Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 27 Okt 2011 15:55 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Gembong Amijoyo, Semangat Hidup Barongan Blora

Warisan Indonesia
d'travelers
Foto: Diasz Kundi
Foto: Diasz Kundi
detikTravel Community -

"Barongan ora galak…(barongan tidak galak),
Barongan moto beling …(barongan bermata beling),
ndhas pethak ditempiling…(kepala botak ditempeleng)"

Bagi penggemar kesenian barongan, pasti sangat akrab dengan syair tersebut karena ketika barongan masih sering dipentaskan berkeliling kampung, selalu diiringi tabuhan berupa kenong, saron, dan gong membawakan parikan ini.

PARIKAN tersebut terdengar lucu, tetapi sebenarnya syairnya dimaksudkan untuk menyindir keberadaan para penjajah Belanda. Melalui katakata "barongan ora galak", para seniman pada zaman penjajahan ingin mengatakan bahwa barongan adalah gambaran dari budaya asli daerah yang merupakan kawan bersama dan tidak perlu ditakuti.

Menurut beberapa sumber, tokoh Singo Barong (singa raksasa) yang merupakan tokoh utama dalam kesenian barongan, merupakan visualisasi dari semangat para pejuang itu. Boleh jadi para pejuang terinspirasi oleh keberanian dan ideologi Gembong Amijoyo yang merupakan figur asli dari jelmaan Singo Barong. Lirik selanjutnya dari pantun kilat tersebut, "barongan moto beling" merupakan gambaran sepasang mata Singo Barong yang dibuat dari kelereng berukuran besar dan berbahan dasar kaca. Parikan ini ingin menyatakan bahwa semangat perjuangan anak bangsa tak mengenal kompromi dalam melawan penjajah.

Hal ini semakin jelas apabila kita mendengar lirik selanjutnya "ndhas pethak ditempiling". Menggambarkan semangat para seniman yang waktu itu ingin sekali menempeleng kepala para pejabat Belanda yang kebanyakan berkepala botak.

Sifat Kerakyatan
Kesenian barongan merupakan kesenian khas Jawa Tengah. Namun, Kabupaten Blora yang bisa dikatakan paling eksis. Bayangkan saja, dari 295 desa di Kabupaten Blora, terdapat 625 paguyuban kesenian barongan. Artinya, setiap desa minimal memiliki dua grup kesenian barongan.

Apalagi, beberapa budaya tradisi mensyaratkan keterlibatan kesenian barongan di dalamnya. Tradisi lamporan—ritual tolak bala yang berasal dari Desa Kunden, misalnya, mengharuskan keterlibatan barongan. Bahkan, justru Singo Barong yang dianggap sebagai pengusir tolak bala.

Tak mengherankan bila kesenian barongan sangat populer dan sangat lekat dengan kehidupan masyarakat pedesaan di Kabupaten Blora. Mereka beranggapan bahwa barongan telah berhasil mewakili sifat-sifat kerakyatan mereka, seperti spontanitas, kekeluargaan, kesederhanaan, tegas, kekompakan, dan keberanian yang didasarkan pada kebenaran. (Diasz Kundi)

— Baca artikel lengkapnya di Majalah Warisan Indonesia Vol.01 No.10 —

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED

Azerbaijan Menggoda Turis

Rabu, 14 Nov 2018 12:10 WIB

Azerbaijan jadi salah satu negara dengan perkembangan pariwisata tercepat dunia. Terus genjot pariwisata, Azerbaijan rilis video tentang keindahan alamnya.