Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 25 Sep 2013 17:20 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Keren! Bisa Memberi Makan Gajah di Hutan Langkat

muna rifky
d'travelers
Foto 4 dari 4
Memberi makan gajah
Memberi makan gajah
detikTravel Community -

Berlibur ke Tangkahan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara yang letaknya terpencil, rupanya sangat mengesankan. Wisatawan bisa mandi di sungai bersama gajah dan memberi makan hewan besar itu. Seru banget!

Sudah cukup lama kawasan wisata alam Tangkahan, di Kabupaten Langkat, menjadi target liburan berikutnya. Tetapi baru terlaksana pada liburan beberapa waktu lalu setelah salah seorang teman mengajak ramai-ramai ke sana. Karena informasinya tidak ada yang berjualan di sana, maka makanan anak-anak dan makan siang pun dicukupi. Tak lupa baju ganti karena Tangkahan adalah kawasan wisata tepian sungai.

Di samping menikmati tepian sungai, ada juga atraksi dengan gajah dan treking ke dalam hutan karena daerah itu merupakan salah satu sisi dari Taman Nasional Gunung Leuser, seperti halnya Bukit Lawang di Bahorok.

Esok paginya perjalanan dimulai dari Kota Binjai sudah pukul 09.00 WIB lebih, dengan 2 mobil berisi 14 orang termasuk 2 balita dan 3 anak-anak. Dari Binjai mobil bergerak menyusuri jalan raya Medan-Banda Aceh, melewati Kota Stabat, Ibukota Kabupaten Langkat. 6 Km selepas Stabat, kami belok kiri di pertigaan Simpang Beringin.

Kami menuju ke arah Sawit Seberang-Padang Tualang. Setelah Padang Tualang, Tanjung Selamat dan Batang Serangan, jalan mulai tambah menyempit. Kami pun memasuki perkebunan Kuala Sawit milik PTP Nusantara II. Setelah 11 km lebih menyusuri jalan kebun sawit, sampailah di Desa Namo Sialang dan tak lama kemudian pintu gerbang Tangkahan pun tercapai. Ada pembelian karcis masuk mobil di pintu masuk itu oleh petugas tak berseragam. Turun dari mobil kami memasuki bangunan Visitor Information yang berdinding bambu.

Tiket masuk Rp 3.000/orang. Murah kan! Kemudian kami terus keluar ke belakang dan langsung nampak sungai di antara rimbunan pohon. Jadi, kawasan wisatanya merupakan tepian sungai pegunungan yang cukup lebar. Sehingga terdapat area berpasir yang cukup luas. Di situ adalah titik pertemuan antara Sungai Batang Serangan yang besar dan Sungai Buluh sebagai anak sungainya.

Kami diberitahu kalau mau menikmati mandi di sungai, lebih asyik menyeberangi Sungai Batang dan menyusuri Sungai Buluh di seberangnya. Memang suasananya Sungai Buluh dari kejauhan terlihat lebih eksotis daripada Sungai Batang yang deras dan berair kecoklatan.

Kami menyeberang dengan perahu getek, ongkosnya pulang pergi cuma Rp 3.000/orang. Sampai di seberang kami langsung menyusuri Sungai Buluh. Cuma kali ini cukup berjalan saja, karena ketinggian air hanya sebatas lutut orang dewasa. Setelah 200 meter  menyusuri sungai berbatu kecil-kecil akhirnya kami menemukan tempat yang pas sebagai tempat berteduh. Segeralah tikar dibentang, tenda dibuat, segala bekal dikeluarkan.

Para ibu mulai mengeluarkan jurus-jurus persiapan makan siang karena sudah pukul 12.00 WIB dan perut pun sudah mulai lapar. Sepanjang siang itu kami menjadi seperti anak-anak kecil lagi, bermain air. Hanya karena baju dan celana sudah terlanjur basah saat menyeberang tadi, anak-anak akhirnya tak perlu lagi ganti baju dan langsung bersenang-senang di air.

Sungai Buluh berair lebih jernih, aliran sedang dan banyak bagian yang sedalam dada. Tempat ini cocok untuk bermain tubing dengan ban yang disewakan, atau sekedar berendam. Alam sekitarnya masih asli hutan Taman Nasional Gunung Leuser dengan pohon-pohon raksasanya. Di arah hulu ada air terjun kecil dan sumber air panas, kata warga setempat.

Semakin siang banyak juga rombongan yang datang, ada pula yang memancing. Untunglah masyarakat sana sepertinya sudah sadar tentang lingkungan, jadi tak satupun sampah terlihat berserakan. Untuk keperluan salat, harus menyediakan sendiri karena tidak ada musala. Tapi, justru salat di tepi sungai dan alam liar seperti itu mengasyikan.

Ketika kembali ke parkir mobil, kami memutuskan untuk meneruskan petualangan melihat penangkaran gajah. Lokasinya 1 km dari tempat parkir. Menurut jadwal saat ini adalah saatnya mereka mandi. Ada juga tulisan kalau hari Senin dan Kamis atraksinya ditutup karena gajahnya dipakai untuk patroli hutan.

Sampai di CRU (Conservation Response Unit) tempat gajah itu berkandang, memang tak terlihat aktivitas apa-apa. Salah seorang di sana menunjukkan arah menuju sungai jika ingin melihat gajah. Sampai di tepi sungai, ada 7 ekor gajah sedang mandi. Wah! 6 gajah dewasa dan satu anak gajah. Kami hanya bisa melihat dari jauh karena untuk ikut memandikan harga karcisnya Rp 50.000 per orang.

Lain kali kalau ada kesempatan ke sini wajib masukkan agenda ini. Memang benar, ketika itu tidak ada yang mau atraksi memandikan, para pawang gajah pun mulai mengentas mereka satu per satu. Kalau mau memberi makan gajah, ada yang menjual pisang kepok mentah, Rp 10.000 sesisir.

Lalu ketika gajah mulai mendekat untuk naik ke atas, kami ramai-ramai memberi pisang satu per satu yang langsung diambil gajah dengan belalainya. Macam-macam tingkah anggota rombongan. Ada yang berani, ada yang takut-takut, ada yang geli.

Gajah yang pertama jalan adalah yang paling besar dan punya gading panjang. Lalu berikutnya menyusul gajah lain termasuk si gajah kecil. Setelah semua gajah lewat dan naik, kami pun mengikuti dari belakang sambil melihat pantatnya yang sungguh besar itu melenggak-lenggok. Sesampai di atas ternyata makanannya berupa daun-daun sawit sudah bertumpuk di halaman.

Lalu oleh pawangnya pelepah daun sawit itu dipatahkan di tengahnya lalu dilempar ke punggung gajah. Rupanya masing-masing gajah-gajah itu disuruh membawa makanannya sendiri. Sedangkan yang paling besar yang masih punya gading, dia membawa daun sawit itu dengan gading dan belalainya.

Lalu para gajah pun masuk ke kandang, yaitu sebidang lapangan yang dipasangi kabel di sekelilingnya. Kata pawangnya, pagarnya dialiri listrik untuk mencegah gajah keluar.

Maka selesailah sudah kami menengok si gajah besar itu. Kami pun meninggalkan kawasan ini dengan penuh kegembiraan karena bisa berinteraksi dengan makhluk super besar itu dengan dekat sekali, bahkan bersentuhan di alam liar ini.

Pengalaman yang sungguh berbeda dibandingkan bila melihat atau naik gajah di kebun binatang. Kami beruntung karena waktunya bisa tepat sekali mereka selesai mandi dan masuk ke kandang.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA