Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 25 Okt 2011 15:31 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Pengalaman Diving Pertamaku

Henie Heriyani
d'travelers
Foto 1 dari 5
Bintang biru
Bintang biru
detikTravel Community -

"Rugi lho kalau ke Aceh tapi nggak mencoba diving," ucapan dari seorang teman yang terngiang-ngiang ketika bangun pagi itu, saat saya sedang berada di ujung Barat Indonesia. Matahari belum sempurna menampakkan tubuhnya, tapi saya dan dua orang teman sudah bersiap-siap untuk bermain air pagi itu. Pemandangan dari depan kamar saya berupa laut yang terlihat jernih sampai ikan-ikannya pun terlihat wara-wiri di bawah sana, membuat keinginan untuk nyemplung semakin kuat.

Rubiah Tirta Diver, operator menyelam yang ada di Iboih masih tertutup rapat ketika kami lewat. Dan, ketika kami bertanya kepada seorang pria yang tengah menyapu halaman, ternyata mereka baru buka sekitar pukul 09.00 WIB. Akhirnya kami memutuskan untuk mencari sarapan dan setelah itu bermain-main air saja di pantai yang berada tepat di depan kantor mereka. Walaupun pantai, pemandangan bawah lautnya sudah mampu membuat kami berkali-kali berseru "Wow," (dalam hati tentunya karena mulut kami tersumpal snorkle). Ikan-ikan berwarna biru, kuning, dan hijau berseliweran di depan mata kami, tidak ketinggalan juga ada bulu babi yang bersemayam di bawah karang juga terlihat dengan jelas. Berhubung masih baru, kami tidak tahu nama dan jenis ikan-ikan tersebut.

Sekitar pukul 09.30 WIB, seseorang dari kantor operator memanggil dan mengatakan instruktur yang bisa menemani kami untuk menyelam sudah datang. Di sana kami diminta untuk mengisi formulir dan beberapa pertanyaan terkait kesehatan kami. Oh iya, ini adalah kali pertama kami untuk diving. Setelah mengisi formulir dan menandatangani pernyataan, mulailah instruktur tersebut memberi beberapa penjelasan mengenai diving. Apa itu diving, bagaimana cara diving, apa yang harus kami lakukan di bawah sana, apa yang tidak boleh dilakukan, alat-alat yang digunakan, bagaimana cara bernafas dengan alat, kode-kode isyarat, dan hal-hal semacam itu.

Setelah menjelaskan dan menjawab pertanyaan dari kami, Mas Isfan–sang instruktur mengajak kami ke samping kantor. Di sana sudah tersedia semacam rompi yang namanya BCD dan tabung. Dengan panduan dari dia, kami mulai memasang tabung di BCD, lalu memasang pipa ke tabung, dan mencoba menggunakan BCD. Setelah selesai, kami diberikan baju selam, fin atau kaki katak, pemberat dan masker. Setelah lengkap, mulailah kami memasang semua perlengkapan tersebut dengan urutan, baju selam, pemberat, BCD dan tabungnya, masker, dan sambil menenteng fin kami berjalan tertatih-tatih menahan beratnya tabung menuju pantai untuk belajar menyelam.

Dalam air, beban berat tabung dan pemberat menjadi tak terasa, mulailah kami belajar untuk tenggelam, dan ternyata tak segampang itu rupanya kami tenggelam. Saya saja sampai 3 kali ditambah pemberat karena setiap kali terangkat lagi ke atas. Setelah itu, mulailah kami diajak berenang mengitari daerah sekitar pantai, ketika di satu titik saya melihat rombongan ikan hijau dengan berbagai ukuran, akhirnya hanya bisa tiduran di dasar laut sambil bertopang dagu memandangi mereka berenang-renang, memotret dengan mata, dan merekamnya dalam otak. Sekitar setengah jam membiasakan diri di dasar laut, kami kembali naik ke permukaan, dan memuat alat-alat tersebut ke atas kapal, dan dipersilahkan untuk makan siang dahulu sebelum memulai penyelaman yang sesungguhnya.

Setelah shalat dan makan siang, saya dan rombongan kembali ke pantai dan menuju kapal yang telah disiapkan tadi. Dengan kapal kami menuju Pulau Rubiah yang berjarak tidak jauh dari Iboih. Rubiah Sea Garden merupakan salah satu titik penyelaman favorit wisatawan untuk melakukan diving.

Dengan mengucap Bismillah, mulailah saya terjun dari kapal seperti yang biasa dilakukan para penyelam lainnya, yaitu punggung duluan. Didampingi oleh Mas Isfan, kami turun ke dasar laut, kira-kira sampai kedalaman 5 meter (melihat dari salah satu alat yang kami gunakan). Setelah itu mulailah kami mengeksplor daerah bawah laut, dan kali ini kamera saya tak lupa terikat di tangan kanan. Pertama-tama berada di bawah air dan bernafas menggunakan alat cukup kagok. Bernafasnya serasa nggak puas tapi pelan-pelan mulai terbiasa. Beberapa kali juga masker yang saya gunakan berembun dan memburamkan pandangan, mungkin karena tanpa sengaja hidung saya ikut menghembuskan udara.

Di bawah laut, pemandangannya lebih menakjubkan, lebih banyak ikan, makhluk laut, karang, dan lebih banyak berkata "Wow," dalam hati. Sayang sebagian karang-karangnya hancur, katanya karena efek tsunami beberapa tahun yang lalu. Tapi, melihat bunga di atas karang, ikan-ikan, makhluk-makhluk laut, membuat saya semakin mengingat kepada Sang Pencipta. Subhanallah bagus sekali. Sekitar satu jam kami berkeliling di bawah, kami kembali ke permukaan dan meneruskan dengan snorkeling di sekitar kapal bersama teman-teman yang lain. Snorkeling ini saya lakukan sebelum akhirnya kembali ke Iboih, dan mengakhiri pengalaman diving pertama kami.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA