Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 02 Mei 2012 15:10 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Rekam Sejarah Setetes Ilmu di Museum Pendidikan Indonesia

Desi Puspasari
d'travelers
Foto 2 dari 3
Daun lontar, grip, dan sabak merupakan alat tulis zaman dahulu (Sumber: detikFoto)
Daun lontar, grip, dan sabak merupakan alat tulis zaman dahulu (Sumber: detikFoto)
detikTravel Community -

 

Di Museum Pendidikan Indonesia, Yogyakarta selamilah makna Hari Pendidikan Nasional. Guratan daun lontar hanyalah satu dari banyak bukti perjuangan untuk meraih setetes ilmu.

Yogyakarta memang sudah dikenal sebagai kota pelajar. Hal ini dikarenakan hampir 20 persen penduduknya adalah pelajar. Oleh karena itu tidak heran kalau banyak anak-anak Indonesia yang ingin menempuh pendidikan di Yogyakarta. Perguruan negeri yang populer ada di kota ini, seperti Universitas Gajah Mada dan Universitas Negeri Yogyakarta.

Ada yang unik di dalam kawasan Universitas Negeri Yogyakarta. Bangunan putih yang bertuliskan Museum Pendidikan Indonesia mengisi salah satu lahan di belakang gedung rektorat dan di samping foodcourt universitas tersebut. Kalau tidak mendapatkan info khusus, wisatawan tidak akan mengetahui ada museum di dalam kampus.

Di dalam museum yang diresmikan oleh Sultan Hamengkubuwono X pada tahun  2008 ini wisatawan bisa melihat alat tulis zaman dahulu, seperti daun lontar, sabak, grip, globe yang terbuat dari kayu, dan sepeda kuno Humbers buatan Inggris menjadi penghuni museum ini. Dunia pendidikan zaman dahulu memang tak mengenal pensil, pulpen, buku pelajaran, dan kertas tapi mereka tetap bisa sekolah.

Mengintip situs resmi Museum Pendidikan Indonesia, Rabu (2/5/2012) museum ini memiliki koleksi benda, arsip-arsip penting pendidikan, video, dan buku. Selain itu, untuk wisatawan yang ingin datang bersama rombongan bisa mendaftar terlebih dahulu lewat situs resminya di mpi.uny.ac.id.

Nah, museum yang buka setiap Senin-Jumat ini memiliki beberapa fasilitas unggulan yang sayang bila Anda lewatkan. Semua fasilitas ini memberikan pengetahuan yang berbeda-beda. Mulai dari alat belajar-mengajar, foto-foto tokoh pendidikan, media pembelajaran, diorama kegiatan belajar-mengajar, sampai ruangan khusus untuk melihat pemutaran video pendidikan zaman dahulu semuanya ada di sini.

Kerennya lagi, ruang cinema yang digunakan untuk menonton video ini dilengkapi dengan sistem Dolby Surround Sounds dan 116 kursi. Wow, ternyata ada 'bioskop' juga di dalam Museum Pendidikan Indonesia.

Meskipun memiliki fasilitas yang tergolong bagus, biaya masuknya sangat murah hanya Rp 2.500 per orang. Walaupun, museum ini hanya buka pada hari biasa, wisatawan yang mendaftar untuk study tour tetap bisa datang pada hari Sabtu dan Minggu.

Kalau Anda berkunjung ke Yogyakarta jangan lupa berkunjung ke sini. Sekarang kita bisa menikmati berbagai kemudahan saat bersekolah, tapi zaman dulu butuh perjuangan.

 

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED