Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 27 Okt 2011 14:26 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Sibolga, Sekali Lagi!

Danny Maulana
d'travelers
Foto 1 dari 5
Pantai Lorong Desa 1, Jago-Jago, Sumatra Utara
Pantai Lorong Desa 1, Jago-Jago, Sumatra Utara
detikTravel Community -

Ya, ini kedatangan kedua saya ke kota pesisir yang indah di Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Jika tahun 2009 lalu saya merekam tempat wisata potensial di kota ini. Tanggal 7 sampai 14 Oktober 2011 lalu, saya datang bersama tim Pengabdian TransTV, merekam seorang dokter gigi dari Jakarta untuk membantu memberikan pengobatan yang sangat jarang diterima masyarakat Desa Jago-Jago.

Sekali lagi, jalan darat yang sangat panjang kami tempuh dengan tarikan nafas dalam dan tentu saja perut yang terisi penuh. Selama 12 jam melewati danau Toba yang indah, memasuki Siantar yang penuh motor BSA 400cc modifikasi menjadi becak (saya menangis melihat nasib motor-motor ini). Melihat pasar Balige dengan atapnya yang eksotis, mampir di Tarutung yang terkenal dengan gitar homemade Bonapasogi dan akhirnya tiba di Sibolga tengah malam.

Desa Jago-Jago, sebuah desa yang terbagi dua oleh muara Lumut yang membentang sampai lautan bebas. Menurut Pak Tanjung, Kepala Desa Jago-Jago. Asal nama tersebut dari sejarah Semenanjung itu sendiri. Dulu kala, Semenanjung itu tak berpenghuni. Oleh seorang saudagar China, dibangun sebuah gudang tempat menyimpan barang dagangan dan logistik untuk transit Dari Melaka ke Jawa. Para centeng (ahli bela diri) disewa untuk menjaga gudang tersebut. Sebutan "Jaga-jaga malam" sering diucapkan warga untuk para centeng tersebut hingga lidah pesisir mengubahnya menjadi Jago-Jago hingga kini.

Dusun Jago-Jago di semenanjung itu sendiri terbagi lima. Dengan sebutan Lorong menurut bahasa setempat, Dusun yang paling dekat dengan daratan dan terhubung oleh bentangan jembatan gantung, disebut Lorong Desa 1. Jalan kaki 2 kilometer kesebelah barat, ada Lorong desa 2 dan menggunakan Kutuk-Kutuk atau perahu kecil dengan mesin tempel kita bisa menuju Lorong desa 4 sejauh 1 jam perjalanan. Lorong desa 3 dan 5 terletak di balik bukit dan susah untuk dijangkau.

Lorong Desa 1

Mayoritas warga Lorong Desa 1 beragama Islam dengan campuran suku Batak pesisir dan Bugis. Karena tinggal di daerah pesisir. Umumnya para pria muda disini bekerja sebagai nelayan. Ibu-ibu dan orang tua paruh baya mencari penghasilan tambahan dengan mengupas kulit batang pohon nipah yang banyak terdapat di pinggiran muara Lumut untuk dijadikan rokok pucuk. Lumayan, satu bal berisi lima puluh ikat dihargai Rp400.000,-. Dan, rokok ini sudah beredar hampir diseluruh kota besar dan kecil di Sumatera Utara.

Lorong Desa 1 yang paling maju dan beruntung dalam pembangunan. Paling dekat dengan daratan dan terhubung oleh jembatan gantung yang dibangun tiga tahun yang lalu menjadikan gaya hidup masyarakat Lorong Desa 1 ini meningkat. Menurut guru satu-satunya SD di Desa Jago-Jago ini, anak-anak kecil di sini keheranan saat kereta (sepeda motor) pertama masuk ke Lorong Desa 1. Maklum, sebelum ada jembatan gantung satu-satunya alat transportasi mereka adalah perahu kecil. Kini, untaian kabel di barisan tiang listrik membentang dari ujung timur hingga ujung barat lorong desa 1.

Bukan hanya listrik yang sudah masuk kesini, jalan utamanya pun sudah di beton dengan rapi sehingga sepeda motor dan motor gerobak bisa lalu lalang membawa segala macam kebutuhan dasar masyarakat setempat. Namun seperti desa nelayan diseluruh pesisir Indonesia, kesadaran akan kebersihan lingkungan masih kurang dan harus terus dibina dan dibimbing.

Lorong Desa 2 (Sigubo)

Berbeda dengan Lorong Desa 1, Lorong desa 2 atau sering disebut dusun Sigubo seluruh penduduknya adalah pendatang dari Pulau Nias. Mereka telah lama menempati dusun ini namun baru saja mendapatkan pemekaran. Kondisinya? Sangat jauh berbeda dengan Lorong Desa 1. Di dusun Sigubo ini, belum ada listrik. Rumah-rumah panggung yang berdiri tepat di atas rawa menjadi pemandangan eksotis bagi turis namun menjadi dilemma bagi penghuninya. Bagaimana tidak? Rawa adalah tempat tercinta nyamuk malaria dan para pemilik rumah diatasnya menjadi sasaran empuk serangga sial ini.

Menurut Harefah, kepala dusun Sigubo. Waktu PNPM Mandiri belum membangun jalan utama, desa ini benar-benar terendam rawa. Saya percaya itu. Bayangkan saja, jalanan utamanya saja setinggi lima meter dari permukaan air. Dan perahu bisa mengapung tanpa menyentuh permukaan rawa. Apa jadinya jika jalan utama ini belum dibangun? Sayangnya jalan utama ini belum dilapis beton, sehingga ketika hujan lebat turun jalan utama dusun Sigubo ini berubah fungsi menjadi kolam-kolam kecil.

Meskipun masih daerah pesisir, mayoritas mata pencaharian warga disini adalah berkebun dan menjadi penyadap pohon karet. Kata pak Harefah, suku Nias adalah suku petani, tidak berbakat untuk jadi pelaut. Dan itu terbukti di dusun Sigubo ini. Walaupun, ada yang memiliki perahu, itu dijadikan satu-satunya alat transportasi menuju daratan saat jalan utama belum dibangun.

Lorong Desa 4

Lorong Desa 4 atau dusun Bongal ini yang paling sulit ditempuh. Menurut Pak Maradumai, Kepala Lorong Desa 1. Akses jalan darat ke dusun Bongal sudah dibuat. Namun, masih berupa jalan setapak dan harus ditempuh dengan jalan kaki sejauh enam kilometer. Akses lainnya adalah melalui muara Lumut dengan kutuk-kutuk. Meskipun lebih jauh, namun jarak tempuhnya lebih cepat hanya satu jam perjalanan dan pastinya kita tidak banjir keringat saat sampai disana.

Sama seperti penduduk dusun Sigubo. Penduduk dusun Bongal juga pendatang dari Pulau Nias dan bermata pencaharian sebagai petani atau penyadap pohon karet. Pak Oktober Ndaha, kepala dusun Bongal memberitahu saya bahwa penduduk di sini hanya ada 179 kepala keluarga yang menempati daerah seluas 6 kilometer persegi dan satu hal penting. Tidak ada MCK disini. Untuk kebutuhan buang air kecil dan air besar, semua penduduk disini melakukannya di sungai kecil yang terletak dibelakang rumah pak Ndaha.

Tidak ada Posyandu apalagi Puskesmas Pembantu. Bidan PTT yang bertugas disini pun butuh perjuangan tiap minggunya. Dengan gaji 1,4jt harus membayar ongkos perahu lima puluh ribu pulang pergi dengan resiko yang mengintai setiap saat melewati muara Lumut.  Saat tiba di dusun ini, saya tak bisa berhenti membayangkan bagaimana jadinya jika ada yang sakit keras ditengah malam. Pasti sangat repot untuk membawanya ke rumah sakit terdekat di daratan melewati muara Lumut.

Kedatangan kami untuk mengobati dan memberikan penyuluhan kesehatan gigi sangat diterima dengan rasa antusias di tiga dusun Jago-Jago ini. Meskipun hanya sekali datang, semoga ketika acara ini tayang pemerintah daerah dan dinas kesehatan setempat bisa membuka mata lebih lebar untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa Jago-Jago. Karena sebagai bagian dari warga negara Indonesia, mereka punya hak yang sama dengan warga negara Indonesia di seluruh pelosok negeri lainnya.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA