Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 06 Mar 2012 17:16 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Hudoq, Tarian Magis Pengusir Hama ala Suku Dayak Bahau

Foto 1 dari 5
Tari Hudoq dengan kostum mirip burung (Halida Agustini/ dTraveler)
Tari Hudoq dengan kostum mirip burung (Halida Agustini/ dTraveler)
detikTravel Community - Masyarakat Dayak Bahau di Kutai Barat, Kalimantan Timur, punya cara tersendiri agar roh-roh jahat menjauh dari hasil panen mereka. Saksikanlah Tari Hudoq yang penuh tradisi, musik, serta kostum yang unik.

Sehabis menanam padi pertama kali, 13 orang Dayak Bahau berganti kostum untuk kemudian menyerahkan diri kepada para leluhur. Mereka mengenakan sebuah topeng kayu yang bentuknya serupa muka burung, dengan cat warna merah dan kuning yang dominan. Konon, dua warna itu adalah kesukaan para dewa.

Sementara itu, tubuh mereka perlahan dibalut oleh ikatan daun pisang. Daun ini merupakan lambang kesejukan dan kesejahteraan. Jadilah mereka seperti manusia setengah burung, sesuai dengan mitos yang turun-temurun di suku itu. Masyarakat setempat percaya, Hudoq adalah roh-roh yang ditugaskan untuk menemui manusia. Namun karena wujudnya yang menyeramkan, mereka diperintah untuk mengenakan baju samaran. Kostum itulah hasilnya.

Jumlah 13 melambangkan 13 dewa yang dipercaya sebagai pelindung tanaman padi, yang disebut Hunyang Tenangan. Sementara itu, seseorang Dayung yang dipercaya punya kekuatan supranatural, mulai melakukan ritual pertama yang disebut Napoq.

Dalam ritual ini, Dayung berkeliling kampung sambil membunyikan gong kecil untuk menyapa para roh penjaga desa. Ia melakukan hal ini ditemani oleh dua orang asisten. Setelah berkeliling, saatnya Dayung menjamu para Hudoq dengan ritual makan siang.

Ritual ini dilakukan dengan cara menyuapi para penari. Mereka, tentu saja sudah dirasuki roh para leluhur ketika selesai mengenakan kostum masing-masing. Sang Dayung lalu mulai melakukan komunikasi langsung. Percaya atau tidak, mereka berkomunikasi dengan bahasa Dayak kuno yang sangat santun dan halus. Hanya sang Dayung yang mengerti bahasa itu!

Dari komunikasi verbal ini, diketahui kelanjutan hasil cocok tanam saat itu. Sang Dayung pun meminta agar para Hudoq melindungi tanaman mereka dari serangan hama, binatang buas, dan fenomena alam yang ganas. Inilah esensi dari Tari Hudoq, yaitu permintaan warga setempat untuk mengusir roh jahat dari hasil panen mereka.

Upacara kemudian dilanjutkan dengan ritual menarik nyawa padi. Sambil berbaris dalam satu jajar, para Hudoq menarik nyawa padi tujuh kali. Hal ini dilakukan sambil membaca mantera.

Setelah itu barulah ritual tari bisa dilakukan. Biasanya, mereka menari di tengah lapangan atau sawah yang tengah ditanami padi. Dengan ritme cukup tinggi, para Hudoq melakukan gerakan maju sambil menghentakkan kaki dan tumit diiringi gerakan tangan mengibas. Layaknya seekor burung yang sedang terbang.

Selain untuk ritual tahunan, Tari Hudoq juga biasa dilakukan sebagai atraksi pagelaran budaya. Anda bisa datang sendiri ke pemukiman suku Dayak Bahau ini untuk melihat sendiri Tari Hudoq yang berbalut magis.
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED