Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 16 Des 2011 12:13 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Taman Wisata Kambang Iwak, Palembang

Adrian Fajriansyah
d'travelers
Foto 1 dari 5
Kambang Iwak
Kambang Iwak
detikTravel Community -

Sejarah mencatat Indonesia dijajah oleh Kompeni Belanda selama 3,5 abad sejak jaman VOC hingga Hindia Belanda. Tentunya dari rentan tahun jajahan yang cukup lama itu banyak sekali jejak-jejak peninggalan bersejarah dari zaman Kompeni dihampir seluruh tempat di Indonesia tidak terkecuali di Palembang, Sumatera Selatan. Salah satu jejak peninggalan Kompeni Belanda di Kota Palembang adalah Taman Wisata Kambang Iwak. Tidak tahu persis apa nama taman ini dijaman Belanda tapi yang jelas taman ini dibuat saat jaman Belanda diperuntuhkan untuk warga Belanda yang bermukim disekitaran taman tersebut sebagai saranan rekreasi keluarga. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya permukiman warga Belanda disekitaran Taman Wisata Kambang Iwak yang sekarang nama daerah tersebut adalah kawasan Talang Semut. Salah satu bukti lagi bahwa kawasan Talang Semut dahulu adalah permukiman elite warga Belanda adalah bangunan mewah yang sekarang menjadi rumah dinas Walikota Palembang yang hingga sekarang masih kokoh berdiri. 

Kembali ke Taman Wisata Kambang Iwak dari informasi yang saya himpun dari salah satu acara sejarah di salah satu stasiun TV swasta nasional mengatakan bahwa dahulu taman ini dibuat seiring dengan adanya rencana dari Residen (Walikota) Palembang saat itu yang ingin menjadikan Palembang sebagai kota taman layaknya Bandung di Jawa yang sudah lebih dahulu tenar menjadi kota taman yang asri di Hindia Belanda.  Oleh sebab itulah sekitar tahun 1900an kawasan Talang Semut dibuat seasri mungkin dengan ditanami pohon-pohon besar yang rindang kemudian dibuat pula sebuah taman sebagai tempat berkumpul dan rekreasi warga Belanda yang bermukim di Palembang, taman yang dibuat tahun 1900an itulah yang kelak menjadi Taman Wisata Kambang Iwak yang kita kenal saat ini.  Sampai saat ini pohon-pohon rindang yang ditanami Kompeni Belanda saat itu masih kokoh berdiri memberikan suasana yang begitu asri dikawasan ini ditemani dengan rumah-rumah berarsitektur kolonial disekitarannya menjadikan kawasan Talang Semut dan Taman Wisata Kambang Iwak yang ada ditengahnya sebagai salah suatu tempat favorit warga Palembang yang ingin melepas penat.

Sejarah pun mencatat selepas Belanda angkat kaki dari Bumi Pertiwi pada tahun 1945 kawasan Talang Semut dan Taman Wisata Kambang iwak sedikit terlupakan oleh kita. Daerah ini luput dari perhatian pemerintah padahal apabila dikelola dengan baik kawasan bersejarah ini dapat memberikan daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin berkunjung ke Palembang terutama bagi mereka yang haus pengetahuan sejarah khususnya sejarah Kota Palembang.  Daerah tersebut khususnya Taman Wisata Kambang Iwak pernah mengalami keterpurukan yang sangat parah, saat itu sekitar tahun 1980-1990-an kawasan taman ini menjadi basecamp para Waria dan Pelacur di Kota Palembang, taman tersebut menjadi tempat prostitusi masal dan tempat muda-mudi memadu kasih ilegal (maksiat) sehingga bila malam datang banyak warga yang enggan untuk datang ke tempat ini. Selain itu, menurut cerita orang tua saat itu pula sering ditemukan karung berisikan mayat orang korban dari Petrus (Penembak Misterius) yang marak terjadi di era orde baru dahulu.

Namun, akhirnya di awal millennium (awal 2000-an) semuanya berubah Kota Palembang berbenah terutama untuk menyambut PON tahun 2004 (PON pertama di luar Pulau Jawa). Semua sudut Kota Palembang disulap menjadi kawasan elite, Jembatan Ampera bersolek dengan kemasan warna cat yang baru, Kawasan Benteng Kuto Besak dirombak abis-abisan menjadi Plaza BKB yang bersih, pembangunan di Kota Palembang menjadi marak. Semuanya berubah tidak terkecuali Taman Wisata Kambang Iwak. Awal 2000-an adalah momentum perubahan di Kota Palembang, pemerintah gencar mempromosikan Kota Palembang sebagai kota wisata yang wajib dikunjungi. 

