Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 23 Des 2013 11:50 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Rawa Danau, Rawa yang Langka di Dunia

Anggi Agistia
d'travelers
Foto 1 dari 5
Rawa Danau, Serang
Rawa Danau, Serang
detikTravel Community -

Objek wisata alam Rawa Danau di Serang, Banten bisa menjadi tujuan petualangan di akhir tahun. Bayangkan, ini adalah rawa tapi airnya air tawar. Tak heran rawa sejenis ini dikategorikan langka di dunia.

Berangkat dari rasa penasaran, kami akhirnya memutuskan mencari lokasi Cagar Alam Rawa Danau. Sebelumnya seorang teman, sempat beberapa kali mencoba menyusuri jalanan menggunakan sepeda untuk mencari tempat ini, tapi hasilnya masih nihil.

Berbekal informasi minim dari blog maupun website wisata Banten ditambah sedikit modal nekat tanpa berbekal GPS, berangkatlah kami menuju kawasan Cinangka, Anyer sebagai salah satu jalan alternatif ke sana. Dari kawasan Anyer, daerah Cinangka berada di sebelah kiri jalan, atau jika dari arah Pantai Carita sekitar beberapa puluh kilometer di sebelah kanan jalan.

Begitu masuk daerah Cinangka, pemandangan perkebunan juga pesawahan siap memanjakan mata pengunjung yang melewatinya. Kondisi jalanan yang cukup baik juga mendukung perjalanan siang hari itu walaupun rutenya sedikit menanjak dan berliku. Tak lama kami tiba di Pasar Padarincang.

Berdasarkan petunjuk dari salah seorang teman, dari sana kami menuju sebuah jembatan besar di mana nantinya ada semacam gapura yang menunjukkan kawasan Rawa Danau. Sampai akhirnya kami menemukan jalan itu, Desa Citasuk namanya. Sayang, kondisi jalan memasuki desa ini cukup memprihatinkan.

Sekitar 15 menit menyusuri jalanan desa, kami sampai di ujung jalan dekat pematang sawah. Pemandangan hamparan sawah, buruh-burung berterbangan juga para ibu-ibu tani yang hendak pulang ke rumah juga jadi hiburan tersendiri. Di sana jalanan tak lagi bersahabat. Seorang ibu tani malah mengatakan bahwa jalanan 'ledok' (bahasa Sunda) yang artinya becek berlumpur.

Dari pemukiman warga kami menyusuri hutan. Dari informasi ibu petani saat hendak melewati pematang sawah, memang disebutkan kalau hendak ke Rawa Danau harus menggunakan perahu yang dapat disewa ke warga sekitar. Berhubung keterbatasan waktu akhirnya kami hanya melihat-lihat lokasi saja.

Pepohonan menjulang juga ilalang-ilalang tinggi sempat membuat pikiran kami membayangkan sesuatu yang dapat dikatakan sedikit menyeramkan. Rawa Danau ini memang merupakan cagar alam yang dilindungi oleh Pemerintah Kota Serang. Dari informasi yang saya dapatkan, katanya kawasan ini merupakan salah satu ekosistem rawa tropis yang mulai langka di dunia.

Lebih dari pada itu, Rawa Danau ini juga mempunyai peranan penting sebagai sumber air bagi masyarakat sekitarnya. Air sungai yang berwarna kecoklatan karena mulai memasuki musim penghujan membuat kami tak berselera untuk kembali ke desa dan mencari perahu. 

Awalnya sebuah daun berukuran cukup lebar menjadi penutup kepala setidaknya sebagai penghalang dari siraman air hujan yang makin deras. Tapi angin juga tak bersahabat, ia bertiup kencang dan membuat pakaian kami basah sekujur badan.

Setelah hujan mereda, kami melanjutkan perjalanan, sudah terlanjur basah jadi sayang sekali jika perjalanan ini dihentikan. Semakin menyusuri sungai, ilalang-ilalang ini semakin tidak karuan, semakin tinggi dan sedikit menakutkan.

Beberapa kali saya hampir menginjak kepiting, lalu pikiran saya melayang pada aneka binatang lainnya kalajengking, ular dan lain sebagainya. Yang seru, saat kami berjalan banyak monyet-monyet bergelantungan di pepohonan. Jumlahnya mungkin lebih dari 10 ekor.

Sempat beberapa kali ragu memilih jalan menuju perkampungan, beberapa kali atau bahkan sering kali kaki kami tergelincir saat berjalan di atas kondisi tanah sehabis hujan. Oleh karena itu akhirnya saya melepas sepatu di tengah perjalanan sejak turun hujan. Saking ingin segera pulang, kaki saya yang sakit pun saya abaikan.

Akhirnya kami sampai dipemukiman warga dan tadinya hendak langsung melewati sawah tanpa membersihkan kaki dan tangan yang kotor karena lumpur, tapi rasanya risih sekali walaupun kelak melewati sawah akan kotor lagi. Di sana ada sebuah sumur, yang tentu mengharuskan kami menimba jika ingin menggunakan airnya.

Menimba beberapa kali, mencoba membersihkan kotoran-kotoran di kaki, tiba-tiba saya kaget 'Ah, lintah!'. Benar saja, di kaki kami terdapat begitu banyak lintah. Panik, kami menarik satu persatu lintah itu dari kaki dan alhasil bagian kaki yang dihisap mengeluarkan darah yang terus mengalir. Uh.

Belum selesai sampai di situ. Setelah pulang melewati perkampungan, di perjalanan kami mampir di satu pom bensin untuk memastikan badan kami bebas dari lintah. Saya menemukan satu lagi lintah menempel di kaki.

Jadi, jalan-jalan kali ini walaupun agak ekstrem dan menyeramkan, tapi lebih dari sekadar menyenangkan!

BERITA TERKAIT
BACA JUGA