Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Sabtu, 17 Sep 2011 11:13 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Get Lost in Ujung Kulon With Happy Holiday Trans7

laura hermawati
d'travelers
Foto 4 dari 5
Indahnya sunset di Pulau Cidaon, tempat kita melihat banteng
Indahnya sunset di Pulau Cidaon, tempat kita melihat banteng
detikTravel Community -

Apa bayangan kita mengenai liburan di Ujung Kulon? Pulau yang sepi, indah, tenang, damai, dan jauh dari keramaian. Guide kita kali ini namanya Cenglus, gayanya oke seperti captain Jack Sparrow dengan logat versi Sunda, Banten. Di perjalanan ke Pulau Peucang, Cenglus mulai cerita tentang daerah Ujung Kulon.

"Wah, sayamah dulu pernah bawa bule-bule lagi trecking di hutan cari badak. Eh, taunya si badak datang terus ngejar kita. Dipikiran saya udah lah si Bule itu pasti mati, badaknya saja beratnya 1 ton, dilindes dikit remuk. itu bule-bule teh pada telanjang semua. Aduh kasian pada mati anak orang. Harus pinter-pinter lari kalau liat badakmah. Harus belok-belok larinya, atau naik ke pohon. Jalan terakhir ya harus lari ke laut. Untung itu si Bule tidak pada mati, justru pada ngegantung dijurang kekubur sama daun-daun nyumput. Ah, tetep weh pantatnya keliatan sama sayah, langsung saya suruh pulang tapi dikasih baju dulu, kasian takut malu."

Oke, bayangan liburan yang tenang dan damai mulai berubah dan cerita Cenglus berlanjut.

"Kalau di sini ngomongnya tidak boleh sembarangan, bisa fatal akibatnya, banyak penunggunya. Waktu itu saya bawa tamu, nah si Tamu itu ngomong sembarangan, gini tah ngomongnya 'wah mana nih ga ada macan', tiba-tiba terdengar suara macan mengaum.Orang itu langsung berhenti ngomong."

Nah, bayangan tentang liburan santai semakin berubah. Meskipun, saya sudah merasa tidak enak Cenglus masih tetap meneruskna cerita tentang pengalaman bersama tamu-tamunya.

"Di sini juga ada barakuda, ikan sejenis hiu. Jadi, hati-hati kalau snorkeling ada buaya juga. Sempat ada beberapa nelayan yang ingin menjaring ikan malah kemakan buaya. Mayatnya tidak ketemu, bersih dimakan buaya. Satu lagi, ada ular phyton juga. Dia tidak gigit tapi cuma ngelilit mangsa sampai mati, terus dimakan. Tuh, kemarin baru ada babi hutan yang dimakan phyton. Phyton nya langsung diam tidak bergerak, jadi tontonan turis. Di hutan itu malah ada tapak kaki macan segede jerigen, banyak yang bilang dia penunggunya Neng."

Well, bayangan liburan tenang, damai, santai-santai di pantai langsung bubar, buyar, hancur berantakan, pupus. Ini semua sama seperti berakhirnya cerita Cenglus. Kapal pun terus berlanjut ke Pulau Peucang, seberang Ujung Kulon. Nope, tidak ada kata mundur.

Perjalanan dimulai dari kumpul di gedung Trans tv jam 1 malam dan berangkat jam 3 malam. Sampai di Desa sumur jam 1 siang, lanjut naik perahu ke Peucang kurang lebih 3 jam. Rasa lelah yang terasa selama perjalanan langsung hilang begitu kita sampai di Pulau Peucang. Jadwal hari ini seharusnya memancing tapi karena tidak tahan melihat air laut yang berwarna biru muda, jernih, dan pasir yang benar-benar lembut. Kita langsung terjun ke air "byuuuur," bukan ikan hias yang kita lihat. Tapi, segerombolan ikan yang banyak sekali dan membuat kita merasa takjub. Kita seperti menari bersama ratusan ikan di dalam air. "Habis terang terbitlah gelap," ya, itu kalimat kiasan yang sangat tepat untuk perjalanan kita ini, habis senang-senang menari bersama ikan, datanglah kawanan ubur-ubur. Bukan ubur-ubur bahaya, tetapi cukup buat kita bentol, merah, dan gatal-gatal. "So, mari kembali ke darat saudara-saudara!"

Di penginapan, kamar mandi, dan kamar tidur terpisah. Kita harus keluar rumah untuk ke kamar mandi dan di depan pintu kamar mandi ternyata ada babi hutan sedang mencari makan. "Oh god, bagaimana caranya bisa mandi tenang?" Tapi, kata Cenglus mereka tidak berbahaya asalkan kita tidak mengganggu. "Oke, mandi!"

Malam harinya kita pergi menggunakan perahu dengan tujuan memancing "di tengah" gelap. Seru sih, tetapi tidak ada ikannya. Kalau di Pulau Seribu, setiap 5 menit bisa dapat ikan, nah kalau di Ujung Kulon ikannya jual mahal.

Hari kedua, sesudah breakfast kita pergi menggunakan perahu sambil mencari surf spot, Pulau Panaitan. Sekitar 2 jam perjalanan memakai perahu dari Pulau Peucang.

Panaitan itu surganya surfer sekaligus ajang bunuh diri. Kalau lagi surut, ombaknya sangat perfect, tetapi diakhiri dengan karang dangkal runcing selutut. Sepertinya surfer profesional juga mikir-mikir dulu kalau mau surfing saat Panaitan surut. Karena kondisi kurang bagus, Joan dan leo hanya surfing sebentar. Saya dan Nicko menunggu di perahu. Lalu kita melanjutkan perjalanan selama 3 jam lagi untuk melakukan snorkeling di belakang Pulau Peucang. Waktu tukang--yang punya perahu melempar jangkarnya. Ubur-ubur merah sebesar dua bata berenang riang gembira. "Snorkeling dengan ubur-ubur? Siapa takut."

Waktu itu airnya lagi keruh dan arus agak kencang. Ketika sedang asyik snorkeling tiba-tiba badan saya terbawa arus sampai di atas karang tajam membuat saya merasa gatal. Tiba-tiba cameramen ada yang berteriak "Wah ada anak pari, bagus, sini lihat!" ucapnya dengan muka girang. "Ada anak berarti ada emaknya? Kabur, naik ke perahu pari itu ekornya bisa nyengat. Bahaya sekali mas bro," ucapku. Setelah snorkeling kita makan di atas perahu.

Sore ini kita berencana pergi ke dalam hutan. Konon, di dalamnya ada pohon angker yang umurnya sudah ratusan tahun. Pohon tersebut dikenal dengan pohon tiara, pohon parasit yang berkembang biak dengan bantuan kotoran burung. Jadi, burung tersebut memakan biji pohon tiara sehingga kotorannya mengandung biji yang dapat tumbuh menjadi pohon. Di pohon tersebut kita mengadakan lomba memanjat pohon.

Perjalanan ke pohon tiara rupanya hanya pemanasan, kita langsung melanjutkan ke pulau seberang, yaitu Pulau Cidaon. Pulau ini masih termasuk dalam bagian Ujung Kulon. Tujuan kita di sana adalah ke Lapang Banteng, kabarnya kalau sore hari banyak banteng dan merak yang menampakkan badannya di sana. Ternyata perjalanan kali ini tidak sia-sia, kita semua bisa bertemu dengan kawanan banteng dan merak yang cantik. Kata Pak Toyo--petugas perhutanan, kita harus mengendap-endap supaya banteng-banteng tersebut tidak marah atau kabur. 

Hari ketiga di Ujung Kulon kita sudah mulai terbiasa hidup menyatu dengan alam, tanpa sinyal, dan listrik baru bisa menyala mulai jam 6 malam sampai 6 pagi saja. Kita biasa makan malam, pagi, siang, di teras penginapan, dan kita punya penonton setia, yaitu babi hutan, rusa dan monyet.

Sesudah selesai kita melempar sisa-sisa makanan, dan para penonton itu siap menghabiskan makanan. Kalau biasanya kebanyakan babi hutan dan monyet itu galak, di Pulau Peucang tidak begitu. Rusa pun mau kok kita pegang. Justru kita bisa menaro pisang di mulut mereka yang mau makan. Satu pelajaran yang bisa kita dapatkan, yaitu hewan bisa hidup akur, damai, dan bekerja sama dengan manusia asal kita tidak mengganggu dan merusak habitatnya.

Hari ini kita melanjutkan surfing yang kemarin hanya beberapa menit saja, kali ini tujuannya di Angel. Spot surfing yang ini lebih ramah karangnya. Dan, lebih dekat dari Pulau Peucang. Tapi tetap, harus memakai perahu karena itu merupakan satu-satunya alat transportasi yang ada.

Sambil menunggu para lelaki melakukan surfing, saya dan Nicko pergi ke daratan menggunakan cano. Pergi ke pulau yang benar-benar kosong, dan tidak tahu apa yang ada di dalam hutan. Saat itu, ombak di Angel lagi bagus, pasir di sini berbeda dengan yang ada Pulau Peucang. Kalau di Peucang, pasir yang dipegang rasanya seperti lumpur yang sangat lembut. Kalau di Angel butiran pasirnya besar.

Setelah beres semua, mandi dan makan. Kita akan melanjutkan perjalanan kali ini ke hutan yang buas, namanya Hutan Cibom. Kita baru berjalan sekitar 200 meter tiba-tiba terdengar suara harimau yang mengaum. Seketika perasaan ku kangsungh berubah drastis. Kami hampir tidak berani melihat ke kanan dan kiri.

Kami terus melanjutkan perjalanan. Sekitar 30 menit berjalan, akhirnya kami sampai di tengah hutan yang kosong. Dan, ternyata banyak kaki badak yang terlihat sangat besar. Selain itu, juga ada banteng, babi hutan, dan burung merak. Pa Toyo hanya bilang, "Ya, ini jejaknya sepertinya baru beberapa hari. Kalau beruntung kita bisa melihat badak." tanpa pikir panjang saya langsung menyanggah, "Kalau ketemu badak sih sangat tidak beruntung Pak."

Sebenarnya tujuan trecking kali ini selain untuk melihat binatang-binatang, tetapi juga untuk melihat mercusuar di Puncak Cibom. Sesampainya di sana rupanya hanya ada mercusuar baru yang bentuknya seperti tiang PLN. Sedikit kecewa, tetapi ternyata mercusuar yang asli masih ada. Cuma jalan menuju ke sana sudah sangat rusak, mercusuar juga sudah rusak parah, akibat tsunami dari letusan Krakatau, kabarnya tingginya sampai 40 meter.

Kecewa melihat mercusuar PLN terobati dengan pemandangan yang super bagus di ahir perjalanan. Di tengah hutan yang kabarnya sarang nyamuk malaria, kita menemukan padang rumput yang luas dan bebatuan yang diakhiri pantai. Kelihatan debur ombak yang sangat indah.

Di Cibom juga ada bekas tentara zaman Belanda, kabarnya sebelum tsunami Krakatau Cibom digunakan sebagai wilayah persinggahan yang ramai karena tempatnya strategis. Banyak pekerja paksa dan tahanan penjara yang mati di sana karena malaria. Lalu kami bertanya ke Pak Toyo, "Pak, sekarang masih banyak nyamuk malaria di sini?" Pak Toyo pun menjawab, "Ya, tentu saja masih banyak, kalau nyamuknya nungging berarti itu nyamuk malaria. Orang yang mau ke sini itu harus minum pil anti malaria dulu."

Perjalanan ke Cibom itu lumayan melelahkan, jauh, dan sering kali memacu adrenalin. Rasa menantangnya dapat dan puas dengan pemandangan di sana. Sampai juga di hari terahir kita di Ujung Kulon, pagi hari kita bangun, shooting sebentar untuk penutupan acara. Dan, kembali menaiki perahu ke Tanjung Layar. Perjalanan ini memakan waktu 3 jam, di sana tempatnya berpenduduk dan masih merupakan bagian wilayang Pandeglang. Di sana kita membuat ukiran badak, tetapi hasilnya malahan seperti babi hutan. Dari Tanjung Layar kita lanjut ke Sumur untuk kembali menyentuh daratan. Hal unik yang kita dapat adalah saking terlalu lama hidup di atas perahu, kita jadi terasa mabuk kalau di darat. Rasanya terombang-ambing, pusing, dan mual.

Perjalanan belum selesai, dari sumur kita kembali ke Jakarta dan memakan waktu sekitar 8 jam di mobil. Liburan kali ini tidak ada duanya, unforgettable, adventure, and fun. Terima kasih Happy Holiday Trans7, sudah memberikan liburan gratis yang menyenangkan.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED