Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Sabtu, 24 Jan 2015 08:45 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Menelusuri Hutan Pelawan, Penghasil Madu Pahit di Pulau Bangka

Darwance Law
d'travelers
Foto 3 dari 5
Jembatan merah di Hutan Pelawan.
Jembatan merah di Hutan Pelawan.
detikTravel Community - Pulau Bangka tak hanya terkenal akan pantainya saja. Wisata menelusuri hutannya pun tak kalah menarik, seperti Hutan Pelawan. Di sini, Anda bisa mengenal madu pahit yang khas dari Pulau Bangka.

Mau liburan ke Pulau Bangka, tapi bosan dengan pantai? Jangan khawatir, selain menyajikan panaroma alam berupa pantai dengan bebatuan granitnya, Pulau Bangka juga menawarjan jenis objek wisata lain sebagai alternatif. Salah satunya yang sedang ramai-ramainya didatangi pengunjung adalah objek wisata Hutan Pelawan.

Sesuai namanya, di dalam kawasan ini tumbuh begitu banyak pohon pelawan, salah satu jenis pohon yang konon hanya ada di Pulau Bangka. Apabila berkembang, maka kembang-kembang itu kelak akan dihisap oleh lebah madu. Inilah cikal bakal madu pahit dari Bangka. Menarik bukan?

Objek wisata Hutan Pelawan terletak di Desa Namang, Kecamatan Namang, Kabupaten Bangka Tengah, sekitar 30 meter dari Pangkalpinang. Untuk bisa sampai ke lokasi hutan ini pun cukup mudah. Pada pertigaan Desa Namang, masuk jalan arah barat atau arah matahari tenggelam. Bila dari Pangkalpinang, tinggal lurus saja pada pertigaan jalan itu.

Setelahnya, tinggal mengikuti petunjuk jalan. Hanya ada satu atau dua belokan yang tidak terlalu jauh. Setelahnya, kita akan disambut oleh hamparan sawah yang menghijau, utamanya bila usia padi sedang remaja seusia dengan manusia. Sekitar 3 kilometer lebih, maka sampailah di objek wisata Hutan Pelawan.

Objek wisata Hutan Pelawan memang terhitung baru sebagai destinasi wisata di Pulau Bangka. Pemerintah Kbaupaten Bangka Tengah sepertinya betul-betul serius menggarap sektor pariwisata sebagai sektor pengganti tambang yang sebentar lagi bakal menghilang. Buktinya, sejumlah tempat yang berpotensi menaik wisatawan pun dikemas sedemikian rupa.

Pantai-pantai dibangun cottage-cottage. Objek wisata yang sudah punya nama ditambah fasilitasnya. Hal yang sama juga dilakukann terhadap potensi berupa kumpulan pohon-pohon pelawan yang ada di Desa Namang. Menyadari besarnya potensi dari hutan tersebut bila dikembangkan, maka jadilah area wisata Hutan Pelawan yang sekarang mulai dikenal luas.

Perihal objek wisata Hutan Pelawan yang ada di Desa Namang itu, saya sudah terlampau sering mendengarnya. Setiap kali pulang ke kampung halaman saya yang terletak paling selatan Pulau Bangka, saya pun pasti melewati desa ini. Hanya saja, kala itu saya kurang tertarik menelusuri kawasan ini. Menurut saya, sepertinya tidak ada hal yang begitu menarik pada sebuah hutan, terutama hutan di Pulau Bangka yang sependek pengetahuan saya hampir sudah tidak ada lagi yang perawan.

Semuanya sudah diisi oleh pepohonan yang tumbuh silih berganti, akibat sistem berladang masyarakat Pulau Bangka, ditambah tambang timah yang seolah tak terkendali. Namun, saya penasaran juga akhirnya setelah sering melihat orang-orang memajang foto di telepon pintarnya dengan latar belakang hutan Pelawan, pun demikian foro-foto yang ditampilkan di sosial media. Sepertinya lumayan menarik. Maka, pergilah suatu ketika saya ke objek wisata Hutan Pelawan.

Saat itu, saya pergi bersama dua orang sepupu saya, Debri dan Agung Pratama, berangkat dari Pangkalpinang. Lalu, pada sebuah persimpangan jalan menuju objek wisata Hutan Pelawan, tiba-tiba kami bertemu dengan adik kandung saya, Anggun Saputra dan dua orang teman lain yang masih terhitung keluarga, Pratama dan Robby. Akhirnya, pergilah bersama-sama kami menuju area Hutan Pelawan.

Untuk bisa masuk ke dalam kawasan hutan ini, cukup hanya dengan membayar uang parkir motor sebesar Rp. 2.000 per motor. Murah bukan? Ya, sebagain besar objek wisata yang ada di Pulau Bangka memang belum banyak yang dikomersialkan.

Pelan-pelan, kami menelusuri kawasan hutann pelawan, melewati jalan selebar kurang lebih 1 meter yang sudah di semen. Sepanjang jalan, yang terlihat memang pohon berwarna merah yang dominan. Itulah pohon pelawan. Semakin dalam, semakin banyak kayu dengan warna seperti ini, pun jenis kayu lain yang lebih  besar.

Di dalam hutan, ada beberapa pondok untuk istirahat pengunjung. Pada bagian selanjutnya, barulah kami berjumpa dengan jembatan kayu berwarna merah. Inilah identitas objek wisata Hutan Pelawan. Jembatannya lumayan panjang. Pada  sebuah bagian, ada semacam pondok kecil berwarna coklat. Pondok ini cukup unik menurut saya. Bagaimana, tertarik menelusuri Hutan Pelawan?
BERITA TERKAIT
BACA JUGA