Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 20 Okt 2011 23:37 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Mengelilingi Bangunan di Sepanjang Kota Tua

NORMA YUNITA
d'travelers
Foto 1 dari 5
Nyanyi keroncong dulu
Nyanyi keroncong dulu
detikTravel Community -

Perjalanan ketiga saya adalah menuju Kota Tua, yang berada di jakarta pusat. untuk menuju kemari dari cikarang kami naik Bis jurusan Blok M kemudian dilanjutkan naik Busway menuju ke Kota Tua.

Awal sejarah Kota Tua Jakarta dimulai dari sebuah kampung kecil bernama Jayakarta yang terletak di pinggir Kali Ciliwung. Kampung ini kemudian berkembang menjadi sebuah kota dagang besar sejak Jan Pieterszoon Coen, salah seorang petinggi VOC, mendirikan Batavia sekitar abad 17.        

Salah satu sisa kejayaan Batavia adalah bangunan Museum Sejarah Jakarta atau lebih dikenal sebagai Museum Fatahilah. Dalam sejarahnya bangunan ini merupakan gedung Stadhuis atau pusat pemerintahan VOC yang dibangun pada tahun 1707. 

Dalam peta lama Batavia, Stadhuis ini terletak di Selatan Stadhuisplein (lapangan Balaikota). Di Timur berbatasan dengan Tijgersgracht atau terusan macan yang kini dikenal sebagai Jalan Lada dan Jalan Pos Kota (depan Gedung Imigrasi, Museum Seni Rupa dan Keramik serta Gedung BNI 46). Di bagian Barat berbatasan dengan De Binnen Nieuw Poortstraat, sekarang Jalan Pintu Besar Utara.

Sebagai pusat pemerintahan kala itu, di sekitar kawasan Stadhuis banyak berdiri gedung-gedung lain, dari mulai tempat ibadah hingga perkantoran. Bangunan-bangunan tua itu sampai sekarang masih berdiri meskipun beberapa diantaranya mulai rapuh digerus zaman.

Perjalanan kami awalnya adalah menuju ke Museum Bank Mandiri. Persis di depan gedung museum, tersedia tempat parkir namun kapasitasnya sangat terbatas. Usahakan datang pagi hari sehingga mudah mendapatkan parkir. Untuk memasuki museum ini hanya dikenakan biaya Rp2.000,00 untuk orang dewasa sedangkan untuk anak-anak gratis. Bahkan jika Anda nasabah Bank Mandiri, jangan lupa membawa kartu ATM Bank Mandiri Anda, dan dapatkan tiket gratis untuk pemegang kartu. Di pintu masuk Anda akan disambut oleh dua patung penjaga dengan seragam ala kolonial Belanda tempo dulu. Memasuki gedung ini, seakan-akan kita dibawa mundur oleh mesin waktu. Gedung ini masih berdiri kokoh, dengan ruangan yang terlihat masih orisinil, lantainya sebagian besar dilapisi oleh tegel ubin (vloertegels) berwarna hitam, abu-abu dan merah,  yang masih terlihat mengkilap. Pintu utama akan mengarahkan kita ke Begane Grond (Lantai Dasar) sebagai ruang utama kegiatan perbankan. Di sini terdapat loket teller sepanjang 122 m, papan petunjuk, meja, kursi bahkan ada beberapa manekin (boneka seukuran manusia) yang menggambarkan suasana kerja di saat tempo dulu.

Benda-benda yang berhubungan dengan perbankan dalam beberapa kurun waktu pun terpajang di sana, mulai dari aneka mesin tik, sertifikat deposito, cek dan bilyet giro, saham dan obligasi, telepon dan telegraph, mesin penghitung uang, mesin ATM, kartu ATM, server, printer wah pokoknya lengkap deh. Kami cukup kagum dengan kondisi museum yang boleh dikatakan cukup rapih, bersih dan terawat. Meja, kursi bahkan lantainya pun kami dapati dalam keadaan bersih.

Di tengah ruangan dipajang 2 buah buku besar, untuk mencatat laporan keuangan NHM diantaranya mengenai perkebunan dan komoditi. Bukan hanya dikatakan buku besar, tapi buku ini benar-benar berukuran besar. Groetbook (buku besar) pertama berukuran 67 x 54 x 13 cm, dengan 234 lembar dan berat 28 kg, mencatat transaksi dari tahun 1833-1837. Sedangkan satu lagi berukuran 38,5 x 49 x 17,3 cm dengan 1503 lembar dan berat 20 kg mencatat transaksi dari tahun 1935-1936. Kedua buku ini berasal dari Pusat Arsip Rempoa. Mungkin istilah buku besar di akuntansi itu memang berasal dari ukuran buku yang dulunya memang besar-besar ya.

Di sebelah kanan ruangan, terdapat area khusus untuk para nasabah keturunan Tionghoa. Saat itu banyak orang Cina memiliki usaha perkebunan, sehingga pengelola bank merasa perlu untuk menyiapkan kasir Cina yang khusus melayani para nasabah tersebut.

Menuju ke atas, kita dapat melihat mozaik dari kaca patri yang indah, mirip dengan yang pernah kami lihat di Lawang Sewu, Museum Bank Indonesia. Mozaik tersebut menggambarkan keadaan 4 musim yang dialami di belahan Eropa dan juga tokoh nakhoda kapal Belanda, Cornelis de Houtman.

dari sini dilanjukan ke Museum Bank Indonesia sayangnya disini kami hanya numpang lewat saja karena waktu yang mendesak, jadi kami langsung menuju museum wayang, yang berada di sebelah kanan dari museum fatahillah.

Disini kami dapat mengenal beberapa tokoh pewayangan yang selama ini hanya kita baca dan liat di tv (kalo gak liat pak manteb lagi manggung :D).

Museum ini terletak 1 area dengan museum Fatahillah, berdekatan dengan Museum Bank Indonesia, Museum Bank Mandiri dan juga Museum Keramik. Museum ini menyimpan koleksi wayang dari daerah-daerah di Indonesia seperti Jawa, Sunda, Bali, Lombok, Sumatera dan juga luar negeri antara lain Malaysia, Suriname, Kelantan, Perancis, Kamboja, India, Pakistan, Vietnam, Inggis, Amerika dan Thailand. Jumlah koleksinya kurang lebih 5.147 buah yang diperoleh dari pembelian, hibah, sumbangan dan titipan.

Museum Wayang sendiri diresmikan oleh Gubernur Jakarta saat itu yaitu Ali Sadikin pada tanggal 13 Agustus 1975. Museum ini sebelumnya disebut sebagai Museum Batavia yang dibuka pada tahun 1939 oleh Gubernur Jenderal Belanda yaitu Tjarda van Starkenborgh Stachouwer. Gedung ini dibangun pada tahun 1912 bergaya Neo Renaissance dan pada tahun 1938 dipugar dan disesuaikan dengan gaya rumah Belanda saat itu. Gedung ini bukan merupakan bekas gedung gereja Belanda, karena gedung gereja tersebut sudah runtuh akibat gempa. Tapi memang berdiri di atas tanah bekas Gereja Belanda Baru atau Nieuwe Hollandse Kerk (1736) dan Gereja Belanda Lama atau Oude Hollandse Kerk (1640-1732).

Koleksi Wayang di dalam Museum ini terdiri dari beberapa perangkat Wayang Kulit, Wayang Golek, berbagai topeng, wayang kaca, wayang seng, lukisan dan boneka-boneka dari luar negeri. Beberapa koleksi langka dari Nusantara antara lain Wayang Intan, Wayang Suket, Wayang Beber dan Wayang Revolusi. Di dalamnya juga ada boneka terkenal lho, yaitu si Unyil dan teman-temannya, yang sempat ditayangkan di TVRI tahun 80-an.

Buat teman-teman yang ingin jalan-jalan kemari perlu datang pagi agar nggak kepanasan saat jalan-jalan.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA