Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 19 Okt 2011 12:45 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Kulineran di Yogyakarta, dari Asli Sampai Modern

Amaliana Rahma
d'travelers
Sate Klathak
Sate Klathak
detikTravel Community -

Yogyakarta ternyata juga kaya akan wisata kulinernya. Bukan hanya gudeg dan bakpianya yang Anda harus kunjungi. Selama 3 hari 2 malam saya di Yogya, terdapat beberapa tempat kuliner yang saya kunjungi.

Selepas membersihkan diri saat tiba di Jogja, saya dan kawan mengunjungi Gudeg Yu Djum. Sebenarnya banyak penjual gudeg dan nyaris semuanya enak-enak. Tapi, kami lebih memilih untuk makan di lokasi terdekat karena akan pergi menuju Gunung Merapi. Jadinya, kami pilih yang satu arah.

Sepulang dari Merapi karena haus dan ingin istirahat kami menuju ke Kalimilk. Tempat nongkrong yang lagi booming di Jogja. Letaknya di Jln.Lempongsari. Beraneka macam susu dengan rasa dan ukuran (ada yang kecil ada juga versi gajah atau besar) siap memanjakan lidah "neneners". Neneners adalah sebutan untuk para pengunjung Kalimilk. Ditambah beberapa kudapan seperti kentang, risol, dan lain-lain. Harganya juga sangat pas di kantong. Kami memesan satu susu ukuran biasa rasa oreo dan satu lagi ukuran gajah, satu porsi risol, dan satu plate kentang hanya habis sekitar Rp40.000,00.

Makan malam ini kami ingin sekali mencoba Sapi Bali. Harga di sini memang agak lumayan sekitar Rp25.000,00 per menu. Tapi, sensasi kelezatan dari olahan menu dagingnya benar-benar menaikan selera. Lokasinya berada di Jln. Umbul Permai, Ngaglik, Sleman atau dekat dengan Hotel Hyatt.

Menu makan siang di hari kedua, kami memilih di Geprek Ayam Bu Rum di Jln. Wulung Lor, Papringan, Depok. Di sini kita bebas mau minta sambal dengan lombok berapa, mau pakai terasi, bawang, tomat, atau tidak. Mirip dengan ayam penyet, tapi rasanya lebih segar dan ayamnya lunak. Di sini langganannya berasal dari kalangan para pelajar dan mahasiswa. Satu porsi ayam geprek dan nasi (nasinya ambil sendiri) ditambah sayur sop (ambil sendiri juga, bisa milih sayur lain), dan es nutrisari dua gelas (maklum kepedasan) hanya perlu mengeluarkan kocek Rp10.000,00.

Malamnya kami menuju ke Sate Klathak di jalanan menuju Imogiri. Sekitar 10 menit dari terminal Giwangan, Yogyakarta. Di kawasan tersebut banyak sekali penjual Sate Klathak. Saya pernah mencoba beberapa Sate Klathak, tetapi malam itu ingin mencoba Sate Klathak Pak Bari yang jadi langganan Butet Kertarejasa, Fauzi Bowo, dan banyak pesohor lainnya. Meskipun, pelanggannya terkenal jangan kaget jika letak warungnya berada di tengah pasar, agak masuk dari jalan. Tetapi rasanya nggak ada yang bisa menandingi. Sate Klathak bahannya berasal dari kambing yang ditusuk dengan jeruji. Selain Sate Klathak juga dijual olahan daging kambing lainnya seperti krengsengan, tongseng, dan lain-lain. Harga dua es teh, dua porsi nasi, satu porsi sate klathak, dan satu porsi tongseng, total hanya sekitar Rp35.000,00.

Untuk makan siang keesokan harinya saya memilih Nanamia Pizzeria, di Jln. Moses Gatotkaca 1b. Jalan masuknya di samping Yogyakarta Plaza Hotel Gejayan. Pizza yang dijual adalah pizza beroti tipis, harganya sekitar Rp40.000,00-Rp59.000,00 per loyang. Selain pizzanya yang enak, pasta yang dijual di sana pun benar-benar menggoda lidah. Harganya pun terjangkau sekitar Rp25.000,00. Di deretan sepanjang Nanamia ini juga banyak kios-kios makanan lain.

Sebelum menuju terminal untuk pulang, saya menyempatkan mampir ke Warung Sambel Bawang Mas Kobis di daerah Gejayan juga, tepatnya di Gang Alamanda. Sama seperti Bu Rum, kita bisa request jumlah cabai yang ingin kita makan. Tempat makan ini ramai sekali terutama selepas maghrib. Pelayanan yang ramah, harga yang murah, dan porsi yang menyenangkan adalah daya tarik kuat untuk warung ini.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA