Makam Leluhur Duta Sheila On 7 di Tondano, Jadi Destinasi Religi

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Makam Leluhur Duta Sheila On 7 di Tondano, Jadi Destinasi Religi

Hari Suroto - detikTravel
Minggu, 06 Sep 2026 22:17 WIB
Tondano memiliki destinasi wisata religi yang wajib dikunjungi. Destinasi tersebut adalah makam Kiai Modjo, yang ternyata merupakan leluhur Duta Sheila on 7.
Foto: Hari Suroto
Minahasa -

Tondano, Minahasa, Sulawesi Utara, memiliki destinasi wisata religi yang wajib dikunjungi traveler saat berkunjung ke Manado. Destinasi tersebut adalah makam Kiai Modjo, yang ternyata merupakan leluhur vokalis band Sheila On 7, Akhdiyat Duta Modjo atau Duta.

Untuk menuju Tondano, traveler dapat mengikuti rute Jalan Raya Manado-Tomohon dengan perkiraan waktu tempuh sekitar 1 jam 16 menit dari pusat Kota Manado.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kiai Modjo dikenal sebagai jenderal perang sekaligus guru spiritual Pangeran Diponegoro. Kiai Modjo merupakan salah satu pengatur strategi militer saat melawan Belanda ketika Perang Jawa meletus pada 1825 hingga 1830. Kiai Modjo meninggal di Tondano pada 20 Desember 1849 dalam pengasingan oleh Belanda.

Makam Kiai Modjo terletak di atas Bukit Tondata, Desa Wulauan, Kecamatan Tondano Utara, sekitar empat kilometer dari pusat Kota Tondano. Kompleks makam ini memiliki nuansa dan arsitektur bergaya Jawa yang berpadu harmonis dengan suasana perbukitan Minahasa. Tempat ini juga menjadi simbol kerukunan beragama dan akulturasi budaya.

ADVERTISEMENT

Kompleks makam tersebut dikelilingi makam para pengikut setia Kiai Modjo yang turut diasingkan bersamanya. Selama berada di pengasingan, Kiai Modjo turut menyebarluaskan ajaran Islam di Tondano. Kawasan tempat pengasingan Kiai Modjo di Tondano kini dikenal sebagai Kampung Jawa Tondano (Jaton).

Destinasi wisata religi Makam Kiai Modjo buka setiap hari. Untuk berkunjung ke tempat ini, traveler dapat menghubungi juru pelihara yang ditugaskan oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Utara.

---

Hari Suroto

Penulis bekerja di Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Utara.



(ddn/ddn)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads