Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Sabtu, 23 Jan 2016 11:50 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Pulau Sepa, Si Cantik yang Tak Jauh dari Jakarta

Andreas H. Muljadi
d'travelers
Foto 1 dari 5
Peta Kepulauan Seribu Jakarta
Peta Kepulauan Seribu Jakarta
detikTravel Community - Pulau Sepa memliki pantai dengan pasir putih. Lokasinya yang tak jauh dari Jakarta, bisa jadi rekomendasi untuk liburan akhir pekan. Bawah lautnya juga indah.

Melepaskan kepenatan setelah kesibukan yang melelahkan di Jakarta telah lama ingin kulakukan dengan mengunjungi Pulau Sepa, salah satu pulau berpasir putih terindah di teluk Jakarta. Pulau ini termasuk dalam zona pemanfaatan wisata Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu, Jakarta. Pulau yang terletak sekitar 65 km arah barat laut dari Marina Ancol ini ditempuh dengan menggunakan speedboat selama 2 jam.

Pada bulan Desember 2015 ini laut Jakarta cukup bersahabat sehingga aku dapat menikmati pemandangan laut dan pulau-pulau yang menakjubkan di sepanjang perjalanan. Kami tiba di dermaga pulau Sepa pada pukul 10:00 pagi dan disambut oleh para penjaga pulau dengan minuman dingin yang melegakan tenggorokan. Pasir putih dan rimbun pohon cemara memberikan kesejukan saat melangkahkan kaki di pulau ini. Segera setelah mendaftarkan diri ke kantor resort, kami ke bungalow untuk berganti pakaian.

Pagi ini kami melakukan penyelaman di bawah dermaga. Setelah berkenalan dengan penyelam lain dan membagi mitra selam, kami mulai mempersiapkan perlengkapan scuba yang digunakan untuk melakukan penyelaman di bawah air. Terumbu karang di sekitar dermaga ini umumnya dalam kondisi yang sehat, walaupun jarak pandang yang terbatas kami dapat menikmati warna warni karang keras dengan aneka bentuk pertumbuhan, seperti bercabang, lembaran daun juga berbentuk otak.

Aneka ikan terumbu karang berwarna warni menari-nari diatas karang-karang tersebut. Ikan sersan mayor, ikan badut, kakap dan ikan kuwe berenang mengelilingi dan mengikuti kami. Sungguh suasana yang membuat kepenatan di tubuh menjadi ringan. Air di sekitar Kepulauan Seribu yang hangat membuat kami tidak perlu bersusah mengenakan baju selam yang tebal, cukup baju dan celana pendek kami tidak kuatir tubuh menjadi kedinginan.

Setelah penyelaman pertama selesai perut terasa lapar, kami pun segera menuju ruang makan yang cukup luas. Makan siang sudah tersaji dengan makanan khas kepulauan yaitu ikan segar yang dimasak langsung setelah dipancing. Kami menikmati hidangan makan siang ini di tepi pantai sambil menikmati iringan regae dari kelompok musik yang datang khusus menghibur pengunjung Pulau Sepa.

Penyelaman kedua dilakukan di terumbu karang 20 menit menggunakan speedboat dari pulau Sepa. Dengan teknik terjun backroll satu per satu penyelam turun dari speedboat, kami pun melanjutkan petualangan menjelajah terumbu karang yang masih alami di kepulauan yang terletak di barat laut kota Jakarta. Kami menyaksikan lebih banyak kehidupan laut di lokasi ini karena relative lebih terlindung. Beberapa ikan besar berenang melintas di depan kami, hingga pada kedalaman 15 meter terlihat seekor penyu tengah istirahat di atas sebuah karang.

Sayang sekali karena jarak pandang yang terbatas kami tidak berhasil mengambil gambar penyu tersebut. Beberapa kali pemandu selam memberi tanda dengan membunyikan suara saat dia melihat fauna yang unik. Kami menjumpai beberapa jenis kelinci laut atau nudibranch berwarna-warni di lokasi ini, juga timun laut putih dengan tangan-tangannya mengumpulkan makanan dari perairan sekitar dia menempel.

Saat salah satu penyelam tekanan udara dalam tabung selamnya sudah mendekati 50 bar, pemandu meminta kami berenang ke 5 meter untuk melakukan safety stop selama 3 menit - yang bertujuan untuk mengurangi gas nitrogen yang masih terdapat dalam tubuh kita.

Setelah kembali ke pulau Sepa dan membersihkan peralatan scuba yang kami gunakan, pemandu selam menawarkan kepada saya untuk melakukan penyelaman malam. Wah saya merasa beruntung bisa melakukan penyelaman malam karena akan berjumpa dengan kehidupan bawah laut yang berbeda dengan kehidupan saat menyelam pada siang hari. Setelah mempersiapkan peralatan penyelaman malam, malam harinya saya bertiga dengan pemandu selam dan satu penyelam lain melakukan penyelaman melalui tangga di dermaga Pulau Sepa.

Sungguh penyelaman ini cukup mendebarkan karena jarak pandang yang sangat terbatas. Dengan bekal senter selam saya berenang berhati-hati di dalam laut yang sunyi. Samar terlihat sesuatu yang merayap di dasar pasir bercampur serpihan karang, setelah cukup dekat ternyata seekor belut laut yang lucu sedang mencari makan. Beberapa ikan kakatua terlihat tidur di lobang sedangkan bintang laut keranjang terlihat aktif menangkap partikel yang melayang di kolom air.

Beberapa udang karang yang tertangkap cahaya senter memantulkan cahaya dari sepasang matanya. Penyelaman malam ini dilakukan dengan hati untuk menghindarkan tertusuk bulu babi dengan menjaga daya apung dan kita tetap melayang di kolom air. Penyelaman mala mini cukup menarik dan berkesan hingga terbawa dalam tidur.

Keesokan harinya saya terbangun ketika mendengar teriakan adanya kelompok lumba-lumba dari arah pantai. Dengan membawa kamera saya bergegas keluar pondok menuju ke pantai sambil berharap dapat mengabadikan mamalia laut yang dating menjenguk kami.

Benar juga sekelompok lumba-lumba hidung botol atau dikenal dengan nama ilmiah nya Tursiops truncatus tengah bermain di permukaan air hingga ke tepi terumbu karang. Mereka berenang berlomba mencapai pinggir karang kemudian berbalik arah dan saling melompati satu sama lain. Terlihat ada seekor lumba-lumba yang masih kecil menandakan adanya bayi dalam keluarga lumba-lumba tersebut.

Sebelum sarapan kami melakukan penyelaman di pulau Papa Teo yang kami tempuh sekitar 15 menit menggunakan speedboat. Terumbu karang disini didominasi oleh bongkahan karang batu yang berukuran besar dan karang meja serta karang bercabang. Ikan kakap, bibir tebal dan kuwe berlalu lalang saat kami menjelajah dinding karang. Seiring bertambahnya kekuatan arus pemandu selam kami menginstruksikan untuk mengakhir penyelaman hari ini. Kami kembali ke pulau Sepa dengan hati senang.

Setelah membilas seluruh peralatan yang saya bawa dan mengemas ke dalam tas peralatan, saya langsung menuju ke ruang makan untuk memenuhi panggilan biologis. Enaknya nasi goreng seafood yang disajikan membuat perut saya terisi penuh setelah kegiatan penyelaman di pagi hari.

Setelah membersihkan diri saya mempunyai kesempatan untuk berjalan kaki mengeliling pulau Sepa. Rindangnya pepohonan di pulau membuat waktu berjalan begitu cepat. Saya sedang beristirahat di depan pondok saya ketika datang seseorang yang menawarkan kelapa muda. Saya merasa beruntung sekali, langsung saja saya habiskan air kelapa muda. Siang ini kami pulang kembali ke Pulau Sepa menggunakan speedboat yang sama namun dengan pengalaman yang tidak akan saya lupakan.
BERITA TERKAIT
BACA JUGA