Oleh karena itu, semua potensi wisata di kota tertua di Indonesia ini direnovasi habis-habisan, sehabis PON 2004 ada program VISIT MUSI 2008 kemudian hadir pula SEA GAMES 2011.  Semua kawasan di Kota Palembang tidak luput dari pembangunan salah satu daerah yang tidak boleh dilupakan adalah kawasan Talang Semut berserta Taman Wisata Kambang Iwak di tengahnya, kawasan tersebut dirombak habis-habisan, Taman Wisata Kambang Iwak yang dahulu angker dan jorok dirubah menjadi tempat yang mewah dan modern hingga sekarang menjadi tempat berkumpul wajib bagi warga Kota Palembang, rasanya belum gaul kalau tidak kumpul-kumpul di taman tersebut. 

Mengapa Taman Wisata Kambang Iwak begitu diminati saat ini? Jawabannya karena taman tersebut sekarang telah bertransformasi menjadi daerah modern selain itu taman tersebut juga memang terkenal begitu asri karena dikelilingi oleh pohon-pohon besar yang sangat rindang sehingga memberikan kesejukan di Kota Palembang yang terkenal panas dan juga di tengah-tengah taman terdapat danau yang bersih dilengkapi air mancur yang hidup setiap jam sepanjang hari yang dapat memberikan kenyamanan dan ketenangan kepada setiap penikmatnya. Tidak hanya itu saja Taman Wisata Kambang Iwak juga banyak dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang bisa membuat wisatawan betah berlama-lama bercengkrama di sana.  Adapun sarana dan prasarana yang ada di taman tersebut adalah trak jogging bagi anda yang ingin berolahraga, kemudian tempat duduk yang banyak terdapat dipinggiran danau taman tersebut, lalu di area taman itu juga banyak terdapat warung atau kedai makan yang menyajikan menu berharga kaki lima hingga bintang lima tersedia lengkap di areal taman ini, untuk anda yang hobi online areal taman ini juga ditunjang dengan hotspot gratisan, dan yang tidak kalah penting pula untuk masuk ke taman ini anda tidak perlu takut dipungut biaya masuk karena taman ini gratis untuk umum.  Bila malam datang taman ini pun masih ramai dikunjungi oleh wisatawan karena saat malam taman ini begitu gemerlap dengan lampu-lampu hias yang mengelilingi hampir disetiap sudut taman.

Dan, yang tidak kalah penting untuk disampaikan dengan segala kelebihannya sekarang kawasan Talang Semut dan Taman Wisata Kambang Iwak sempat dijadikan tempat penilaian yang menghantarkan Kota Palembang mendapatkan penghargaan "Asean Environment Sustainable City 2008, sebagai Kota Terbersih se-Asean."  Juga Taman Wisata Kambang Iwak sempat mendapatkan penghargaan sebagai "Taman Kota Terbaik se-Indonesia, atas nama Kambang Iwak (KI Family Park)".

Inilah gambaran singkat tentang salah satu sudut Kota Palembang sekarang, Palembang kota kuno yang merupakan kota tertua di Indonesia sudah sewajarnya kota ini menghargai semua peninggalan bersejarah yang ada di dalamnya, potensi sejarah yang besar merupakan salah satu modal bagi Kota Palembang untuk menjadi tempat wisata andalan di Indonesia.

Gereja Siloam (Gereja Protestan Tertua di Palembang)

Tidak  jauh dari Taman Wisata Kambang Iwak terdapat sebuah bangunan putih yang tertutupi oleh pepohonan. Bangunan tersebut adalah sebuah gereja tua yang merupakan gereja protestan dengan nama resminya Gereja Siloam. Tahukah Anda bahwa gereja ini merupakan gereja protestan tertua di Kota Palembang. 

Gereja Siloam ini dibangun pada masa pemerintahan Hindia Belanda pada tanggal 13 Agustus 1933.  Pada awalnya gereja tersebut beranggotakan orang-orang Belanda dan Cina sejumlah 144 orang.  Adapun alasan pemerintahan Hindia Belanda membangun gereja tersebut saat itu adalah guna memberikan tempat pribadatan baru bagi mereka pendatang dari Jawa. 

Pendatang dari Jawa sendiri hadir akibat dampak dari kebijakan pemerintah Hindia Belanda yang menyelenggarakan kolonisasi keluar daerah Jawa yang bermula pada tahun 1905 yang di awali ke daerah Gedong Tataan (1905), Bengkulu/Kepahiang (1909), Metro Lampung (1935), Belitang (1937) dan Lubuk Linggau (1937). Kegiatan kolonisasi ke daerah baru ini secara tidak langsung turut membawa tenaga kerja dan orang-orang dari Jawa datang ke daerah baru tersebut.  Kegiatan perpindahan penduduk ini pula yang kelak diterapkan oleh pemerintahan Republik Indonesia guna mengurangi kepadatan penduduk di wilayah Jawa yang memang sudah terkenal sebagai pulau terpadat di dunia, adapun kegiatan tersebut sekarang terkenal dengan nama transmigrasi. 

Kegiatan kolonisasi di daerah baru tersebut terutama di daerah Sumatera diantarnya adalah pembukaan lahan, pembangunan pemukiman (bedeng), pembangunan bendungan/saluran irigasi (Way Sekampung dan Komering), akses jalan, lintas kereta api Tanjungkarang - Palembang - Lubuk Linggau dan sekolah-sekolah.  Mengingat besarnya tenaga kerja yang dibutuhkan dalam proyek kolonisasi di daerah baru itulah membuat pemerintah Hindia Belanda banyak mengangkut orang-orang dari Jawa untuk berkerja secara paksa ke sana, tidak terkecuali orang-orang Kompeni yang bermukim di Jawa ikut datang ke daerah koloni baru tersebut. 

Banyak dari para transmigran dan orang-orang Kompeni dari Jawa yang datang ke daerah koloni baru tersebut merupakan penganut Nasrani dan mereka memerlukan tempat pribadatan baru di tempat koloni baru tersebut untuk beribadah. Oleh sebab itu, pemerintah Hindia Belanda kemudian membangun banyak tempat pribadatan baru yang salah satunya adalah Gereja Protestan yang kelak namanya adalah Gereja Siloam ini.

 Itulah sebersit kisah dari salah satu bangunan peninggalan kolonial Belanda di Kota Palembang. Bung Karno pernah berkata saat beliau memaparkan laporan pertanggungjawabannya di depan anggota MPR pada tahun 1966 sekali pun pertanggungjawabannya itu tidak diterima, adapun salah satu pesan beliau saat itu yang masih terkenang hingga sekarang adalah "JAS MERAH" yang artinya jarang pernah sekalipun melupakan sejarah karena bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghargai sejarah dan perjuangan para pahlawannya.

Tips Dan Trik Ke Taman Wisata Kambang Iwak Palembang

Taman Wisata Kambang Iwak Palembang terletak di daerah Talang Semut, Bukit Kecil.  Taman itu terletak persis disebelah rumah dinas Walikota Palembang.  Akses menuju daerah tersebut tidak sulit, adapunnya tips adalah:

1. Rute transportasi umum menuju taman

Trans musi: rute Prumnas–Pim atau Plaju–PS stop di halte pasar gubah dengan biaya Rp3.000,- per orang ke semua jurusan.

Anggutan Kota (Angkot): rute Prumnas-Ampere, Bukit Besar–Ampere, menggunakan bus kota Bukit Besar–Ampere stop persis di depan Taman Wisata Kambang Iwak dengan biaya Rp2.500,- per orang.

2. Jam kerja atau jam buka taman

Taman Wisata Kambang Iwak buka 24 jam non stop untuk umum.

3. Waktu yang tepat untuk menuju ke taman tersebut adalah pagi dan sore hari karena saat itu adalah waktu yang tepat untuk berolahraga selain itu diwaktu tersebut juga cuaca sangat nyaman untuk menikmati suasana taman yang sejuk dan asri.

4. Di hari sabtu dan Minggu taman tersebut sangat banyak di datangi oleh warga Palembang yang ingin berkumpul baik tua maupun muda yang bersama pasangannya maupun yang bersama keluarga besar.

5. Ingatlah untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan di sekitar anda, buanglah sampah pada tempatnya karena kebersihan adalah sebagian dari iman.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED