Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 28 Agu 2015 11:40 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Aseupan, Gunung Mistis Habitat Kantong Semar di Pandeglang

Stanislaus Riyanta
d'travelers
Foto 1 dari 5
Hutan Gunung Aseupan yang masih cukup rapat
Hutan Gunung Aseupan yang masih cukup rapat
detikTravel Community -

Di kalangan traveler, Gunung Aseupan di Pandeglang terkenal mistis. Referensinya juga sulit dicari. Jalurnya sangat rapat tanda jarang didaki. Namun, gunung ini menjadi habitat tumbuhan kantong semar (Nepenthes gymnamphora).

Berawal dari obrolan teman-teman tentang acara pendakian untuk memperingati HUT Kemerdekaan ke-70 RI, kami memutuskan akan mendaki Gunung Aseupan (1174 mdpl) di Kabupaten Pandeglang. Alasan pemilihan Gunung Aseupan yang puncaknya ada pada koordinat S 06°17’46,0” E 105°55’46.9” ini adalah mencari gunung yang sepi dan ada tantangan tersendiri. Sehingga, bisa menunjukkan semangat memeringati HUT Kemerdekaan RI.

Sebelum melakukan pendakian, kami mencari referensi tentang Gunung Aseupan, hasil yang didapat kurang memenuhi harapan. Dari media sosial dan media masa sangat sedikit informasi yang didapatkan. Sementara dari rekan-rekan yang mengaku sudah pernah mendaki ke Gunung Aseupan lebih banyak mengatakan sesuatu yang tidak mengenakkan.

Informasi serupa datang dari kolega yang berasal dari sekitar Gunung Aseupan. Informasi tentang Gunung Aseupan berbanding terbalik dengan dua gunung di sekitarnya yaitu Gunung Karang dan Gunung Pulosari.

Untuk mendaki Gunung Aseupan kami menyiapkan peralatan yang cukup lengkap. Masing-masing pendaki harus membawa peralatan standar perorangan yaitu sepatu trekking, jaket, pakaian, peralatan bersih diri, sleeping bag, logistik, dan tentu saja backpack.

Untuk peralatan kelompok kami membawa GPS, tenda 3 buah (kapasitas 4 orang) dan 1 buah (kapasitas 1 orang), parang untuk bersih jalur, pisau survival, first aid box yang cukup lengkap, kompor 3 set, tali, kamera, logistik kelompok, dan tidak lupa bendera Merah-Putih.

Akhirnya dengan informasi yang minim, pada 15 Agustus 2015 kami berangkat ke Pandeglang. Kami mendaki Gunung Aseupan melewati Desa Sikulan, Kecamatan Jiput. Dari Jakarta, kami 9 orang berangkat dari Stasiun Kereta Api Tanah Abang menuju Rangkas Bitung dengan Kereta Rangkas Jaya. Harga tiket cukup murah, Rp 15.000 dengan waktu tempuh sekitar 2 jam.

Tiba di stasiun Rangkas Jaya, kami melanjutkan perjalanan ke Desa Sikulan dengan menyewa angkot kapasitas 10-12 orang dengan biaya Rp 700.000 PP. Waktu tempuh dari Stasiun Rangkas Jaya ke desa Sikulan sekitar 2 jam perjalanan. Dalam perjalanan ini rombongan kami bertambah 1 orang dari organisasi Pecinta Alam sebuah kampus di Pandeglang.

Setiba di Desa Sikulan siang harinya, kami 8 orang laki-laki, dan 2 orang perempuan melakukan penggalian informasi sekaligus perizinan kepada aparat pemerintah setempat.

Wejangan-wejangan diberikan kepada kami, dan tentu saja hal itu akan kami taati. Mitos-mitos dan cerita seru lainnya tentu saja kami terima juga dan kami simpan sebagai perbendaharaan informasi. Dari Ketua RT yang rumahnya menjadi basecamp sementara, kami mendapatkan satu hal yang menjadi pantangan saat berada di Gunung Aseupan, yaitu tidak boleh makan makanan langsung dari tempat memasak. Kami tentu saja akan mentaati kearifan lokal ini.

Setelah mendapatkan izin dari pemerintah setempat dan mengisi logistik terutama air, kami pun mulai perjalanan. Desa Sikulan berada pada ketinggian 280 mdpl, sementara puncak Gunung Aseupan mempunyai ketinggian 1174 mdpl. Kami merencanakan akan menginap di ketinggian 400 mpdl, kemudian perjalanan ke puncak akan diteruskan keesokan harinya.

Perjalanan dimulai dari ketinggian 280 mdpl dan hampir tidak ada 'bonus'. Hampir semua dari kami ngos-ngosan dengan tanjakan-tanjakan yang menyita tenaga. Tempat untuk mendirikan tenda juga susah ditemukan mengingat medan yang cukup terjal.

Akhirnya kami menemukan tempat yang cukup datar pada ketinggian 415 mdpl dan cukup untuk mendirikan 4 tenda yang kami bawa. Sebelum maghrib akhirnya kami sudah mendirikan tenda dan memasak untuk mengisi kembali asupan gizi.

Setelah magrib beberapa orang akhirnya turun lagi ke Desa Sikulan untuk mencari air. Musim kemarau membuat mata air yang sudah diinformasikan penduduk ternyata kering. Kebutuhan air ini akan kami gunakan untuk perjalanan pergi-pulang pada Minggu, 16 Agustus 2015 menuju puncak Gunung Aseupan.

Pagi harinya kami melanjutkan perjalanan menuju puncak Gunung Aseupan. Pada ketinggian 479 mdpl, kami menemukan persimpangan jalan, dan kami memilih jalur sebelah kanan. Beberapa langkah tidak jauh dari simpangan kami bertemu penduduk dan memperoleh informasi bahwa jalur yang kami pilih memang akan sampai di puncak Gunung Aseupan namun jalur tersebut adalah jalur penduduk dan cukup terjal. Memang benar, kami harus berjalan bahkan merayap dengan penuh perjuangan jalan yang hampir tegak lurus. Tenaga kami terkuras dan air minum pun hampir habis.

Akhirnya pada ketinggian 861 mdpl, kami bertemu dengan jalur yang seharusnya dilewati pendaki. Di persimpangan tersebut air minum tinggal tersisa 2 botol kemasan 600 ml, yang harus kami bagi untuk 10 orang.

Untuk menghemat tenaga kami putuskan beban bawaan yang tidak akan digunakan selama perjalanan ke puncak kami tinggal di sini dan masing-masing hanya membawa barang tentengan yang diperlukan seperti kamera, air minum tersisa, parang, alat navigasi, dan tentu saja bendera Merah-Putih.

Perjalanan dari ketinggian 861 mdpl menuju puncak cukup terjal. Kanan-kiri jurang yang cukup dalam. Lebar jalur hanya sekitar 0,5 meter. Namun medan yang ekstrem tersebut tertebus dengan pemandangan alam dan vegetasi sekitar yang terdiri dari tanaman paku-pakuan dan tanaman langka kantong semar (Nepenthes gymnamphora). Di ketinggian antara 1.000-1.100 mdpl kantong semar tersebut hampir merata sepanjang jalur.

Pendaki perlu waspada pada jalur antara 900 mdpl hingga puncak di 1174 mdpl. Tidak ada 'bonus' sama sekali, kadang kala pendaki perlu memanjat dengan ekstra tenaga dan mencari pijakan dan pegangan yang tepat. Jalur sangat rapat dengan tanaman paku-pakuan, bambu dan kantong semar. Hal ini sesuai dengan informasi penduduk bahwa jarang sekali orang mendaki. Terakhir ada satu rombongan yang mendaki saat sebelum puasa. Untuk mendaki Gunung Aseupan diperlukan tim aju (depan) yang dilengkapi dengan parang untuk pembersihan jalur.

Akhirnya sekitar pukul 14.00 WIB kami sampai di Puncak Aseupan. Rasa bangga menghinggapi kami yang telah berada di puncak Gunung Aseupan. Akhirnya setelah melakukan proses dokumentasi dan istirahat sekitar 1 jaam kami turun kembali untuk mengejar waktu sebelum maghrib sampai di Desa Sikulan. Di ketinggian 861 mdpl, kami memilih jalur yang benar, bukan ke arah kiri yang melalui jalur penduduk setempat.

Dalam perjalanan pulang kami menemukan tempat ideal untuk camping sebelum puncak. Tempat ini cocok untuk transit dan menyimpan barang saat ditinggal ke puncak yaitu di ketinggian 750 mdpl.

Tepat sebelum maghrib akhirnya kami sampai di rumah Ketua RT dan kami diminta untuk menginap di rumahnya. Akhirnya kami melakukan bersih-bersih diri dan tentu saja menikmati makanan yang dihidangkan oleh Ketua RT. Kami bersyukur dapat melakukan perjalanan dengan sukses menuju puncak dan sukses kembali dengan selamat.

Tujuh hal penting dari kami selama melakukan perjalanan mendaki Gunung Aseupan adalah :

1. Jalur menuju Gunung Aseupan sangat rapat dan perlu parang untuk melakukan bersih jalur.

2. Gunakan jalur untuk mendaki umum bukan jalur penduduk setempat.

3. Mata air hanya ada di desa, pastikan bahwa air cukup selama perjalanan.

4. Gunung Aseupan tidak terkenal seperti Gunung Karang dan Gunung Pulosari. Informasi tentang Gunung Aseupan sangat minim, sebaiknya bagi yang pertama kali mendaki Gunung Aseupan mengajak pemandu dari desa setempat

5. Gunakan pakaian lengan panjang, jalur sangat rapat dan pendaki rawan luka terkena duri.

6. Penduduk desa di sekitar Gunung Aseupan sangat ramah dan tulus. Ini menjadi kebahagiaan tersendiri.

7. Hargai kearifan lokal, dan tetap berpikir logis pada saat mengambil keputusan.

Akhirnya pada tanggal 17 Agustus 2015 kami pulang, mobil yang kami sewa datang tepat waktu yakni pukul 08.00 WIB. Mobil tersebut membawa kami ke Rangkas Bitung, untuk kembali ke Jakarta naik kereta api.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED