Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Sabtu, 06 Sep 2014 12:40 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Akhir Pekan nan Berkesan di Pulau Pari

Derry N
detikTravel Community
Foto 1 dari 4
Pulau Pari
Pulau Pari
detikTravel Community -

Pulau Pari di Kepulauan Seribu dapat menjadi opsi libur weekend dekat Jakarta. Anda perlu terlebih dahulu menuju daerah Muara Angke, kemudian lanjut naik kapal. Suasana di Pulau Pari masih asri, liburan pasti berkesan.

Tanggal 13 Agustus 2014, Pukul 04.30 WIB, Rafael membangunkan saya untuk segera berangkat ke Muara Angke. Saya langsung cuci muka dan mengambil tas yang sudah disiapkan malam sebelumnya. 

Setelah semua sudah siap, kami langsung naik angkot dari depan rumah menuju Stasiun Bojong Gede untuk naik kereta menuju Stasiun Kota. Sesampainya di stasiun, kami menaiki gerbong yang ketiga, para penumpang sudah ramai menunggu datangnya kereta.

Di dalam kereta dengan mata yang masih super ngantuk, dan lelah, para penumpang berjubel memadati gerbong kereta sambil berdesak-desakan karena jam kerja. Rafael dan Felicia hanya bisa tersenyum menikmati pemandangan situasi di dalam gerbong kereta saat jam-jam kerja.

Pukul 06.30 WIB, kereta tiba di Stasiun Kota. Kami turun dari kereta dan berjalan keluar untuk naik angkot menuju dermaga Muara Angke, tapi sayangnya dari kota tidak ada yang langsung dan harus naik 2 kali kendaraan. Bus 02 berwarna biru tujuan Muara Karang, lalu sambung U11 menuju Muara Angke. 

Karena waktu yang sudah mepet, kami memutuskan untuk charter angkot U10 menuju Muara Angke. Setelah tawar menawar dengan supir angkot, akhirnya deal Rp 80.000.

Pukul 07.20 WIB, tiba di Dermaga Muara Angke. Situasi tidak begitu ramai, hanya ada beberapa orang yang juga mau berkunjung ke Pulau Tidung, Pulau Pari, dan Pulau Kelapa. Kapal Fery menuju ke Pulau Pari tidak ada, saya bingung dan langsung memutar otak, sementara pengunjung yang mau ke Pulau Pari cuma sedikit. Di sini kami bertemu dengan grup lain yang mau ke Pulau Pari juga.

Karena jumlah yang sangat sedikit, kapal fery tidak mau mengangkut, dengan sabar kami menunggu. Tak lama kemudian ada beberapa grup lain dengan jumlah yang begitu banyak mau ke Pulau Pari, akhirnya kami bergabung dengan grup tersebut. Dan kapal fery mau mengangkut untuk mengantar kami ke Pulau Pari dengan jarak tempuh 2 jam perjalanan.

Pukul 08.00 WIB, kapal fery KM Dolphin langsung meluncur ke Pulau Pari. Kami langsung duduk di kabin depan untuk menikmati pemandangan laut. Sementara Rafael langsung mengambil posisi tidur, saya dan Felicia ngobrol-ngobrol cerita tentang Kepulauan Seribu. Karena Felicia lelah kurang tidur, dia memutuskan untuk tidur. Sementara saya ngobrol-ngobrol dengan grup lain. Tarif ke Pulau Pari Rp 35.000/orang.

Pukul 10.00 WIB kami tiba di Pulau Pari. Setelah KM Dolphin bersandar di dermaga, kami langsung bergegas turun dan berjalan ke Homestay pak Ibad yang letaknya tidak jauh dari dermaga. Tarif Homestay Rp 300.000/ malam untuk 3 orang tanpa AC, ruangan yang cukup luas. Ada 1 kamar dan kasur spring bed 3, kamar mandi di dalam.

Pulau ini dinamai pari, karena bentuk pulau ini apabila dilihat dari foto udara nampak seperti ikan pari. Pulau Pari adalah destinasi sempurna, untuk merasakan keindahan panorama pantai dalam balutan ketenangan di salah satu gugusan di Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu, DKI Jakarta.

Dengan suasana pulau yang masih asri dan belum ramai wisatawan, pulau ini menjadi pilihan sempurna yang menjanjikan kesegaran dan kepuasan.

Di homestay, Rafael dan Felicia beristirahat sebentar karena kelelahan, sementara saya ngobrol-ngobrol sama pak Ibad si pemilik Homestay. Rencana mau ikutan gabung snorkeling bareng dengan grup lain yang juga bermalam di Homestay pak Ibad dengan membayar sewa perahu Rp 50.000/orang, dan Rp 35.000/set untuk peralatan snorkeling.

Saya sampaikan ke Felicia dan Rafael, tapi mereka tidak tertarik untuk snorkeling. Akhirnya memutuskan untuk berenang di Pantai Perawan. Setelah mereka sudah siap, kami berjalan kaki dari Homestay menuju Pantai Perawan.

Untuk memasuki Pantai Perawan, harus membayar tiket masuk Rp 3.500/orang untuk yang hanya berenang. Rp 10.000 untuk yang kemping di lokasi Pantai Perawan. 

Di lokasi ini banyak terdapat peringatan untuk tidak membuang sampah sembarangan, sebagai bentuk sadar akan sebuah lingkungan yang bersih. Pasir putih yang halus, tumbuhan-tumbuhan di sekitar pantai, lapangan volley, dan juga air yang sangat jernih, tenang, dan tidak begitu dalam.

Pulau Pari memiliki keunikan berupa cekungan yang mampu menampung serapan air hujan yang jatuh ke permukaan. Akibatnya air di Pulau Pari menjadi air tawar, tidak seperti di pulau lain yang memiliki standar terbaik berupa air payau. Adanya cekungan di daratan Pulau Pari telah berdampak pada heterogenitas vegetasi pulau ini.

Apabila umumnya pulau di pesisir hanya dapat ditemui vegetasi berupa mangrove dan pohon kelapa, maka di Pulau Pari jika Anda perhatikan seksama dapat ditemukan pohon pisang, pohon pinus, pohon cemara, pohon buah naga, pohon mangga, pohon jambu air, petai cina, palem, pohon srikaya, pohon jamblang, dan sebagainya. Jelas itu bukan vegetasi khas wilayah pesisir, tetapi justru di Pulau Pari mampu tumbuh dengan baik.

Setelah masuk di kawasan Pantai Perawan, kami menuju ke salah satu warung makan di sekitar pantai untuk makan siang karena perut yang sudah lapar. Kami langsung memesan nasi goreng dengan harga Rp 10.000/porsi. 

Selesai makan, ngobrol-ngobrol sebentar, Rafael dan Felicia langsung berenang untuk di tengah teriknya sinar matahari, sementara saya duduk di pinggir pantai sambil menikmati pemandangan dan hanya berenang sebentar.

Karena semalam tidur, saya memilih untuk tidur di bawah pepohonan dengan hembusan angin laut yang menambah kesejukan dan bikin mata makin ngantuk. Tidak berapa lama kemudian saya terbangun karena haus. Saya langsung menuju warung untuk membeli kelapa dengan harga Rp 13.000/kelapa.

Pulau Pari terbagi dua bagian wilayah, yaitu bagian kepala (timur pulau) dan bagian badan hingga ekor (barat pulau). Dua wilayah ini berbeda fungsi, dimana di bagian barat berupa cekungan menjadi lokasi pemukiman penduduk dan vegetasi air tawar. 

Sementara itu, pada bagian timur berupa pesisir pantai yang luas dan begitu elok untuk ditelusuri dengan berjalan kaki. Di bagian ini terdapat hutan mangrove alami yang dijaga kelestariannya oleh masyarakat sebagai penahan abrasi laut.

Pulau Pari sendiri memiliki luas sekitar 43 hektare dengan populasi penduduk sekira 700 orang. Pulau ini tidak seramai Pulau Pramuka atau pun Pulau Tidung, tetapi suasananya yang sepi dan rapi membuat banyak wisatawan jatuh hati. Tata ruang dan kebersihan lingkungan pulau ini sangat diperhatikan penduduknya.

Pulau Pari dikembangkan menjadi salah satu pulau dengan konsep ekowisata, karena memiliki kekayaan dan keanekaragaman hayati ekosistem laut. Di sini terdapat rumah konservasi penelitian biota laut dan riset pengembangan untuk kelestarian perairan di Teluk Jakarta.

Selesai minum kelapa, saya kembali berenang sebentar untuk menikmati keindahan Pulau Pari. karena teriknya matahari yang menyengat, saya kembali ke bawah pantai sambil memejamkan mata, sementara Rafael dan Felicia sedang asyik berenang. Sesekali mereka ke bibir pantai untuk istirahat lalu lanjut berenang lagi.

Pukul 19.00 WIB, saya terbangun dari tidur. Felicia dan Rafael sudah berada di kamar Homestay, menunggu saya bangun dari tidur. Saya langsung mandi dan mengajak mereka untuk menikmati malam di Pantai Perawan sambil makan ikan bakar. Di Pantai Perawan kami langsung memesan 2 ikan tongkol untuk makan malam dengan harga Rp 70.000/Kg untuk 1 ikan.

Felicia dan Rafael sangat menikmati ikan tongkol bakar. Sambil makan disuguhi dentuman alunan musik yang membuat suasana makin enjoy. Dis ini saya lihat ada beberapa kepiting yang berjalan menuju bibir pantai. 

Setelah makan,  ngobrol-ngobrol dengan mereka dan tak lupa memanggil Fahrudin (salah satu warga setempat) untuk gabung bareng sambil minum minuman tradisional fermentasi lecy yang dibawa dari rumah.

Sementara saya masih ngobrol-ngobrol dengan Fahrudin. Tak lama kemudian dia mengajak untuk gabung dengan teman-temannya. Duduk di tepi pantai dengan dentuman alunan musik sambil meneguk minuman. Tidak terasa waktu sudah larut malam, saya langsung kembali ke homestay untuk istirahat karena besok harus kembali.

Tanggal 14 Agustus 2014, Pukul 06:00 WIB. Felicia dan Rafael membangunkan saya dari tidur. Langsung mandi dan siap-siap untuk kembali ke Muara Angke. 

Tak lama kemudian Pak Ibad menginfokan kalau Kapal Fery akan datang Pukul 08:00. Saya langsung menginfokan hal tersebut ke Felicia dan Rafael, jadi bisa santai sedikit sambil minum teh hangat dan ngobrol-ngobrol dengan mereka.

Kami pun berjalan menuju dermaga karena tidak mau ketinggalan kapal fery. Sebab hari ini Felicia dan Rafael harus ke Bandara Soekarno Hatta, karena mau melanjutkan perjalanan ke Singapura. 

Sesampainya di dermaga kapal, fery yang kami tunggu belum datang juga. Rafael mempunyai ide membeli es krim untuk merayakan ulang tahun saya. Ya hari ini adalah hari ulang tahun saya yang ke 33 tahun.

Sebelum membuka bungkus es krim, mereka menyanyikan lagu ulang tahun buat saya. Perasaan terharu bercampur senang, sementara di samping kami ada grup lain yang juga ikutan menyanyikan lagu ulang tahun buat saya. 

Hari yang paling bahagia di dalam hidup. Selesai menyanyikan lagu ulang tahun, kami langsung memakan es krim sambil menunggu datangnya kapal Fery.

Pukul 09.00 WIB, akhirnya kapal fery KM Kharisma yang kami tunggu datang. Dengan membayar Tiket Rp 35.000/orang melalui Pak Ibad. Setelah semua penumpang menaiki kapal fery, KM Kharisma langsung meluncur ke Muara Angke. Kami langsung cari posisi untuk tidur selama perjalanan menuju Dermaga Muara Angke.

Tiba di Dermaga Muara Angke, kami langsung turun dan berjalan keluar untuk cari taksi. Sempat bingung karena tidak ada taksi yang lewat ke dermaga. Setelah mencari ke sana ke sini, akhirnya kami mendapatkan taksi menuju Terminal Tanjung Priok. Tetapi di pertengahan jalan, Rafael meminta untuk singgah di kantor pos, karena dia mau mengirim paket untuk orang tua dan temannya.

Karena waktu yang sudah mepet, sementara Rafael dan Felicia harus ke bandara, saya dan Rafael langsung keluar dan bergegas ke taksi untuk ke Terminal Tanjung Priok. 

Sesampainya di Teminal Tanjung Priok, rencananya Rafael dan Felicia mau naik bus Damri menuju Bandara Soekarno Hatta, namun keberangkatan pukul 14:00 WIB dari terminal. 

Karena waktu yang tidak memungkinkan, akhirnya mereka memutuskan untuk naik taksi menuju Bandara, karena pesawat yang akan mereka naiki meluncur pukul 15:30 WIB. Setelah mengantarkan mereka naik taksi untuk ke Bandara, mereka langsung meluk saya sebagai tanda perpisahan. 

Setelah taksi mereka meluncur, saya langsung naik angkot M15 menuju Stasiun Kota dan lanjut naik kereta untuk pulang ke rumah.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
Load Komentar ...
NEWS FEED

Mari Kita Jaga Badak Jawa

Jumat, 22 Sep 2017 18:50 WIB

Bertepatan dengan Hari Badak Sedunia, Balai Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) mengajak semua pihak peduli keberadaan badak Jawa. Yuk!