebut.
Sebuah plakat bertuliskan "Gereja Belanda / De Hollandsche Kerk (1640-1732)" menandai tempat peristirahatan terakhir J.P. Coen. Bersama Coen, nisan-nisan Gubernur Jenderal lainnya, termasuk Gustaaf Willem Baron van Imhoff dan Abraham Patras, tetap dalam kondisi sangat baik.
"Kenapa nisannya masih utuh? Karena ketika gereja mengalami renovasi dan berganti institusi, nisan-nisan ini diselamatkan. Sebagian besar dipindah ke Museum Taman Prasasti, tapi selebihnya masih ada di sini," kata Gilang.
Lalu, di mana kita bisa menemukan jenazahnya? Gilang melaporkan bahwa yang tersisa hanyalah nisan. Jenazah yang dimakamkan di bawahnya sebagian besar telah membusuk selama berabad-abad, dikremasi, atau tulang belulangnya telah dikembalikan kepada ahli waris yang berhak.
Apakah traveler tertarik untuk mengunjungi nisan J.P. Coen secara langsung sambil menjelajahi dunia wayang di jantung Kota Tua yang semarak? Museum Wayang menawarkan kesempatan yang sangat baik untuk wisata akhir pekan yang penuh dengan pengalaman bermakna!
(fem/fem)














































Komentar Terbanyak
Ibu Kota Negara Tetap di Jakarta, IKN Jadi Apa?
Meresahkan, Rombongan Pendaki Karaoke di Puncak Gunung Andong
Prabowo: Jangan Terlalu Kagum pada Bangsa yang Kaya dari Merampas Bangsa Lain