Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 18 Des 2015 08:45 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Buaya Tete Paling Mengerikan di Maluku

Afif Farhan
Redaksi Travel
Buaya Tete di Museum Kelautan Siwalima (Afif/detikTravel)
Buaya Tete di Museum Kelautan Siwalima (Afif/detikTravel)
Ambon - Jangan tertawa mendengar nama Buaya Tete. Ini adalah buaya paling mengerikan yang pernah membunuh 10 orang. Turis bisa melihat tubuhnya yang sudah diawetkan saat liburan ke Ambon.

Tempat untuk melihatnya adalah di Museum Kelautan Siwalima. Lokasi museumnya, bertetangga dengan Museum Siwalima di Jl Taman Makmur, Kecamatan Nisa Niwe, Kota Ambon.

Seperti yang detikTravel datangi ke sana pekan lalu, Museum Kelautan Siwalima sedang dironevasi. Koleksinya sebagian ditaruh di lantai 2 Museum Siwalima.

Ketika memasuki bagian dalamnya, terpampang jelas aneka kehidupan bawah laut di Maluku. Tepat di bagian tengahnya, mata ini terbelalak melihat seekor buaya yang berukuran besar dan ada peringatan jangan dipegang. Buaya asli atau hanya replikakah?


Penampakan Buaya Tete (Afif/detikTravel)

"Ini buaya asli yang telah mati dan diawetkan. Masyarakat menyebutnya Buaya Tete," ujar pemandu museum, Thommy Papuling.

Thommy langsung menceritakan tentang Buaya Tete. Buaya Tete merupakan buaya muara yang berada di kawasan Buru Utara Timur, Pulau Buru. Pada sekitar tahun 1980-an, buaya ini menjadi teror bagi masyarakat setempat.

"Dia memangsa 15 orang. 10 Orang tewas dan 5 sisanya luka-luka serta ada yang cacat seumur hidup. Buaya ini mengerikan, karena kala itu panjangnya diperkirakan bisa 4 meter," papar Thommy.

Tahun 1987 tepatnya di tanggal 17 Juli, Polsek Buru Utara Timur dan TNI AD Kompi 731 Kabaresi Jiku memilih angkat senjata. Karena buayanya sudah dianggap berbahaya, mereka pun berencana untuk membunuhnya.

"Dengan memakai kambing sebagai umpannya, Buaya Tete ditembak mati. Saya kurang tahu kena di bagian mananya," ujar Thommy.

Satu bulan kemudian, Buaya Tete dipamerkan di Pameran Pembangunan. Selanjutnya di tahun 1991, Korem 174 Pattimura menyerahkan buayanya kepada Museum kelautan Siwalima. Berarti, buaya tersebut sudah menghuni museumnya sekitar 24 tahun lamanya.


Panjangnya mencapai 4 meter (Afif/detikTravel)

Bentuk buayanya pun masih baik. Kulitnya yang tajam dan giginya yang menyeramkan terlihat jelas. Ukurannya memang tidak main-main, sangat besar. Tak terbayangkan, bagaimana jika bertemu buaya yang masih hidup sebesar ini.

"Sebenarnya, ukuran yang sekarang itu sudah menyusut dibanding dulu. Kalau ditanya masih ada atau tidak buaya sebesar ini di Pulau Buru sana, kita tidak tahu. Pulau Buru memang terkenal dengan buayanya," tutup Thommy.

(aff/fay)
BERITA TERKAIT
Load Komentar ...
NEWS FEED