Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 21 Okt 2011 10:21 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Jalan-Jalan Singkat ke Kuala Lumpur-Part 1

Fransisca Widi
d'travelers
My Siluet @ Petronas Tower
My Siluet @ Petronas Tower
detikTravel Community -

Hari itu, 2 Juni 2011 pukul 06.00 WIB pagi kami sudah meluncur ke Soekarno Hatta Airport. Penerbangan kami ke Kuala Lumpur dijadwalkan pukul 8.30 WIB. Kami pergi berempat, saya, Khristina, Ken, dan Rebecca. Kami berencana untuk liburan singkat di KL selama 3 hari 2 malam.

Pukul 07.30 WIB kami check in dan masuk ke boarding lounge di Gate D1 yang unfortunately tidak ber-AC. Atau mungkin ber-AC tapi tidak dingin sama sekali. Singkat cerita, pukul 11.30 WIB kami landing di LCCT Kuala Lumpur. LCCT (Low Cost Carrier Terminal) adalah airport khusus untuk penerbangan budget airlines, seperti Air Asia, Cebu Airlines, dan lain-lain. Kalau untuk penerbangan Full Board Airlines, Malaysia punya KLIA (Kuala Lumpur International Airport). Di mana airlines-airlines International seperti Garuda, KLM, Singapore Airlines, dan lain-lain hinggap di sini.

Dari LCCT kami naik Sky Bus yang tiketnya sudah kami beli bundled dengan tiket pesawat. Sky Bus ini adalah armada bus milik Air Asia. Lama perjalanan dari LCCT ke KL Central memakan waktu 1 jam ditemani pemandangan kebun kelapa sawit di kanan kiri jalan.

Sesampainya di KL Central, kami berjalan kaki sekitar 500 m ke arah Jln. Tun Sambanthan. Di tempat ini terdapat Monorail Station di kawasan Little India. Kami naik monorail menuju Bukit Bintang dengan harga tiket RM 1,4. Sesampainya di Bukit Bintang, kami tinggal menyeberangi perempatan jalan yang sangat terkenal di kawasan Bukit Bintang tersebut–Times Square-nya KL. Dan, sampailah kami di Paradiso B&B Hostel. Untuk menemukan hostel ini mata kita harus jeli karena hostel ini tertutupi oleh sebuah baliho berukuran sangat besar. Papan nama hostel pun tersempil di antara A&W dan jejeran toko-toko lainnya.

Kami mem-booking 2 kamar Twin Bed melalui www.hostelworld.com beberapa minggu sebelum hari H. Harganya pun cukup terjangkau, hanya RM 70 per orang untuk 2 malam, sudah plus breakfast pula! Kalo dirupiahkan hanya sekitar Rp210.000,00 per orang untuk 2 malam. Fasilitasnya lumayan oke dan bersih dengan kamar AC dan kamar mandi shared di luar. Namun, terpisah antara Female & Male Bathroomnya. Female ada di lt.3 sedangkan Male ada di lt.2. Untuk breakfastnya mendapat 2 toast ditambah jam dan butter, serta juice (setiap pagi) kalo menginap di situ seminggu pasti bosen tuh ketemu roti panggang mulu tiap hari. Tapi, lumayan banget dapat sarapan begitu dengan harga yang hanya Rp100 ribuan per malam. Namun, kekurangan hostel ini ada dua, yaitu nggak mempunyai lift dan receptionist-nya jutek.

Kembali ke acara jalan-jalan singkat kami. Setelah istirahat dan mandi, kami keluar untuk mencari makan siang (makan telat sebenarnya) karena udah jam 3 sore. Akhirnya kami pergi ke KL Pavilion dan sebuah mall (lagi-lagi ketemu mall) di kawasan Bukit Bintang juga. Hanya perlu jalan kaki sekitar 5 menit aja ke sana. Didepan mall ini ada air mancur yang cukup terkenal, namanya Crystal Fountain. Bentuknya seperti mangkok susun tiga asimetris gitu. Setelah foto-foto di depan Crystal Fountain, kami makan di food court yang berada di dalam mall. Banyak pilihan makanannya dengan kisaran harga antara RM 10–50-an, atau di atas RP30.000,00 lah. Untuk pilihan rasa, cukup relatif ada yang enak ada juga yang nggak.
Kebetulan saya dapetnya yang nggak enak. Saat itu saya makan nasi goreng Taiwan yang ternyata nggak ada rasanya, hambar. Tapi, teman saya, Ken, memesan nasi goreng pattaya (masakan Thailand) rasanya nendang banget. Begitu juga Khristina dan Rebecca yang asyik menyantap Mie Ramennya. I seems like I’m not lucky that evening.

Sehabis makan, kami langsung menuju Petronas Tower. Kami menaiki Bus Rapid KL dengan tarif RM 1 per sekali jalan. Sangat murah kan? Cara bayarnya juga unik, kita harus bikin kartu Rabbit Kad dulu, seharga RM 10 yang nantinya akan diisikan saldo dengan nilai yang sama kedalam kartu. Nah, kita harus menempelkan kartu itu di sebuah alat sensor yang ada di dalam bus pada saat naik dan akan turun. Canggih ya?

Untuk berfoto di Twin Tower kami harus turun di Suria KLCC, karena di belakang mall ini ada sebuah taman yang spot-nya oke banget buat foto-foto. Kami sampai di Suria KLCC pukul 17.00 waktu setempat. Kami menghabiskan 2 jam untuk befoto di jembatan taman belakang mall tersebut, sampai matahari terbenam pukul 19.00 waktu setempat. Ya, di Malaysia matahari terbenam lebih lama. Magrib saja masih terang benderang di sana.

Capek foto-foto dan sudah mati gaya, kami pun merasa lapar. Kami memutuskan naik taksi meter yang banyak ngetem di depan mall. Tawar menawar akhirnya sepakat RM 10 dari Suria KLCC–Bukit Bintang. Malam ini kami memutuskan makan di Jln. Alor. Sebuah jalanan di kawasan belakang Bukit Bintang yang menjadi wisata Kuliner di malam hari.

Kalo di Jakarta mungkin seperti Jln. Pecenongan tapi bedanya Jln. Alor ini tertutup bagi kendaraan saat malam hari. Sepanjang jalan penuh dengan kursi dan meja makan. Rata-rata masakan yang banyak dijual di sini adalah Chinese Food (dan agak susah cari yang halal). So, buat yang muslim, kalau mau makan di sini harus buka mata lebar-lebar, carilah kios yang jual makanan halal dengan ciri-ciri pedagangnya ibu-ibu yang menggunakan jilbab, atau bapak-bapak India. Dijamin halal, selain itu ya Bismillah saja pas mau makan. Tapi jangan khawatir di ujung jalan ini ada Rumah Makan Arab yang menjual nasi kandar, kari, dan roti canai. Bisa dipastikan masakannya halal karena yang menjual orang Arab. 

Malam itu kami makan di Jln. Alor dengan nikmat. Selain karena lapar, tetapi juga karena semua menu yang kami pesan rasanya aman-aman saja di lidah, alias enak. Selesai makan kami beli air mineral sebanyak 4 galon (ukuran 5 liter). Kenapa 4 galon? Ya, buat stok kami selama 2 hari ke depan. Karena kalau membeli airnya ngeteng sebotol-sebotol bisa-bisa yang ada boros. Secara kami kan backpackeran. Alhasil kami berempat menggendong galon-galon tersebut ke hostel dengan berjalan kaki. Untungnya jarak Alor ke hostel tidak begitu jauh tapi lumayan bisa menghabiskan nafas juga karena naik tangga ke lt.3. Secara hostel ini nggak ada liftnya.

To Be Continued....

BERITA TERKAIT
BACA JUGA