Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 14 Nov 2011 20:56 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Pulau Sangiang, Surga Tersembunyi

Aymara Apache
d'travelers
Foto 3 dari 5
Dilihat dari menara prancis
Dilihat dari menara prancis
detikTravel Community -

Sore itu, ya sore itu aku sangat menikmati matahari yang melintas untuk menghabiskan masa sisa edarnya dari ketinggian sekira 30-35 meter dari puncak menara. Menara Prancis orang menyebutnya dan di bangun oleh Jerman pada tahun 1999 Di temani tingkah polah camar dan elang yang siap memangsa dari udara, tatapanya tajam mengamati setiap gerak geriknya, Dalam satu tarikan nafas Elang dan Camar itu menghujam laut dan dalam sekejap sudah berada di udara kembali dengan membawa seekor ikan diparuhnya Kolaborasi tiga, itu teori yang aku buat sendiri dan itu hanya aku sendiri dan untuk aku sendiri, yang jika kawan mendebatnya itu tak jadi soal, sebab memang itu adalah fikiran bebasku, dan memang belum tentu keshahihannya tentang teori itu.

Sarapan selesai dan kami bergegas untuk repacking karena kami akan memulai hiking menuju Gua atau tepatnya sebuah cerukan yang jika beruntung kita akan melihat beberapa ekor hiu sedang menunggu kelelawar itu jatuh. Sungguh sebuah siklus kehidupan yang sepertinya ekstrem namun sebenarnya itu adalah sebuah keseimbangan alam. Kami semua siap dan mulai kembali berjalan untuk mengexplore pulau itu. Oh ya kawan, kami semua berjumlah dua puluh satu orang. Namun yang ikut menuju gua dan pantai pasir panjang hanya 12 orang plus 1 orang guide, dan teman-teman yang tidak ikut, mereka di dermaga, snorkeling sepuasnya dan memasak untuk kami-kami yang mengexplore gua dan pantai.

Tepat pukul 10.00 pagi, kami mulai menyusuri jalan yang sepertinya pulau milik kami, karena memang pada saat itu hanya kami yang datang mengunjunginya. Kami persis semut, beriringan dan berantai. Perjalanan diawali dengan melalui jalan setapak yg rata dan mendatar, rupanya tepat di dermaga itu hanya ada 2 pondokan yang ditinggali, yang sempat juga aku berbincang dengan mereka. Kami terus berjalan menyusuri jalan itu. Waw, sungguh pemandangan yang sangat unik, hutan bakau sepanjang kanan kiri kami menyambut dengan ceria, rawa-rawa dengan nyamuknya terus menggoda kami, seakan ingin mengajak kenalan. Rupanya ada seorang pengemudi motor yang berbaik hati untuk mengantarkan beberapa dari kami menuju perkampungan. Dan memang tinggal sebentar lagi kami akan tiba di sebuah perkampungan.

Di Pulau sangiang ini rupanya ada sebuah perkampungan yang namanya lagon waroo, atau lagoon waru, dan yang tercatat disana ada 50 kepala keluarga namun kemungkin besar lebih, itu berdasarkan informasi yang aku dapat dari seorang yang tinggal disana. Di perkampungan itu dalam berkomunikasinya menggunakan 3 bahasa sekaligus, sunda, jawa, dan lampung. 

Kami pun melanjutkan perjalanan, dan tidak terasa rupanya Goa yang kami tuju sudah tepat di depan mata kami, cahaya matahari itu masuk melalui melalui lubang persis di tepi pantai dan tembus ke ujung gua, tempat kami sekarang. Suara ombak bedebam menghantam karang di ujung gua itu, hewan bermuka kutukan itu menggantung di dinding-dinding gua. Beberapa ekor hiu melintas ke ujung gua berspekulasi mengharapkan kelelawar itu jatuh dan siap dimangsanya.

Setelah puas kami segera pulang menuju dermaga untuk makan siang yang sepertinya sudah disiapkan oleh teman-teman yang tidak ikut. Sebelum kami pulang kami semua masih sempat menikmati snorkeling di dermaga, melihat keindahan laut yang masih sangat terawat, airnya begitu jernih dan ikan-ikan kecil datang menggoda. Dari itu semua, aku mencoba yang lain, aku coba hunting Gurita dan Bintang Laut. Sungguh sensasional berburu gurita, melihat langusung serangannya dan eratnya tentakel menempel di lenganku, aku kaget, takut dan melompat, tetapi setelah aku tahu tekniknya aku kembali dan sukses. Aku dapatkan Gurita dan Bintang Laut.

Semua itu aku dapatkan di pulau yang konon merupakan tempat berkumpulnya para waliyulaah untuk mengadakan rapat dan mengambil keputusan-keputusan strategis dalam menjalankan roda keagaamaan pada waktu dulu. Yang juga merupakan Pulau dimana pada masa zaman penjajahan Jepang merupakan pulau dimana tempat menaruh harta karun dari bumi pertiwi yang kemudian diangkut kenegaranya, dan juga pulau dimana masih sangat terjaga keasriannya, baik flora maupun faunanya.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED