Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 09 Agu 2011 11:11 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Moyang Kami adalah Gunung Ile Mandiri

d'travelers
Garis batas sekitar tanah lapang
Garis batas sekitar tanah lapang
detikTravel Community -

Di sebelah timur kota Larantuka, anda dapat menemukan sebuah desa adat. Desa ini bernama, desa Mudakeputu. Untuk mencapai desa ini dibutuhkan waktu tempuh kurang lebih 1jam. Sepanjang perjalanan menuju desa itu, tampak garis pantai yang membatasi Kota Larantuka dengan laut. Saat kami menuju kesana, hujan sesaat mengguyur dengan lebat.

Memasuki sebuah perkampungan yang tidak terlalu ramai aktifitas warganya, kami mencoba mencari dimana letak pasti desa tersebut. Mobil melaju hingga ke batas paling ujung perkampungan itu. Sempat terpikir bahwa kami akan kehilangan letak pasti desa tersebut. Akhirnya, kami memutuskan berbalik arah untuk mencoba mencari kantor desa. Separuh perjalanan, kami menemukan kantor itu.

Mencoba bertanya adalah sebuah pilihan tepat. Masih ingat di kepala tentang istilah "malu bertanya sesat di jalan", tapi terkadang aku menggantinya dengan "Malu bertanya, jangan bertanya". Kami menemui seorang lelaki paruh baya yang bernama Pak Yosef, tanpa dinyana dia adalah kepala dusun Uluwai. Dusun yang masih menjadi bagian Desa Mudakeputu.

Dengan senyum ramah khas orang Flores dan suara sedikit nyaring seperti mau baku hantam, dia mengantarkan kami menuju sebuah tanah lapang. Yang di pinggiran tanah lapang itu dibatasi dengan batu - batu gunung yang berbentuk ceper. Di bagian depan tanah lapang yang bergundukan itu, kami melihat sebuah tumpukan batu - batu besar yang menyerupai sebuah meja rapat. Dan disekeliling "meja" itu, ada tumpukan 8 bagian batu - batu ceper yang mirip sebuah kursi. Tentunya bukan kursi yang empuk seperti di rumah.

"Sebelum Portugis datang, disinilah pusat pemerintahan Larantuka", kata dia. Dari kalimat pembuka setiba di tanah lapang itu, Pak yosef mulai menjelaskan tentang sejarah yang ada di desa ini. Batu bertumpuk yang mirip meja itu biasa disebut sebagai Batu Nuba. Batu yang sudah ada sejak desa ini dijadikan sebagai pusat pemerintahan. Delapan tumpukan batu ceper yang memiliki sandaran dan menyerupai kursi itu, adalah simbol sebagai delapan raja yang ada di wilayah Larantuka. Tempat ini biasa digunakan sebagai tempat pertemuan untuk para raja berdiskusi soal pemerintahan dan administrasi kenegaraan. Ada delapan raja yang mewakili dari delapan suku. Suku - suku itu adalah, suku Ile Weking, Amakelen, Amamaran, Lewoletan, Maranbele, Amakoten, Amabaun dan yang terakhir adalah suku Lewoletan Tuhahutung.

Dari legenda yang sudah diceritakan secara turun - temurun, pak yosef mengatakan bahwa "Moyang kami adalah gunung Ile Mandiri". Gunung itu memiliki 7 orang anak, 5 orang laki laki dan 2 orang perempuan. Anak-anak dari Ile Mandiri menyebar ke seluruh Larantuka dan sekitarnya untuk beranak pinak hingga membentuk sebuah masyarakat pada jaman dahulu. Yang pemerintahan dari masyarakat itu dikuasai oleh keturunan-keturunan Ile Mandiri.

Semenjak bangsa Portugis tiba di Flores dan memasuki wilayah Larantuka dan sekitarnya. Kekuasaan para raja-raja ini tersingkir dengan adanya perebutan kekuasaan yang dimotivasi oleh unsur perdagangan pada jaman itu. Lambat laun kekuasaan para raja-raja itu hanya sebatas wilayah desa ataupun dusun yang ada disekitar Mudakeputu.
Batu besar representasi dari kekuasaan raja-raja pada jaman dulu masih tertancap di tanah lapang desa. Para penduduk desa meyakini bahwa, apabila desa mereka harus pindah dari wilayah itu. Mereka harus membawa batu-batu itu dan memasang kembali di wilayah baru yang akan ditempati. Sebagai simbol bahwa kekuasaan dan kesatuan dari para delapan raja masih tetap ada hingga anak pinak. |Tim NTT 1|simbah & utine| 

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED