Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Minggu, 28 Feb 2016 14:45 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Aneka Tempat Wisata Menarik di Malang & Batu

Meytika Fitria
detikTravel Community
Foto 1 dari 5
Alun-alun Batu Malang
Alun-alun Batu Malang
detikTravel Community -

Kota Malang dan Batu di Jawa Timur dikenal sejuk dan punya tempat wisata yang menarik. Bagi Anda yang mau wisata ke dua kota tersebut, simak dulu aneka tempat wisatanya.

Kali ini saya ingin cerita tentang jalan-jalan yang kedua kali di Malang. Kenapa saya ingin balik lagi ke sini ya karena kota ini indah banget buat didatangi. Meskipun saya bukan tipe orang yang kuat sama cuaca dingin, tapi itu tidak membuat keinginan runtuh untuk dateng ke Malang lagi.

Cuaca di malang tuh ekstrem banget. Kalau siang panasnya ampun, tapi kalu malam dingin banget. Jadi buat kalian yang mau datang ke Malang, jangan lupa bawa baju hangat ya kalau tidak kuat sama cuacanya yang dingin.

Untuk jalan – jalan ke Malang yang kedua ini sebenarnya rencana awal saya diajak naik gunung sampai ke Puncak Semeru. Padahal dari jauh-jauh hari saya sudah persiapkan semua perlengkapan naik gunung.

Namun alam berkata lain, 3 hari menjelang keberangkatan ke Malang, baca berita Gunung Semeru hutannya terbakar dan ada pendaki yang terjebak di sana hingga pendaki hilang. Alhasil pupus sudah cita-cita bisa mencapai Puncak Semeru. Rencana berubah jadi keliling Mlaang saja.

Perjalanan ke Malang ini saya tempuh menggunakan kereta api. Pastinya secara transportasi yang paling murah meriah. Meskipun lama di perjalanan, tapi tak apalah yang penting bisa liburan.

Hari pertama sampai saya dijemput sama Kaka Uli, dia adalah saudara dari temen saya. Mskipun kita baru dua kali ketemu. Selama di Malang kita numpang tidur dan pinjam motornya buat keliling Malang.

Sesampainya di rumah kaka Uli kita ngbrol sebentar terus nebersih dan istirahat. Sorenya sekitar pukul 15:00 sore baru kita mulai jelajah Malang. Berhubung waktunya singkat, di hari pertama ini kita jalan-jalan santai saja ke daerah Batu, kurang lebih bisa ditempuh sekitar 1 jam ke Alun-alun Batu.

Sesampainya di Alun-alun Batu kita selfie dulu, kemudian lanjut buat cari cemilan di sana. Disaat lagi duduk-duduk santai menikmati jajanan yang dibeli, tadi tiba-tiba diseberang Alun-laun Batu saya lihat ada semacam cafe disebuah ruko kecil  yang terapit di antara dua ruko besar.

Namanya Kopi Letek, alhasil saya memutuskan untuk masuk ke dalam cafe itu. Pas masuk ke dalamnya beneran ini tempatnya kecil banget. Meskipun kecil tapi konsep tempat dan view yang diberikan dari cafe ini cukup membuat kagum.

Kemudian melanjutkan ke destinasi berikutnya, yaitu Pasar Parkiran yang terletak tidak jauh dari Museum Angkut. Tempatnya sih tidak terlalu ramai. Di sini saya cuma masuk ke Museum 3D untuk berselfie ria. 

Di dlamnya juga terdapat sebuah rumah baca. Konsepnya keren dan nyaman banget kalau buat baca dengan tenang adem. Disediakn sofa-sofa yang empuk untuk kita baca dan bersantai. Kalau traveler seneng baca, wajib dateng ke sini dan coba nyamannya rumah baca ini.
 
Saat masuk ke dalamnya kita wajib menitipkan tas dan jaket di loker yang telah disediakan. Setelah merasa cukup untuk mengelilingi tempat ini dan berselfie ria, kita pun beranjak pergi dari tempat.

Keesokan harinya tempat pertama yang kita tuju adalah Coban Talun. Coban Talun adalah sebuah air terjun yang terdapat di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Malang. Untuk dapat mencapai lokasi wisata ini  kira-kira perjalanannya sekitar dua jam dari rumah kakak dengan menggunakan Motor

Namun, tidak perlu khawatir kalau kalian menuju ke sana dan tidak ada kendaraan pribadi. Kamu bisa kok naik angkot untuk menuju ke sana. Jurusan sesuai dengan tujuan ke Selecta, yakni menggunakan Angkot berwarna biru dengan code AL (Arjosari-Landungsari) atau ADL (Arjosari-Dinoyo-Landungsari) dengan biaya sebesar Rp 4.000,- turun di Terminal Landungsari.

Dari Landungsari, wisatawan melanjutkan perjalanan dengan Angkot berwarna Pink atau Ungu tujuan ke Terminal Batu dengan biaya sebesar Rp 4.000.

Sesampainya di Terminal Batu, bisa melanjutkan perjalanan dengan menggunakan angkot berwarna oranye tujuan Selecta-Coban Talun dengan biaya sebesar Rp 4.000. Nah, dengan menggunakan Angkot ini, kamu minta  langsung  diturunkan di pintu masuk lokasi wisata Coban Talun.

Jalan menuju ke lokasi bisa dikatakan sudah cukup bagus. Di sepanjang perjalanan kita akan disuguhi pemandangan yang sangat indah, dengan kanan dan kiri pohon apel yang banyak ditanam oleh warga sekitar.

Dari pintu masuk kamu harus berjalan kaki sejauh kurang lebih 50 meter hingga sampai ke pintu gerbang atau loket pembayaran karcis masuk air terjun Coban Talun.

Dari lokasi parkir, perjalanan dilanjutkan dengan jalan kaki menyusuri hutan pinus yang sangat eksotik. Namun sebelum itu harus menyebrangi dua aliran sungai, disini. Untuk mempermudah perjalanan  menuju lokasi wisata, pengelola telah membuat tanda-tanda di beberapa batang pohon. Berhubung kesini saat kemarau kita perlu membawa masker karena trek jalannya berdebu.

Di sepertiga jalan menuju lokasi wisata, ada dua jalan yang bercabang. Jalan sebelah kanan adalah jalan menuju air terjun Coban Talun di bagian atas, sedangkan jika wisatawan tetap mengikuti arah jalan tersebut maka akan berada di bagian bawah aliran sungai dari air terjun tersebut.

Meskipun demikian kedua jalan tersebut akan memberikan keindahan air terjun setinggu kurang lebih 75 meter. Keindahan lain dari air terjun ini adalah terdapatnya batu-batuan pegunungan yang sangat besar yang tentunya menambah keeksotisan air terjun Coban Talun ini.

Sayangnya saat saya ke sini debit airnya tidak deras, efek musim kemarau. Pastinya kalau debit air ini deras cantik sekali Coban Talun ini. Namun perlu diketahui bahwa apabila hujan turun deras, maka semua pengunjung diwajibkan meninggalkan lokasi wisata ini karena ditakutkan terjadinya banjir.

Biaya untuk sekali masuk dipatok sebesar Rp 7.500,- per orang. Nah untuk menuju Coban Talun ada dua jalan. Dari loket pembayaran ada jalan menuju Coban Talun, namun ada juga jalan masuk menuju coban Talun yang kedua berjarak kurang lebih 50 meter.

Setelah selesai dari Coban Talun saya lanjut lagi perjalanan menuju destinasi selanjutnya. Karena penasaran sama yang namanya Wisata Selekta, alhasil saya coba datangi.

Ternyata lebih ke waterpark dan masuknya rada mahal untuk yang jalan-jalan ala backpacker. Jadilah saya mengurungkan niat untuk menjelajah lebih dalam. Di Selekta saya cuma foto depan pintu masuknya saja dan lanjut ke tempat berikutnya yang bernama Cangar.

Cangar adalah sebuah pemandian air panas alami. Cangar sendiri merupakan sebuah nama sebuah dusun sekaligus pemandian air panas yang terletak di kelurahan Tulungrejo, kecamatan Bumiaji, kota Batu.

Cangar terletak di dalam kawasan Taman Hutan Raya R. Soeryo. Di sekitar mata air panas Cangar banyak ditemukan gua-gua buatan peninggalan dari masa pendudukan Jepang, tahun 1942 - 1945.

Dengan ketinggian diatas 1.000 mdpl, Cangar merupakan salah satu daerah penghasil sayur-sayuran dan buah apel yang utama. Sumber mata air panas cangar sendiri berasal dari Gunung Welirang, sebuah gunung yang menghasilkan belerang.

Untuk kamu yang mau ke sana hati-hati ya, karena jalannya berkelok-kelok mirip jalur selatan. Bedanya udaranya sejuk. Meskipun jauh sepanjang perjalanan kita akan disuguhi pemandangan yang nan elok, dan tanpa terasa sampai juga di Cangar.

Ketika masuk di pintu gerbang udara sejuk masih sangat terasa. Pemandian air panas ini dikelilingi pohon-pohon besar nan tinggi. Di dalamnya juga kita bisa melihat monyet ekor panjang yang berkeliaran secara bebas tanpa mengganggu kenyamanan kita saat di sana.

Ternyata tempat pemandian ini tidak seindah yang diceritakan sama kakak Uli. Selain karena ada renovasi saat saya ke sana, tempat pemandian ini kolamnya kotor dan banyak lumut di dasar dan pinggir kolam.

Kesan indah yang bisa saya rasakan cuma saat perjalanan menuju cangar aja. Tapi untuk Cangarnya sendiri sangat jorok dan kotor. Menjelang tutup tempat wisata cangar air kolamnya hanya dibuang begtu saja tanpa disikat kolamnya yang penuh dengan lumut hijau.

Maaf bukan bermaksud untuk menjelekkan tempat wisata ini, tapi hanya ingin memberitahukan kepada pengelola secara tidak langsung untuk dapat mengelola tempat wisata ini dengan baik terutama kebersihannya.

Biaya masuk kesini dikenakan biaya Rp 5.500 per orang. Parkir Roda 2 dikenakan biaya Rp 3.000 dan untuk penitipan helm dikenakan biaya Rp 1.000. Kolam Renang dikenakan Biaya Rp 5.000.

Hari ketiga ini kita memilih mengunjungi sebuah pantai yang berada di Malang Selatan, yaitu Pantai Balekambang. Perjalanan ini diawali dari rumah kakak di daerah Tumpang sekitar pukul 10:00 pagi.

Kita mulai barangkat dengan menggunakan motor. Perjalanan kurang lebih dua jam. Akhirnya bisa tiba juga di Pantai Balekambang di Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang itu. Jalur yang ditempuh adalah melalui Kecamatan Bulalawang.

Kontur jalan menuju Panntai ini berkelok-kelok dan aspal di sini sudah cukup bagus. Namun tetap berhati-hati dalam berkendara. Selain itu sepanjang jalan menuju pantai ini kita akan berhadapan dengan truk-truk besar pengangkut tebu, serta di kiri kanan jalan banyak sekali ladang tebu.

Akses menuju pantai ini hanya bisa menggunakan kendaraan pribadi baik mobil ataupun motor. Karena memang tidak ada angkutan umum menuju pantai ini.

Perjalanannya  memang cukup melelahkan, tapi semuanya dapat terobati setelah tiba di tujuan dan melihat keindahan pantai. Sesampainya di Pantai Balekambang langsung selfie di dekat tulisan Pantai Balekangbang dan disambut deburan ombak susul menyusul berlarian menuju hamparan pasir putih di bibir pantai. Semilir angin terasa kuat menerpa, mengabaikan sengatan panas matahari yang terik.

Tapi kita tidak berlama-lama di sini karena ingin menikmati lebih dalam lagi keindahan pantainya. Mulailah kita memarkir kendaraan dan mulai menyusuri pantai. Dari kejauhan namapak sebuah pulau di tengan-tengah pantai dan berdiri sebuah Pura diatasnya. Pulau ini dinamakan Pulau Ismoyo.

Semakin kita dekat dengan pulau tersebut, ternyata masih ada dua pulau lagi yaitu Pulau Anoman dan Pulau Wisanggeni. Jadi Pantai Balekambang ini memiliki tiga pulau kecil, yaitu Pulau Ismoyo, Pulau Anoman dan Pulau Wisanggeni yang terletak berjejer tidak jauh dari tepi pantai.

Pulau Ismoyo terlihat lebih menonjol dibanding yang lain. Pulau ini bahkan sering diserupakan dengan sebuah pulau di Bali yang begitu tersohor, yaitu Tanah Lot. Di Pulau Ismoyo berdiri sebuah Pura yang dinamakan Pura Amerta Jati yang masih digunakan untuk beribadah umat Hindu.

Melihat penampakkannya memang sangat mirip dengan pulau di Tanah Lot, Bali, baik dari bentuk maupun keberadaannya.. Yang membedakannya hanya akses jalan menuju Pulau Ismoyo. sisediakan sarana jembatan penghubung dari bukit karang di tepi pantai sepanjang sekitar 200 m.

Sedikit cerita Ada yang menarik di balik kisah pura Amerta Jati. Pura Amerta Jati atau Pura Ismoyo dibangun tahun 1985 atas prakarsa Bupati Malang Edi Slamet. Didesain mengikuti Pura Tanah Lot yang terkenal di Bali, pura ini juga merupakan tempat suci bagi umat Hindu dan sering digunakan sebagai tempat berlangsungnya kegiatan keagamaan.

Saat hari-hari besar umat Hindu, pura ini akan terasa sangat ramai. Warga setempat yang masih memegang tradisi biasa menggelar upacara 'Suroan' dan upacara 'Jalanidha Puja.'

Jika sempat, kamu bisa berkunjung ke pantai ini di saat bulan Syuro. Biasanya pada bulan ini Pantai Balekambang ramai didatangi wisatawan baik dari dalam negeri maupun mancanegara.

Selain bisa menikamati tiga pulau indah yang ada di Pantai Balekambang kita bisa berwisata religi ke Sumur 7. Akhirnya kita coba untuk ke sana, tapi pas sampai di pintu gerbangnya sudah berasa horor banget. Sepi dan jarang penduduk ataupun pengunjung di sini.

Akhirnya dengan rasa penasaran yang ada, saat pertama masuk dari pintu gerbang kita disambut dengan pohon tidak terlalu besar yang berada di tengah jalan. Lalu mulai masuk ke dalam lagi di kiri kanan berdiri pohon bambu yang cukup banyak.

Karena semakin ke dalam semakin sepi, akhirnya kita mengurungkan niat menjelajah lebih jauh dan memtuskan untuk kembali ke pantai.

Karena waktu sudah sore, kita memutuskan untuk melanjutkan perjalanan lagi karena masih ada satu tempat lagi yang ingin dikunjungi di sini. Tapi kalau kalian punya waktu lebih, coba deh untuk menikmati sunset di sini.
Usai menikmati Sumur 7, sekitar pukul 15:00 sore saya sudah mulai melajukan kendaraan menuju tempat berikutnya, yaitu Mesjid Tiban Malang.

Mesjid Tiban ini memang sedang booming dengan rumor-rumor yang ada katanya dibuat oleh makhluk gaib. Konon mesjid ini muncul secara tiba-tiba tanpa ada yang tahu proses pembuatannya sampai diberi sebutan Masjid Jin dan lain sebagainya, definisi yang diberikan masyarakat luas.

Dengan rasa penasaran, langsung meluncurlah kami ke sana. Sesampai di sana kita akan memasuki jalan setapak kecil menuju gerbang masjid. Jika ingin parkir kendaraan roda empat sudah disediakan areanya tersendiri, karena jalan setapak ini hanya bisa dilewati untuk kendaraan roda dua saja.

Saat memasuki gerbang masjid kita akan melihat kemegahan dari Masjid Tiban ini dengan perpaduan arsitektur bergaya Timur Tengah, China dan modern dengan warna dominan biru dan putih pada setiap bagiannya.

Masjid sekaligus pondok pesantren dengan 10 tingkatan ini masing-masing memiliki tema berbeda. Lantai 1 terdapat beberapa pajangan akuarium yang cukup besar dan tempat penjualan souvenir.

Lantai 2 hingga lantai 6 mata saya dimanjakan dengan arsitektur kaligrafi yang terpahat. Lantai 7 & 8 sebagai pusat perbelanjaan. Lantai 9 & 10 terdapat sebuah kebun binatang kecil serta melihat pemandangan.

Pada saat saya kesana masih banyak bagian dari bangunan masjid ini yang belum selesai semua dibangun dengan rapi pada tiap lantainya, membuktikan bangunan ini dibuat bukan oleh jin atau yang lainnya. Hal ini cukup bukti buat saya dan tidak mempercayai rumor-rumor yang tersebar secara luas.

Masjid Tiban berada dalam komplek Pondok Pesantren Salafiyah Bihaaru Bahri’Asali Fadlaailir Rahmah di Desa Sananrejo, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang–Jawa Timur. Dinamakan Tiban karena konon masjid ini tiba-tiba ada.

Hari Keempat adalah hari terakhir di Malang. Sehubungan kereta pukul 17:00 sore, makanya sebelum pulang saya menyempatkan diri untuk mengunjungi Eco Green Park.

Eco Green Park berada di Kota Wisata Batu Jawa Timur. Sekitar 30 km atau 45 menit dari Kota Malang. Lokasi Eco Green Park sendiri berada tepat di sebelah Batu Secret Zoo dan Jatim Park 2, atau tepatnya di Jl.Oro-oro Ombo No.9A, kota Batu-Malang.

Eco Green Park merupakan  taman edukasi dan kebun binatang yang berisi aneka satwa terutama unggas. Namun penataannya sangat rapi, bersih, dan teratur. Unggas yang terdapat di dalam Eco Green Park berasal dari seluruh dunia.

Sesuai konsepnya sebagai taman berwawasan lingkungan, di sini banyak elemen-elemen bangunan dibuat dari bahan daur ulang. Misalnya patung gajah yang terbuat dari ratusan TV bekas. Sebuah robot yang terbuat dari HP bekas yang tak terpakai.

Ada juga area plaza musik, di sini terdapat sebuah kolam yang di dalamnya terdapat sebuah kincir yang terbuat dari logam dan gamelan. Kemudian ada juga penggorengan yang ditata dan dibentuk sedemikian rupa sehingga menghasilkan sebuah nada yang indah.

Jalan-jalan di Eco Green Park  diatur sedemikian rupa berkelok-kelok sehingga kita melihat semua koleksi satwa di kiri kanan jalan. Jalannya terbuat dari papan dan batu.

Selain koleksi unggas, di dalam Eco Green Park terdapat banyak bangunan yang unik, salah satunya rumah terbalik. Rumah ini adalah replika bangunan rumah yang dihempaskan oleh badai Sandy di Amerika Serikat sehingga terbalik-balik.

Sesuai konsepnya sebagai rumah terbalik, semua barang di dalamnya disusun terbalik. Untuk melihat barang-barang itu kita harus memandangnya secara terbalik juga. Serta masih banyak zona lain yang bisa dikunjungi di sana.

Selain itu traveler juga bisa berfoto dengan burung kakak tua atau burung hantu di Eco Green Park. Gak nyesel deh kalau dateng ke sini. Tempat wisata yang asyik buat didatangi bareng keluarga, teman atau pacar sekalipun.

Berharap semua tempat wisata bisa tertata dengan rapi seperti Eco Green Park, sehingga dengan sekali jalan kita bisa mengunjungi semua tempat yang ada tanpa harus bolak-balik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
Load Komentar ...
NEWS FEED