Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 13 Mei 2011 14:53 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Bermain Petak Umpet dengan dua gadis cilik Kamboja di Angkor.

Taufik Hidayat
d'travelers
image570.jpg
image570.jpg
detikTravel Community - Go to Angkor, my friend, to its ruins and to its dreams P. Jennerat de Beerski dalam bukunya Angkor, Ruins in Cambodia, menyeru kepada kita untuk berkunjung ke Angkor, ke reruntuhannya dan ke mimpinya Seruan ini pula yang kemudian membawa saya ke Kamboja, atau Cambodia di awal bulan Agustus yang terik.

Setiap kali melihat bendera Kamboja, kita tidak dapat melewati gambar Angkor Wat dengan tiga menara yang menawan, Sebelum berkunjung ke Angkor, saya selalu berfikir bahwa hanya ada dua monumen yaitu Angkor Wat dan Angkor Thom, demikianlah yang saya pelajari waktu di sekolah menengah. Namun setelah berkunjung ke Angkor, barulah saya sadar bahwa kompleks Angkor dengan luas lebih dari 200 km2 di Kamboja barat-laut ini terdiri lebih dari ratusan candi yang tidak akan habis kita kunjungi dalam waktu satu minggu sekalipun.

Setelah berkunjung ke Angkor Wat pula kita tahu bahwa sesungguhnya jmlah menaranya ada 5 bukan hanya 3 seperti di bendera. Sekilas mengenai Kamboja. Banyak versi tentang negri berpenduduk sekitar 12 juta yang sangat kita kenal dengan Norodom Sohanouk dan Putri Monique yang cantik ini. Ada yang menyebutnya Kampuchea, Cambodia, Khmer dan kadang-kadang Angkor.

Dalam bahasa Sanskrit, negri ini desibut sebagai Kambujadesa atau Kambuja. Dengan versi ini maka orang Prancis menyebutnya sebagai Cambodge atau Cambodia menurut versi Inggris. Ibu kota negri ini disebut Phnom (bukit) Penh yang terletak di sebelah selatan negri ini. Namun penduduknya sendiri lebih terkenal dengan sebutan orang Khmer dan bahasanya pun disebut sebagai bahasa Khmer.

Nama Angkor sendiri merupakan versi bahasa Khmer untuk Nagara (negri) dalam bahasa Sansekerta. Angkor sendiri merupakan pusat pemerintahan kuno yang saat ini terletak di Kota dan Propinsi yang dikenal dengan nama Siem Reap (artinya yang dikalahkan orang Siam). Kota Siem Reap sendiri saat ini merupakan pintu gerbang untuk mengunjungi kompleks Angkor dan hanya terletak 6 km di selatan kompleks Angkor.

Visa on Arrival dengan tulisan tangan: Tidak sampai 1 jam setelah tinggal landas dari Bandara Suvarnabum Bangkok, pesawat Airbus 320 Bangkok Airways saya mendarat dengan mulus di Bandara International Siem Reap di pagi yang cerah di awal Agustus yang terik.

Formulir permohonan Visa on Arrival (VOA) telah kami dapatkan sewaktu cek in di Bangkok, dengan selembar foto 4 x 6 dan biaya USD 20 kita harus mengantri sesampainya di Bandara Siem Reap. Prosesnya sendiri sangat cepat karena banyak sekali petugas yang mengerjakannya. Hasilnya tidak sampai 5 menit nama pemohon akan dipanggil dan Visa on Arrival telah selesai tertempel di paspor saya.

Setelah memeriksa saya sedikit terkejut karena Visanya sendiri hanya ditulis dengan tulisan tangan. Bandara Siem Reap sendiri tampak baru selesai direnovasi, terkesan cukup rapih namun efisien, tentu saja sangat kecil dibandingkan dengan Bandara Suvarnabum yang besar dan megah di Bangkok.

Di arrival hall pengemudi saya, Thie Ra, telah menunggu untuk mengantar ke Prince D Angkor Hotel di Sivutha Boulevard yang memang telah kami pesan dari Bangkok. Sok sa bai atau apa khabar adalah kata pertama yang diucakpannya selain swakom yang artinya selamat dating. Perjalanan dari Bandara ke kota hanya sekitar 15 menit dan jangan lupa, di Kamboja, lalu lintas berkendara di sebelah kanan sehingga kita harus ektra hati-hati karena sering mengengok kearah yang salah waktu menyebrang jalan.

Pas langsung jadi yang berlaku tiga hari: Setelah beristirahat sebentar di Hotel, dengan mobil Toyota Camry yang tampaknya sudah agak tua, kami segera menuju komplek Angkor yang jaraknya kira-kira 6 km dari pusat kota Siem Reap menyusuri Sivutha Boulevard. Diujung jalan ini terdapat Jayavarman VII hospital untuk anak-anak yang cukup mencolok bangunannya. Di pintu gerbang kita harus membeli tiket masuk dengan beberapa pilihan.

Tiket satu hari seharga USD 20 tanpa foto, Pas 3 hari dapat kita miliki dengan membayar USD 40. Uniknya kita akan difoto langsung digerbang itu dan dalam waktu 1 menit maka pas masuk telah selesai dengan foto kita sehigga pas tersebut tidak dapat digunakan oleh orang lain. Pas masuk akan berlaku selama tiga hari dan dengan jelas tertulis berlaku sampai dua hari kemudian.

Pas ini dikeluarkan oleh Apsara Authorithy bekerjasama dengan Sokha Hotel Co. Apsara sendiri merupakan dewi , penari surga yang amat dihormati dalam mitologi Khmer. Pas harus ditunjukan setiap kali masuk ke kompleks candi atau sesuai permintaan petugas. Sementara itu penduduk lokal bebas keluar masuk kompleks karena mereka pun sebagian besar tinggal di sekitar bangunan.

Setelah selesai difoto, saya ucapkan O khun (terima kasih) dan tiga gadis penjaga pintu gerbang tertawa ramah sambil berkata bahwa karena saya mirip orang Khmer maka sesuangguhnya saya dapat masuk tanpa membeli tiket. Dengan demikian bermulailah perjalananan panjang menyelusuri, mempelajari, menghayati, sekaligus mendaki ratusan candi di Angkor.

Dalam kompleks yang luasnya lebih dari 200 km persegi, kompleks Angkor lebih tepat disebut sebagai hutan dengan sebaran candi, monument, kuil, dan bangunan lainnya yang menjadi satu dengan sawah, dan pemukiman penduduk. Transportasi umumnya berupa motto atau becak motor yang lebih tepat motor digandeng dengan becak yang dapat kita sewa dengan sekitar 10 USD per hari.Namun menggunakan mobil akan lebih cepat nyaman dan aman dan dapat kita sewa dengan USD 25 per hari.

Selain itu banyak juga turis yang menggunakan sepeda untuk mengunjungi candi-candi di Angkor. Monumen dan Candi di Angkor Thommanon Dari sekian banyak monument, ada beberapa yang tidak boleh dilewatkan, tergantung waktu yang kita miliki. Kunjungan pertama saya di siang hari itu adalah ke Thommanon, yang tertelak tidak jauh diseblah timur Pintu Gerbang Kemenangan Angkor Thom.

Monumen ini memiliki gaya Angkor wat dan dibangun pada masa Suryavarman II pada pertengahan pertama abad 12. Melihat candi ini, kita banyak melihat persamaan dengan candi-candi hindu di jawa tengah dan jawa timur. Bentuk ukirannya mirip dengan candi Prambanan. Untuk perkenalan boleh menghabiskan sekitar 10 menit di candi ini, karena bangunannya tidak terlalu besar dan juga tidak terlalu banyak tangga untuk didaki.

Phnom Bakheng atau Bukit Bakheng: Replika Maha Meru Kalau Thomanon dapat dinikmati dengan santai, maka Replika Maha Meru, Bukit Bakheng ini nampak menjulang sangat tinggi, untuk mendakinya anda harus ektra hati-hati karena derajat kemiringan yang sangat curam, lebih dari 60 derajat dan undakan undakan yang sangat sempit.

Merupakan latihan yang sangat baik untuk kita agar dapat naik sampai kepuncak dan kemudian dengan leluasa memandang keindahan lima menara Angkor Wat dengan latar belakang Danau Tonle Sap di kejauhan. Momunen Hindu yang dibangun pada masa Raja Yasovarman I di akhir abad ke sembilan dan awal abad kesepuluh ini memiliki tinggi sekitar 67 meter dan terbagi dalam 7 tingkat yang melambangkan tujuh surga Indra dalam mitoligi Hindu.

Dalam bentuk aslinya terdpat 108 menara yang sekarang sebagian besar sudah runtuh. Monumen ini merupakan simetri yang paling sempurna dari seluruh monumen di Angkor. Mendaki Phom Bakheng, mengingatkankan saya akan Borobudur. Tentu saja Borobudur tampak jauh lebih indah dan megah dan dalam keadaan yang hampir sempurna.

Namun yang membuat kita tercengang adalah bentuknya yang lebih tampak seperti piramida di atas bukit, Hanya yang kuat dan memiliki kebernaian akan berhasil mendaki ke puncak dan menikmati pesona keindahan di atasnya. Makan Ayam Amok di tepi Kolam Renang Raksasa Srah Srang Sebelum melanjutkan perjalanan yang memerlukan banyak enerji, tentuya saya juga harus beristirahat untuk memulihkan tenaga.

Di tepi Shra Srang, atau tempat pemandian raja-raja Khmer jaman dahulu yang sangat luas, (raja Jayavarman VII akhir abad 12) , berukuran 700 x 300 m, terdapat sebuah restaurant yang namanya Khmer Family Restaurant. Nampak cukup bayak turis yang menikmati makan siang di sana dan menunya pun tertulis dalam bhs Inggris dan staff yang bisa berbahasa Inggris.

Menunya bermacam-macam termasuk masakan khas Khmer yaitu Amok. Ternyata amok adalah ayam yang diberi kuah santan dan dihidangkan didalam tempurung kelapa. Cukup lezat juga menikmati amok dan air kelapa muda dengan buaian angin semilir di tepi Srah Srang. Ta Prohm: Batu dan Hutan berpadu membentuk Keindahan Penuh Misteri Di awal sore ketika matahari mulai meredup, saya memasuki Ta Phrom dari pintu timur.

Ta Phrom merupakan monument yang sama sekali tidak disentuh oleh para arkeolog kecuali membersihkan jalur untuk pegunjung dan memperkuat struktur untuk mencegah keruntuhan lebih jauh. Karena itu, saya merasakan rasa kagum yang hampir sama dirasakan oleh para pengembara yang pertama kali menemukan monumen ini di pertengahan abad ke 19.

Terletak jauh di tengah hutan, dimana akar-akar pohon kapok dan beringin raksasa berusia ratusan tahun bersatu padu dengan bebatuan candi dan dibiarkan begitu saja sehingga seakan-akan memanggil kita untuk menjelajah kompleks ini dengan rasa ingin tahu yang besar namun saat kita akan meninggalkannya ada perasaan sedih karena keadaannya yang tinggal reruntuan.

Namun ada perasaan untuk datang lagi dan lagi. Kompleks ini merupakan kompleks terluas di Angkor yang dibangun Raja Jayavarman VII pada akhir abad 12 untuk memperingati ibu sang raja. Setelah puas menikmati harmoni batu dan pohon, kita dapat keluar menuju pintu gerbang barat, nampak jauh sekali saya harus berjalan dan ada sedikit rasa takut karena tidak ada seorang pun yang berjalan bersama, Dari kejauhan terdegan suara alunan musik tradisional Kamboja yang dimainkan oleh sekelompok orang yang menjadi korban peperangan dan juga korban ranjau darat.

Orang-orang dengan anggota tubuh yang tidak lengkap ini banyak sekali di Kamboja. Mereka mengharapkan kita untuk sekedar memberi uang ataupun membeli CD musik mereka. Kelompok ini banyak terdapat di hampir semua candi di kompleks Angkor. Sementara di pintu barat banyak anak-anak yang meneriakan one dollar one dollar sambil membujuk kita untuk membeli souvenir ataupun kartu pos yang mereka jajakan.

Angkor Thom: Kota Raja dengan lebih satu juta penduduk Pada masa jayanya, Angkor Thom, atau Negara atau Kota Besar. Merupkan pusat pemerintahan kerajaan Khmer. Dibangun oleh Jayavarman VII pada akhir abad 12, kota ini dikhabarkan memiliki lebih dari satu juta penduduk dan lebih besar dari semua kota di Eropah pada masa itu.

Kota ini dikelilingi oleh tembok setinggi 8 meter sepanjang sekitar 3 km di setiap sisinya dengan luas sekitar 154 hektar dan hanya dapat di akses melaului 5 gapura setinggi 23 meter. Ia dikelilingi oleh parit selebar lebih dari 100 mter dan dihubungkan dengan jematan batu yang dihiasi oleh 54 buah patung batu di kedua sisinya. 54 patung dewa di sebelah kita dan 54 patung iblis di sebelah kanan. Di komplek ini, terdapat beberapa tempat yang harus kita kunjungi antara lain Bayon, Baphoun, teras gajah dan teras raja kusta serta Istana Raja.

Bayon: 54 menara dengan lebih 200 wajah yang ada dimana-mana Candi ini terletak tepat di tengah-tenah Angkor Thom dan merupakan penghubung antara surga dan dunia. Tempat yang paling faovrit dikunjungi setelah Agkor Wat. Dibangun di atas bangunan yang tidak diketahui dan mengalami banyak perubahan setelahnya, candi Buddha ini terus mengagumkan pengjunjungnya karena memiliki 54 menara dengan lebih dari 200 wajah dipahat diatasnya dengan senyuman misterisus yang disebut the smiles of Angor.

Di Candi ini banyak terdapat pemuda/pemudi Kamboja berpakain apsara, hanuman dan sejenisnya yang mengajak kita berfoto bersama. Kita dapat mengambil 3 gambar dengan membayar 1 US Dollar.. Baphuon, Kalau Bayon disebut sebagai menara emas, maka baphuon disebut sebgaia menara perunggu dan lebih tinggi dari pada Bayon. Candi ini disebut juga sebagai replika maha Meru. Pada saat ini Candi Baphuon sedang mengalami restorasi besar-besaran yang diharapakan selesai pada 2009.

Angkor Wat. Ketika saya memasuki Angkor Wat dari pintu timur yang ternyata merupakan pintu belakang Angkor Wat, tidak ada seorang pun disekliling saya dan sejauh mata memandang, hanya Angkor Wat di kejauhan dan pepohonan besar di sekeliling saya. Tampak perasaan aneh seakan akan memasuki dunia yang lain/ Setelah berjalan sekitar 500 meter barulah saya sampai di bagian belakang dan melihat ukiran di dasar Angkor yang menggambarkan cerita dari Ramayana, Kemudian baru tampak serombongan turis dengan seorang pemandu.

Hujan mulai turun dan tampak sekelompok turis berteduh di bawah pohon yang saya lewati 5 menit sebelumnya. Angkor Wat, merupakan segala-galanya bagi bangsa Khmer, ia bahkan tertera dengan gagahnya di Bendera Kamboja. Ia merupakan sebuah kota, candi, Istana, bahkan mausoleum. Keindahannya dalam keadaannya saat ini, tidak ada bandingnya.

Kebesaran dan kemegahannya pun bahkan melebihi Firaun dan Shah Jahan,kesan yang ditinggalkan melebihi pyramid dan keindahan detail yang menyamai Taj Mahal. Demikianlah puja puji sebagian orang. Angkor Wat dibangun pada belahan pertama abad ke 12 oleh Raja Suryawarman II dan merupakan candi Hindu yang dipersembahkan bagi Wisnu. Namun dalam perjalanan sejarahnya dia juga menjadi candi Buddha pada sekitar abad 16 dan kemudian nama Wat ditambahkan ke padanya. Ketika ibu kota kerajaan dipindahkan ke Phnom Penh, Angkor Wat diserahkan sepenuhnya kepada para bisu Buddha.

Keindahan Angkor sukar dilukiskan dengan kata-kata sehingga saya pun mengunjunginya lebih dari satu kali. Phrea Khan Muy, Phi, Bay, Boen, Pram. Dua gadis cilik dengan bertelanjang kaki dan memakai baju yang sama, mungkin seragam sekolah dasar sedang bermain-main di tengah tengah bangunan candi Phrea Khan. Dua-duanya memliki paras cantik khas Kamboja dengan kulit sawo matang yang legam terbakar matahari.

Seorang diantanya membawa sekor binatang sejenis lutung yang tampak jinak. Mereka bermain petak umpet dengan menghitung satu sampai sepuluh sementara yang lain menghilang di antara pilar-pilar candi. Permainan itu sendiri mengingatkan saya akan masa kecil dimana permainan serupa juga sering dimainkan. Tampak sadar saya juga ikut mengucapkan Muy, phi, bay, boen, pram, pram muy, pram phi, pram bay, pram boen dst.

Hitung-hitungan dalam bahasa khmer itu sendiri baru saya pelajari sehari sebelumnya ketika Thea Ra, sopir saya selama diKamboja mengajarkan beberapa kata dalam bahsa Khmer. Mendengar saya ikut mengucapkan hitungan dalam bahasa Khmer tadi, kedua gadis cilik itu pun tidak sungkan mengajak saya bermain. Dan untuk sementara saya lupa kalau saya adalah turis melainkan tenggelam ke masa kecil yang telah lama berlalu.

Di tempat yang dibangun oleh Raja Jayavarman VII pada petengahan kedua abad ke12(1197) ini saya termenung, sesekali suara riuh dua gadis cilik tadi masih mampir ke telinga, tidak banyak pengunjung yang datang hanya ada satu turis yang mungkin dari Jepang sedang asik mengambil gambar detail ukiran di Phra Khan atau pedang suci ini. Kompleks Buddha seluas lebih 56 hektar ini dulunya merupakan kuil tempat para calon biksu belajar agama dan juga dibangun untuk menghormati ayah Jayavarman VII Dharanindravarman.

Menurut prasasti, Preah Khandibangun di tempat dimana Jayavarman VII mengalahkan orang Champa. Pada masa itu tempat ini dikenal dengan nama Nagara jayasri atau Negara Raja yang Jaya yang kemudian dalam bahasa Khmer menjadi Preah Khan atau pedang suci. Banteay Srei: Beneteng untuk perempuan Sekitar 30 km dari Siem Reap, kita dapat mengunjungi satu lagi candi yang cukup popular belakangan ini.Perjalananan cukup jauh dan melewati pedesaan. Hal yang cukup mencolok adalah banyaknya papan yang bertuliskan Cambodias People Party pimpinan Hun Sen.

Di pintu masuk candi sudah banyak rombongan turis dari Asia. Mungkin dari Korea karena terlihat pemadu yang berbicara bahasa Korea. Semuanya memakai pas masuk yang dikalungkan di leher. Di tempat ini lah baru saya melihat seorang petugas yang mendekati saya dan kemudian berbicara dalam bahasa Khmer yang saya tidak saya mengerti, menyadari saya tidak bisa berbahsa Khmer, baru dia berbicara bahasa Inggris menanyakan pas masuk saya. Pas masuk yang selalu saya simpan dalam saku pun saya tunjukkan. Bangunan yang bagaikan diukir dengan warna merahmuda ini seakai-akan dibuat untuk kaum hawa.

Dibangun pada masa Raja Rajendravarman II di akhir abad ke 10. Candi ini ukurnnya sangat kecil dibandingkan candi-candi Angkor lainnya, namun keindahannya sangat mengagumkan. Masih banyak candi-candi lain yang sempat saya kunjungi seperti Banteay Kdei, Neak Preah Rup, East Mebon,dan Neak Pean. Semuanya memilik keunikan dan keindahannya masing-masing. Suatu kunjungan yang memperkaya rasa keindahan kita dan juga pemahaman kita akan negri Kaboja.

Negri yang saat in berupaya giat untuk bangkit setelah berahun-tahun hancur lebur oleh perang yang tidak berkesudahan. Sekali lagi keramahan penduduknya todak mudah saya lupakan . Okun Kamboja. Tonle Sap: Danau terbesar di Asia Tenggara: Pada hari terakhir kunjungan saya di Siem Reap, kita sempat mengunjungi Tonle Sap.(Air Manis) Danau ini terletak kira-kira 20 km dari Siem Reap dan dihubungkan dengan Sungai Siem Reap. Jalan menuju Tonle Sap cukup baik, namun ketika mendekati danau jalan terasa kian buruk dan hanya berupa tanah yang diperkeras.

Di sebelah sisi jalan nampka perkampungan kumuh nelayan yang secara gamblang memperlihatkan kemiskinan yang masih dominan sekali di negri yang pernah cukup maju secara ekonomi de tahun 1960 an ini. Kami harus membayar usd 25 untuk sewa perahu motor yang kita bayar dulu di Siem Reap. Dan dengan perahu ini kita menyusuri sungai Sieam Reap, dengan perkampungan nelayanan di kedua sisinya. Diperkampungan yang juga dihuni orang dari Viet Nam ini, nampak segalanya ada , selain rumah-rumah terapung, pasar, sekolah, bahkan tampak juga sebuah lapangan basket dan gereja terapung.

Akhirnya sampailah kita di Tonle Sap, danau ini kian luas sehingga tidak tampak tepinya dan nampak bagaikan laut. Konon kita juga dapat berlayar sampai ke Pnom Penh melalui Tonle Sap ini. Di tengah danau, perahu kita akan didekati perahu-perahu kecil ang mejual minuman ringan dan makanan kecil. Dalam prahu, penumpangnya hanya saya dan Thie Ra, pengemudi perahu dibantu oleh seorang anak tanggung berusia sekitar 13 tahunan yang nampaknya memanfaatkan perjalanan ini untuk sekalian bermain dan berenang dengan teman-temannya.

Setibanya di dekat danau dia mulai melepaskan baju dan berenang sepuasnya. Anak itu hanya kembali ke perahu ketika kami hendak balik menuju pangkalan perahu. Shopping di Siem Reap Cukup banyak yang dapat dilakukan di Siem Reap di antaranya dengan menikmati tarian tradisional sambil menikati makan malam di Restoran Khoulien. Atau kita juga dapat mengunjung Angkor Night Market yang terletak di Sivutha Boulevard dekat Pasar Tua atau Phsar Chas dalam bahasa Khmer.

Di sini kita dapat berbelanja kerajinan tangan Khmer dan juga barang cendera mata lainnya. Old Market atau Phsar Chas juga merupakan tempat yang tidak boleh dilewatkan bila mengunjungi Siem Reap. Hanya panggil Motto, ucapkan $nyom som touw Phsar Chas, maka setiap pengemudi tahu bahwa kita akan pergi ke Phsar Chas dan ongkosnya hanya 1 USD. Di tempat yang buka sejak pagi hingga sekitar jam 6 sore, segalanya ada, dari sutra, karma (penutup kepala motif kotak-kotak), , cendera mata, T shirt dan sebagainya dapat kita beli dengan harga yang cukup murah asalkan kita pandai menawar.

Anda bisa dapat harga lebih baik kalau bisa sedikit-sdikit bahasa Khmer seperti sok sa bai untuk apa khabar dan o khun untuk terima kasih. Ke Kamboja, bawalah USD saja: Salah satu yang unik di Kamoja adalah penggunaan mata uang USD yang sangat luas untuk keperluan turis, sehingga praktis kita tidak usah menukarkan uang kita denga mata uang Riel. Mata uang Riel hanya dipakai sebagai kembalian uang kecil untuk pecahan lebih kecil dari 1 USD. Misalnya untuk kembalian 50 sen USD kita akan diberikan uang 2000 Riel. Kurs pada ssat ini 1 USD sekitar 4000 Riel. Airport tax untuk penerbangan internationalpun dikutip dalam mata uang USD yaitu sebesar USD 25.

Industri wisata sendiri cukup pesat berkembang selama 10 tahun terakhir ini di Sem Reap. Dapat dilihat dengan banyaknya penerbangan asing yang terbang ke Siem Reap seperti dari Singapura Bangkok Hongkong dan Kuala Lumpur. Selain itu sudah mulai banyak hotel berbintang yang bermunculkan di Siem Reap. Di sana tidak ada transporatsi umum seperti Bus kota, namun kita dengan mudah dapat naek motto, yaitu sepeda motor yang telah dimodifikasi dengan menarik semacam becak dibelakangnya. Dengan hanya 1 USD kita dapat sampai di sluruh penjuru kota Siem Reap.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA