Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 10 Feb 2014 09:50 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Selamat Datang di Sembungan, Desa Tertinggi di Pulau Jawa

Darwance Law
d'travelers
Foto 1 dari 5
Pintu Gerbang Desa Sembungan.
Pintu Gerbang Desa Sembungan.
detikTravel Community - Dari sekian banyak desa yang bisa dikunjungi traveler, tampaknya Desa Sembungan adalah yang paling menarik. Desa yang ada di dataran tinggi Dieng ini berada di ketinggian 2.306 mdpl dan jadi yang tertinggi di Pulau Jawa. Wow!

Dataran tinggi Dieng memang menyajikan kombinasi pemandangan yang menarik. Selain kecantikann Telaga Warna yang sudah tersohor, legenda rambut gimbal di Kawah Sikidang, Candi Arjuna, golden sunrise di puncak Sikunir, flora Carica yang khas, serta masih banyak lagi.

Ada satu lagi fenomena di Dieng yang membuat saya terkagum-kagum, yakni Sembungan, yang ternyata adalah desa tertinggi di Pulau Jawa. Sungguh menakjubkan bukan? Itulah sebabnya tak lama lalu, saya kembali mengunjungi Dieng untuk yang kedua kalinya.

Satu tahun yang lalu, saya sempat berkunjung ke Dieng bersama beberapa orang teman, termasuk Adam Wijaya Medantara, laki-laki gagah asli Wonosobo yang bertindak sebagai tour guide sekaligus tuan rumah bagi kami di tananah kelahiran yang selalu ia banggakan itu.

Apabila dulu kami diajaknya mengunjungi Candi Arjuna, Kawah Sikidang, Telaga Warna, lalu naik perahu mengarungi Telaga Menjer, maka kali ini kami diajaknya menyaksikan golden sunrise di puncak Sikunir sebagai tujuan utama. Pukul 03.00 WIB, saya, Anisa Rahardini gadis Magelang, dan Putu Dian Pratiwi gadis Bali yang unik itu, serta Adam sendiri, memaksakan diri kami masing-masing membuka mata, membebaskannya dari rasa kantuk yang sulit dilawan.

Maklum, selain cuaca di Wonosobo yang dingin, perjalanan melelahkan dari Yogyakarta sehabis magrib itu pun sepertinya menjadi penyebab utama. Ditambah pula siangnya kami harus berhadapan dengan seorang profesor di kampus, menjalankan ujian lisan satu mata kuliah. Namun akhirnya kami berhasil bangun, dan segera menuju puncak Sikunir, membelah hitamnya dinihari di Wonosobo.

Sepanjang jalan yang berkelok, naik turun, dan di balik jendela kaca mobil yang masih berembun, sesekali kami melihat penduduk setempat yang mulai menjalanakan aktivitas mereka sehari-hari. Ibu-ibu terlihat membawa sayur mayur, bapak-bapak mengangkut kentang dalam karung, serta mobil pengangkut aneka hasil bumi pada sebuah pasar.

Pemandangan yang sangat unik, sebab kain sarun selalu terikat kuat di leher mereka. Pemandangan unik khas Dieng saya kira.

Selain itu, dari jalan yang berkelok diatas perbukitan, dengan leluasa kami juga bisa menyaksikan keindahan pemukiman penduduk yang berkelip oleh cahaya lampu. Dinihari itu, kami menyebut pemandangan itu sebagai Bukit Bintang-nya Wonosobo. Di Yogyakarta, Bukit Bintang adalah kawasan perbukitan di jalan Wonosari, tempat dimana kita bisa melihat Yogyakarta dengan leluasa dari atas ketinggian. Bedanya, cuaca di Wonsosobo dinging sekali.

Singkat cerita, sampailah kami di depan sebuah masjid. Masjid itu cukup besar, ada tiga lantai seingat saya. Itulah masjid milik masyarakat Desa Sembungan, yang disebut-sebut Adam sebagai desa tertinggi di Pulau Jawa.

Sepanjang perjalanan, berkali-kali kawan saya yang makmur itu mengatakan perihal itu. Sangat bangga dia dengan predikat itu rupanya. Saya tak heran lagi. Saya sudah cukup paham bagaimana Adam yang menggebu-gebu bila sudah membanggakan sesuatu, termasuk perihal Dieng.

Mulanya, saya tak percaya begitu saja dengan ucapan Adam. Bukan sebab Adamm yang terlampau sering berbohong, melainkan seingat saya desa tertinggi di Pulau Jawa itu adalah Ranu Pane, desa di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Senmeru di Jawa Timur. Saya tak membantah Adam, sebab saya pun masih ragu dengan apa yang saya ketahui kala itu.

Ah, mungkin saja Adam benar, saya yang keliru, atau bisa jadi sebaliknya. Subuh menjelang, malam masih hitam, sehingga tak ada tulisan yang bisa kami lihat yang menginformasikan perihak predikat desa itu.

Paginya, saat kami keluar meninggalkan Desa Sembungan, maka terkuaklah perihal desa tertinggi itu. Pada sebuah pintu gerbang yang berdiri gagah di pintu masuk desa, tertera tulisan," Welcome To Sembungan Village, Desa Tertinggi di Pulau Jawa".

Ternyata Adam tak sedang bersenda, dan saya keliru. Selanjutnya saya pun mengerti, Desa Ranupane itu desa terakhir sebelum mendaki Semeru, gunung tertinggi di Pulau Jawa, bukan desa tertinggi. Setelah saya cari informasi, ternyata tinggi desa ini sekitar 2306 mdpl. Wow!

Sembungan tidak hanya sekadar menyandang gelar itu saja, melainkan banyak keindahan alam yang ditawarkan di desa ini. Selain cuacanya yang dingin tentunya, perkebunan Carica yang terhampar hampir disetiap sudut desa, begitu banyak tempat wisata yang menjadi buruan para pelancong, seperti golden sunrise di Bukit Sikunir, Telaga Cebong, Gunung Pakuwojo, dan Curug Sikarim.

Nah, tunggu apalagi, datanglah dan rasakan sensasi desa tertinggi di Pulau Jawa. Salam traveler!
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED