Salak menjadi ikon Kabupaten Minahasa Tenggara, sehingga kabupaten ini dikenal sebagai kabupaten salak. Buah salak yang dihasilkan petani Desa Pangu, Kecamatan Ratahan Timur dijual ke pasar-pasar di Sulawesi Utara bahkan dikirim ke luar negeri.
Bertani salak memang sudah menjadi mata pencaharian seluruh masyarakat Desa Pangu dan mereka punya kebun salak. Luas Kebun Salak yang sudah berproduksi sekitar 500 hektare. Perkebunan tersebut terbentang di lembah curam di tepi jalan seputaran wilayah Desa Pangu yang terdiri dari Pangu Induk, Pangu Satu, dan Pangu Dua.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kebun salak di Desa Pangu oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Minahasa Tenggara dipromosikan sebagai destinasi agrowisata.
Aktivitas yang dapat dilakukan traveler di agrowisata salak ini yaitu memetik salak segar langsung dari pohonnya di area perkebunan, belajar budaya langsung dari petani salak, menikmati udara pegunungan yang sejuk dengan pemandangan hijau serta mengenal inovasi produk khas desa seperti dodol salak.
Ketersediaan buah salak di melimpah, karena memang salak pangu dikenal cepat berbuah, antara 3 - 4 tahun. Kegiatan pemanenan buah salak ini bisa dilakukan 2 kali dalam sebulan. Sekali panen dalam satu hektar bisa menghasilkan sekira 625 - 1.000 kg buah salak.
Varietas salak yang ditanam di Desa Pangu yaitu amboinensis. Terdapat dua jenis yaitu salak dengan bentuk bulat dan warna agak kehitam-hitaman setelah matang. Teksturnya renyah dan rasa manis lebih menonjol dan rasa asam terasa sedikit kurang menonjol ketika di makan.
Salak dengan bentuk bulat lonjong dan warna agak kemerah-kuning-kuningan setelah matang, teksturnya renyah rasa asam lebih dahulu terasa ketika di makan lalu di ikuti oleh rasa manis.
----
Hari Suroto
Penulis bekerja di Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Utara










































