Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 20 Okt 2011 13:12 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Menjemput Tingginya Pesona Rinjani

Eldiansyah
d'travelers
Foto 1 dari 5
Plawangan
Plawangan
detikTravel Community -

Kejadian ini adalah mimpi kecil yang terselip dalam hati saya untuk bisa datang dan menikmati suguhan dari puncak Gunung Rinjani. Mengapa saya katakan terselip dan kecil? Karena saya hanya mahasiswa perantauan yang mencangkul ilmu di tengah tanah Jawa. Tentunya impian merupakan hal berat. Betapa tidak, berapa biaya yang harus saya persiapkan? Mencuri waktu perkuliahan yang tepat dan musim yang baik untuk mendaki adalah tantangan tersendiri sebelum aroma, rayuan, dan kecantikan Rinjani tiba di pelupuk mata.

Sembilan kali PNS kita mengambil gaji, maka bulan kesepuluh setelah saya proklamirkan dalam hati untuk mengejar dan mempersiapkan hal-hal demi Rinjani secara pelan dan perlahan. Akhirnya saya membuka kesempatan untuk menjenguk Rinjani.

Rinjani di depan mata, saya tak tahu mau berkata apa. Seperti mimpi, tapi ini menjadi nyata. Melalui perjuangan untuk sampai di sini maka saya mulai perjalanan dengan seorang teman dan seorang porter dengan berdoa demi kelancaran dan keselamatan. Pelan kita berjalan beriring sambil membawa bekal yang memberatkan langkah tapi lama-kelamaan menjadi ringan karena ikhlas saya melangkah demi mimpi kecil ini.

Senja, menyeruak jingga di ufuk Barat membuat bulu roma saya bergidik. Tak hanya suguhan sunset tapi baru saja saya melihat Danau Segara Anak secara nyata. Betapa indahnya Danau ...! Kita sudah sampai di Plawangan", pos terakhir sebelum summit attack.

Setelah 10 jam lutut ini bertempur habis-habisan, kita ber-3 mendirikan tenda, dan mulai mempersiapkan makan malam dengan hawa dingin yang menusuk dan angin yang tak berhenti bergemuruh.

Alarm berbunyi, tepat pukul 02.00 WITA. Waktunya untuk summit attack. Kita berdua bergegas mempersiapkan baju berlapis-lapis, jaket windproof, sarung tangan, dan perlengkapan lainnya untuk perjalanan ke puncak yang lebih kurang akan memakan waktu 3 jam. Angin berhembus kencang pada pukul 02.30 WITA, tak menyurutkan niat kita menuju puncak idaman.

Punggungan bukit yang terlalu terbuka untuk beristirahat. Sekadar menarik nafas, saya berdebat dengan teman saya. Persediaan air terlalu sedikit dan perjalanan baru setengah di tempuh untuk menuju puncak dari tenda yang kita dirikan. Percakapan singkat yang berujung bahwa salah satu harus turun kembali ke tenda, jika tidak maka tak akan cukup air tersedia untuk berdua. Maka saya putuskan saya yang kembali.

Entah kenapa langkah saya ringan, padahal ini sudah saya perjuangkan dengan tidak mudah. Namun, ketika puncak di depan mata saya harus kembali turun demi keselamatan bersama. Sedih, tapi saya berusaha ikhlas, sepanjang perjalan saya berusaha untuk tetap tegar dan tersenyum walau ada hati kecil yang redup, dan mata yang berkaca. Tiba-tiba terbesit dalam kepala ini, bahwa puncak bukanlah indikator seorang pendaki menggapai kemenangan dalam suatu perjalanan. Puncak hanyalah ujung tertinggi suatu pendakian tapi bukan akhir dan inti keseluruhan mendaki gunung itu sendiri.

Beberapa waktu kemudian teman saya telah datang kembali ke tenda dan bercerita kalau dia tak sempat mengabadikan saat ia di puncak karena angin yang kencang dan dingin yang membuat kaku jemarinya untuk berfoto. Lalu saya katakan tidak apa-apa yang penting adalah keselamatannya. Dan, ia berhasil mencapai puncak gunung Rinjani. Perjalanan kita lanjutkan menurun terjal, perlahan menuju danau. Menghabiskan waktu kurang lebih 2 jam untuk bisa mencapai pinggiran danau.

Waktu menunjukkan pukul 12.00 WITA, kita telah sampai di Danau Segara Anak. Danau impian walau saya harus melewatkan puncak idaman. Tak lama waktu berselang dan tenda didirikan, kita pun pergi menuju pemandian air panas alami yang tersedia tak jauh dari tenda. Segar luar biasa setelah 2 hari tak membasuh diri yang telah lusuh dan kumal. Semburan air yang jatuh bak air terjun mini yang hangat. Kita bersama menikmati air hangat sekalian bak dipijat olehnya.

Malam datang, porter mengajak kita untuk menombak ikan di tepian danau. Di sini terdapat banyak ikan yang biasanya dipancing oleh pendatang atau warga yang sengaja datang hanya untuk memancing. Pukul 21.00 WITA perlahan kita menyusuri tepian danau, dengan bekal senter dan pisau yang diikatkan pada ujung kayu menjamah menjadi tombak, porter pun beraksi dan tak sedikit ia berhasil menombak ikan tepat sasaran. Tanpa pikir panjang langsung kita bersihkan, beri sedikit bumbu apa adanya, lalu kita goreng. Setelah puas melahap ikan buruan tepat pukul 23.00 WITA kita pun beristirahat mengembalikan tenaga untuk perjalan pulang esok pagi.

Pagi menjemput, setelah mengemasi barang, sebelum memulai perjalanan pulang tak lupa mengabadikan momen indah bersama Rinjani. "Oh sungguh aku ingin kembali."

BERITA TERKAIT
BACA JUGA