Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Minggu, 10 Apr 2016 14:55 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Perjuangan Mendaki Gunung Inerie, Piramida Alam di Flores

Yovie Jehabut
d'travelers
Foto 1 dari 5
Ebulobo dari Inerie
Ebulobo dari Inerie
detikTravel Community - Ketimbang Gunung Rinjani atau Semeru, nama Inerie di Flores mungkin kurang populer. Namun gunung itu lebih sulit didaki dan disebut sebagai 'Piramida Alam' atas keunikannya.

Inerie, gunung berapi yang statusnya saat ini aktif merupakan gunung berapi tertinggi di Pulau Flores dengan ketinggian mencapai 2.245 dpl. Inerie adalah gunung yang sangat menonjol. Berdiri menjulang di pesisir selatan pulau Flores dengan puncak mengerucut sempurna, membuat gunung ini disebut sebagai 'Piramida Alam.'

Gunung Inerie merupakan gunung berapi dengan tipe Strato. Terakhir kali gunung ini meletus pada tahun 1970, namun letusan terbesarnya terjadi pada tahun 1880. Sekilas, pendakian ke puncak Inerie adalah pendakian yang mudah, lantaran jarak pendakian yang 'hanya' 1,5 km.

Setelah lebih dari 20 tahun hanya menandang pesonanya dari kejauhan, saya akhirnya memutuskan untuk menggapai puncak yang menjulang tajam itu tepat pada hari gerhana Matahari total pada 9 Maret 2016 silam.

Sejujurnya saya meremehkan pendakian kali ini, olehnya saya tidak melakukan persiapan khusus, bahkan nyaris tanpa perencanaan. Saya tiba di Bajawa ibukota Kabupaten Ngada, kota kecil di dataran tinggi yang berhawa sejuk.

Sumber referensi saya adalah seorang sahabat yang juga pemandu wisata di Inerie bernama Lukas. Sesampai di kota Bajawa, saya langsung menyambangi restoran miliknya. Sayangnya, ia sedang tidak di tempat dan saya harus menunggu sambil menikmati secangkir teh jahe hangat.

Cuaca tampak cerah selepas hujan pada siang harinya. Sambil menunggu, saya menyempatkan diri untuk mengikuti prosesi perarakan ogoh - ogoh keliling kota Bajawa oleh umat Hindu di Ngada dan Nagekeo, karena keesokan harinya adalah hari raya Nyepi bagi umat Hindu.

Hari mulai gelap saat Lukas sampai di restorannya. Saya langsung menggali beberapa informasi tentang pendakian ke Inerie. Ia menyarankan agar saya ikut dalam rombongan kecil wisatawan asal Belgia yang juga akan mendaki ke Inerie esok hari dipandu seorang guide lokal.

Pukul 02:30, saya bersama seorang sepupu yang tinggal di Bajawa menuju hotel tempat wisatawan asal Belgia itu menginap. Dari sana, dengan menggunakan sepeda motor masing - masing kami melaju melawan dingin dan gelap menuju pintu pendakian.

Jarak dari Bajawa ke pintu pendakian di kampung Watu Meze + 10 km dengan waktu tempuh belasan menit saja, melewati jalur menuju Kampung Adat Bena. Separuh perjalanan, tepatnya di kampung Bela, salah seorang turis asal Belgia yang ada dalam rombongan mengalami kecelakaan sepeda motor yang membuat mereka bertiga harus kembali ke hotel dan tidak jadi mendaki.

Tinggal saya dan sepupu saya ditemani guide lokal. Sesampai di Kampung Watu Meze, kami langsung menuju trek pendakian. Udara pagi sangat dingin. Langit di atas gunung tampak cerah.

Bintang - bintang tampak terang memayungi puncak gunung yang terlihat seperti gundukan tumpeng itu. Di atas laut Sawu langit tampak gelap. Sepertinya hujan di seberang. Sesekali cahaya kilat menerangi lereng.

Kurang lebih 500 meter perjalanan, kami akhirnya memperbolehkan sang pemandu untuk kembali karena menurutnya, jalur selanjutnya hanya berupa jalur pendakian tunggal dan kami tidak akan tersesat di kegelapan.

Pada awal pendakian, kami langsung di suguhkan trek menanjak tajam. Beruntung, trek ini masih berupa jalan tanah yang mudah di antara hamparan savana. Belum habis trek savana ini, di ufuk timur rona cahaya matahari pagi mulai tampak.

Bias cahayanya memberikan gambar siluet Gunung Ebulobo di Timur, tampak seperti bayangan gunung yang sedang kami daki. Kami harus berhenti, tak mau melewatkan suasana matahari terbit yang indah itu. Setelah matahari sepenuhnya berada di atas horison, barulah kami melanjutkan perjalanan.

Trek selanjutnya adalah trek berbatu. Kondisi trek semakin tajam. Kami melambat. + 100 meter kami melewati trek berbatu ini, kami memasuki trek yang semakin berat. Kondisi trek berupa pasir lepas membuat kami sulit melangkahkan kaki dan membuat pijakan.

Beruntung, masih terdapat perdu di sekitar trek tempat kami menumpukan pegangan. Di kiri - kanan trek, rekahan jalur lahar menganga dengan kedalam belasan hingga puluhan meter dan lebar rekahan yang bervariasi antara 1 meter hingga belasan meter.

Semakin naik, kondisi trek semakin curam. Trek ini cukup berbahaya, karena selain tanjakan curam batu - batu lepas yang bertumpu di atas hamparan pasir labil. Sewaktu - waktu bisa meluncur jatuh.

Pukul 08.40, kami akhirnya sampai di puncak pertama yakni di mulut kawah pada ketinggian 2.215 mdpl. Gerhana Matahari sedang berlangsung, tetapi kami tidak tergoda. Pemandangan dari mulut kawah Inerie benar - benar membius kami.

Kawah Inerie berdiameter + 500 m dengan kedalaman mencapa 150 m. Dari mulut kawah ini, kami memandang ke sisi timur, utara dan tenggara. Di mulut kawah ini ditemukan sebuah makam, tempat disemayamkannya Jaramasi yang oleh masyarakat lokal dipercaya sebagai penjaga para arwah di puncak Inerie.

Di puncak pertama inilah tempat wisatawan biasanya menikmati pemandangan sunrise. Setengah jam, kami menikmati suasana puncak I ini. Selanjutnya kami memilih jalur sisi utara untuk mencapai puncak tertinggi.

Senyatanya, tak ada jalur resmi menuju puncak tertinggi Inerie. Hanya ada lereng curam dengan trek yang berat. Selama pendakian menuju puncak, tumpuan hanya berada pada batu - batu sebesar kepalan tangan dan lempengan batuan lunak yang labil.

Jika salah memilih batu sebagai pegangan, maka hanya ada dua pilihan. Terperosok ke dalam kawah sejauh lebih dari 100 meter atau meluncur di lereng cadas yang curam hingga ke dasar lembah sejauh lebih dari 1,5 km. Kami tidak bisa berjalan dengan tegak, hanya bisa merangkak.

Pendakian menuju puncak tertinggi ini benar - benar memacu adrenalin. Saya tidak pernah merasakan sensasi mendaki sehebat ini sebelumnya, bahkan jika dibandingkan dengan pendakian saya ke Merapi pada 2008 dan ke puncak Mahameru pada 2010 silam.

Apalagi jika dibandingkan dengan pendakian ber-trek mudah seperti di Rinjani. Pendakian menuju Puncak Inerie bukan hanya nyali dan power, tetapi konsentrasi yang penuh dan teknik pendakian manual yang cukup.

Bagi saya, tantangan menjadi berlipat karena orang yang menemani saya kali ini bukanlah seorang pendaki. Ia bahkan tak mengenal sedikit pun tekhnik menaklukan lereng gunung. Tubuhnya gemetaran, setiap langkahnya harus dituntun dan konsentrasinya harus terus dijaga.

Pukul 10.20, perjuangan kami terbayar tuntas. Kami menapakan kaki di hamparan seluas 1x2 meter di puncak Inerie. Dari sana, mata benar - benar disuguhkan pemandang maha eksotis ke seluruh penjuru.

Di sisi timur, deret pegungungan dalam balutan awan putih membentang di bawah naungan kokoh Ebulobo. Di sisi utara, kota Bajawa, perkampungan dan lembah hijau membentang. Di sisi barat, bentang perbukitan hijau dangan lereng batu yang terjal berderet berlapis - lapis. Di sisi selatan, bentang savana di kaki gunung, menepi langsung ke laut Sawu. Hanya ada kata Sempurna.

Satu jam kami menikmati puncak Inerie, puncak piramida yang selama ini hanya dikagumi dari kejauhan. Perjalanan turun ternyata tak lebih mudah. Kondisi puncak yang mulai berkabut membuat kami harus berhati - hati menilik kembali jejak kami.

1 jam, kami kembali ke mulut kawah. Gerimis mulai turun. Di bawah hujan kami meninggalkan jengkal demi jengkal lereng Inerie, membawa jutaan kekaguman dan rasa syukur atas karya Pencipta dalam rupa Inerie, piramida alam yang mengagumkan.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED