Jalan Depan Gedung Sate Ditutup, Wajah Baru Kawasan Gasibu Bandung Bikin Pangling

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Jalan Depan Gedung Sate Ditutup, Wajah Baru Kawasan Gasibu Bandung Bikin Pangling

Bima Bagaskara - detikTravel
Selasa, 18 Agu 2026 13:09 WIB
Pasanggrahan Pancarasa, wajah baru Gedung Sate
Foto: Bima Bagaskara/detikJabar
Bandung -

Pelataran Gedung Sate kini memiliki wajah baru. Area yang sebelumnya menjadi bagian dari halaman depan Gedung Sate tersebut kini diberi nama Pasanggrahan Pancarasa dan tersambung langsung dengan Lapangan Gasibu, Kota Bandung.

Setelah menjalani revitalisasi selama kurang lebih empat bulan, Pasanggrahan Pancarasa resmi dibuka untuk umum. Pelataran ini sebelumnya digunakan sebagai salah satu lokasi upacara peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia pada Senin (17/8/2026).

Perubahan terlihat cukup mencolok di kawasan tersebut. Akses antara pelataran Gedung Sate dan Lapangan Gasibu kini terasa lebih terbuka setelah dibangun jalan baru yang mengelilingi area lapangan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Terdapat pula gazebo berbahan bambu yang menjadi elemen baru di kawasan tersebut. Ruang terbuka hijau di sekitar pelataran juga ditata ulang sehingga memberikan kesan yang lebih lapang.

Jalan Depan Gedung Sate Ditutup

Sementara di ujung Jalan Diponegoro, terdapat gapura baru yang menjadi penanda kawasan. Jalan tersebut kini ditutup sehingga wajah depan Gedung Sate dan kawasan Gasibu terasa lebih menyatu.

ADVERTISEMENT

Pantauan pada Selasa (18/8/2026) siang menunjukkan belum banyak masyarakat yang datang untuk menikmati kawasan tersebut. Sejumlah bagian juga masih dalam proses perapian setelah digunakan untuk rangkaian kegiatan peringatan HUT ke-81 RI.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengatakan nama Pasanggrahan Pancarasa dipilih bukan tanpa alasan. Menurutnya, istilah pasanggrahan memiliki makna sebagai tempat berkumpul.

"Pelataran namanya Pasanggrahan Pancarasa. Pasanggrahan itu tempat berkumpul, alun-alun. Dulu, berkumpulnya di pasanggrahan itu orang-orang yang menggunakan kuda di era kerajaan," kata Dedi.

Sementara kata "Pancarasa", kata Dedi, berkaitan dengan lima indra dan rasa yang dimiliki manusia.

--

Artikel ini sudah tayang di detikJabar, baca selengkapnya di sini.



(ddn/ddn)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads