Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 25 Okt 2013 15:51 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Museum Ini Jadi Saksi Sejarah China Benteng Tangerang

Dewi Kania
d'travelers
Foto 1 dari 5
Museum Benteng Heritage, Pasar Lama, Tangerang
Museum Benteng Heritage, Pasar Lama, Tangerang
detikTravel Community - Jika traveler akhir pekan ini ke Tangerang, jangan lupa cari tahu dulu kisah sejarah panjang etnis Tionghoa di sana. Sejarah tersebut dibuktikan di dalam Museum Benteng Heritage di kawasan Pasar Lama, Tangerang. Mau tahu?

Awal bulan lalu saya menyinggahi museum ini, ditemani Fidrian dan Hendra, voulenteer sekaligus pemandu museum. Mereka menceritakan banyak kisah tentang kehidupan China Benteng di Tangerang zaman dulu. Mulai dari awalnya datangnya kaum Tionghoa hingga macam rupa yang terpajang di museum ini.

"Museum ini merupakan hasil restorasi rumah kuno etnis Tionghoa yang diduga sudah ada sejak abad ke-17," kata Hendra

Museum ini awalnya hanya rumah penduduk China benteng sekitar Pasar Lama. Bepuluh-puluh tahun rumah ini tak dirawat. Tahun 2009 kondisi rumah ini amat sangat berantakan, penuh sampah, debu-debu yang menempel sampai berwarna hitam pekat.

Kemudian di tahun 2009 mulai muncul ide menyulap rumah tersebut menjadi sebuah museum yang nyaman dikunjungi. Akhirnya tahun 2011, rumah ini resmi menjadi Museum Benteng Heritage. Pemilik museum ini bernama Udaya Halim.

Hendra menceritakan saat sebelum merestorasi bangunan Pak Udaya berserta adik-adiknya perlu mencari ide dan mengkaji banyak ilmu supaya bangunan ini menjadi cantik. Konstruksi bangunan zaman dulu selalu menggunakan bata, kayu dan kapur yang disusun satu per satu.

"Banyak perbaikan dan pembersihan total yang memakan waktu hingga 2 tahun. Tujuan restorasi ini hanya mengembalikan bentuk asli bangunan dan tidak ada rubahan sama sekali" lanjut Hendra.

Museum Benteng Heritage punya banyak simpanan warisan benda bersejarah yang mengandung cerita tentang kehidupan etnis Tionghoa peranakan yang berdomisili di Tangerang. Semua benda-benda yang ada di dalam museum ini merupakan hasil sumbangan orang-orang China Benteng tentunya.

"Koleksi yang paling unik saat pertama ditemukan di sini adalah tikus, yang besarnya melebihi kucing," canda Hendra

Traveler bisa melihat semua koleksi barang berharga di lantai 1 dan lantai 2. Saat Anda menginjak teras hingga memasuki loby museum, sudah terlihat arsitektur yang kental dengan nuansa Tionghoa. Semua dinding dan pilar kayu dicat putih, coklat, merah dan sebagian kuning.

Berjalanlah perlahan dan lihatlah barang-barang koleksi yang dipajang di setiap sisi bangunan. Semua ornamen yang melekat di dinding museum sangat indah dan banyak artian filosofi yang harus Anda tahu.

Di lantai bawah Anda akan melihat kursi dan meja berwarna coklat melingkar rapi. Ada lukisan-lukisan bercerita kala dulu pertama datangnya etnis Tionghoa. Traveler juga akan melihat lukisan ujar-ujar yang mengandung filosofi kehidupan yang menempel di dinding.

Ada pula prasasti Tangga Djamban asli yang terawat di museum ini. Prasasti ini hampir hilang, namun diselamatkan warga dan dititipkan di museum ini. Saking banyaknya yang mau menyumbangkan, pihak museum sampai menolak, sebab museumnya sudah penuh sekali.

Kemudian saya dan Fidrian, pemandu museum beranjak ke lantai 2. Semakin banyak pajangan yang bisa Anda lihat di sana.
Ada macam-macam timbangan, buku cerita, sejarah kecap benteng yang tersohor turun temurun dan patung dewa-dewa. Tapi Anda tak boleh memotret semua pajangan yang ada di lantai 2.

Ada yang unik di lantai ini. Jika traveler melihat sepatu perempuan kecil imut-imut, pasti Anda menyangka kalau itu sepatu anak kecil perempuan. Ternyata bukan, itu adalah sepatu untuk perempuan dewasa China Benteng yang cukup kuno.

Sejak umur 3-6 tahun, kaki perempuan China memang dulu harus diikat. Lalu sepatu tersebut harus dipakai agar tidak lari dari suami.

Berjalanlah perlahan dan lihatlah ke atas. Anda akan melihat ornamen kuno yang masih asli dari bangunan museum ini. Ornamen tersebut rupanya bukan sembarangan.

Fidrian bercerita kalau patung-patung di atas adalah sepenggal cerita Sam kok, perang 3 negara. Usia ukiran ini kira-kira 300 tahun. Semua furniture museum ini kira-kira sudah ada sejak abad ke-18.

"Semua ukiran dibuat teliti. Ukiran ini 95 persen asli," kata Fidrian

Di sana Anda pun bisa menyaksikan cuplikan upacara pernikahan peranakan China Benteng, yakni Chio Tau. Upacara ini berlangsung 3 hari dan pengantin perempuan menggunakan baju dengan warna berbeda. Semua baju hingga aksesoris yang dipergunakan pengantin wanita pun bisa di lihat di sini.

Museum ini bukanya setiap hari Selasa-Jumat pukul 13.00-18.00 wib. Sabtu-Minggu buka pukul 11.00-19.00 wib. Sebelum melihat-lihat koleksi museum,bayar dulu tiket masuk seharga Rp 20.000 saja ya. Yuk ke sana sekarang!
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED