Surabaya bukan sekadar metropolitan yang bising oleh deru klakson dan kesibukan industri. Jika kamu bersedia melipir sejenak dari jalan protokolnya, Kota Pahlawan ini menyimpan sebuah kapsul waktu bernama Kelurahan Peneleh.
Di balik dinding-dinding kampung tuanya, takdir seorang muda yang kelak mengguncang dunia sebagai proklamator Indonesia pernah dimulai dari sini.
Langkah kaki pertama akan membawamu ke Jalan Pandean Gang IV Nomor 15. Suasana ramah khas perkampungan langsung menyergap, sebuah kontras yang menenangkan dari wajah Surabaya yang terik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di dalam gang sempit yang hanya cukup dilewati dua motor inilah berdiri "Rumah Lahir Bung Karno". Bangunan mungil berbalut cat putih bersih ini menjadi saksi bisu jeritan pertama sang bayi yang kelak dijuluki Putra Sang Fajar.
Ir. Soekarno merupakan Presiden RI yang pertama. Ia disebut Bapak Proklamator karena memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di tahun 1945. Foto: Nanda Syafira |
Begitu melewati pintu masuk, sebuah mural silsilah keluarga berukuran besar siap menyambut, membawa ingatan kita mundur ke masa awal pernikahan orang tua Sukarno.
Pemerintah Kota Surabaya telah menata apik interior rumah ini dengan menyisipkan sudut-sudut informasi digital dan visual interaktif tanpa menghilangkan kesederhanaan aslinya. Kabar baiknya, siapa pun boleh bertamu dan bernapak tilas ke tempat bersejarah ini secara cuma-cuma tanpa dipungut biaya tiket masuk.
Kosan-kosan di Atas Loteng
Hanya butuh berjalan santai sekitar 15 menit menyusuri tepian sungai, kamu akan tiba di Gang VII Peneleh. Di sana bertengger kediaman tokoh pergerakan legendaris, Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto, yang kini menjelma menjadi Museum Tjokroaminoto.
Rumah ini adalah "kawah candradimuka" bagi Sukarno remaja. Di sinilah ia ngekos, berdiskusi, dan menyerap pemikiran tajam dari sang guru bangsa.
Daya pikat Tjokroaminoto kala itu memang luar biasa kuat bagi generasi muda yang haus akan kemerdekaan.
"Banyak anak muda yang tertarik dan ingin belajar dengan Pak Tjokro. Termasuk tokoh-tokoh yang tinggal di sini, ada Sukarno, Kartosuwirjo, Semaoen, Muso, dan Alimin," kata edukator museum, Haris kepada detikTravel saat berkunjung ke sana beberapa waktu lalu.
Museum Tjokroaminoto di Kelurahan Peneleh, Surabaya Foto: (Muhammad Lugas Pribady/detikcom) |
Bagian paling magis dari rumah ini berada di lantai atas. Meniti tangga kayunya yang berderit, kamu akan sampai di sebuah ruang loteng yang sempit dan minim cahaya. Di kamar sederhana yang dulunya hanya beralaskan tikar dan diterangi temaram lampu teplok inilah, para pemuda dengan berbagai pemikiran ekstrem tidur berdampingan.
Di sinilah Sukarno muda melatih gestur tubuh dan vokal orasinya di depan cermin, sebelum akhirnya menjelma menjadi singa podium yang menggetarkan dunia.
Ruangan ini adalah bukti nyata bagaimana pergerakan besar Indonesia lahir dari sebuah kamar kos yang bersahaja.
"(Di sini tempat) tokoh-tokoh berbagai ideologi, ada yang nasionalis, ada yang agamis, dan tiga orang komunis. Kalau anak-anaknya Pak Tjokro di bawah sana sama Pak Tjokro dan istrinya," kata Haris sambil menunjuk ke arah atas dan area samping.
Jika tertarik merasakan langsung getaran sejarah di Museum HOS Tjokroaminoto ini, kamu bisa berkunjung antara hari Selasa sampai Minggu dari jam 08.00 pagi hingga 15.00 sore. Cukup siapkan dompet digital atau uang tunai sebesar Rp5.000 untuk tiket masuk, kamu sudah bisa pulang membawa pemahaman baru tentang bagaimana sebuah bangsa besar dirajut dari balik gang-gang senyap Surabaya.
(bnl/ddn)













































Komentar Terbanyak
Femas, Pemuda Madiun yang Kabur dari Tur di Korea Terdeteksi di Masjid
Terpopuler: Pemuda Madiun yang Kabur dari Tur di Korea Sempat Terdeteksi di Masjid
Viral di Medsos, Peserta Tur Asal Madiun Diduga Kabur Saat Liburan ke Korea Selatan