Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 14 Okt 2016 15:20 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Inilah Surau Tempat Dimana Buya Hamka Kecil Menimba Ilmu

Bayu Haryanto
d'travelers
Foto 2 dari 4
Surau  Lubuk Bauk tampak dari jalan raya
Surau Lubuk Bauk tampak dari jalan raya
detikTravel Community - Surau Lubuak Bauk di Batusangkar, Sumbar jadi saksi bisu perjalanan hidup Tokoh Islam Buya Hamka. Di sinilah Buya Hamka kecil belajar dan menimba ilmu.

Ketika akan mengunjungi daerah Batusangkar, saya melihat sebuah masjid yang berbentuk cukup unik. Surau Lubuk Bauk namanya.

Tidak banyak yang mengetahui Surau Lubuk Bauk ini, namun setelah menjadi salah satu lokasi syuting film Tenggelamnya Kapal Van der Wijk, masjid ini kembali dikenal oleh masyarakat se-nusantara. Film tersebut yang diangkat dari karya novel Buya Hamka. Kabarnya di sini Buya Hamka belajar mengaji dan tidur di surau dekat rumahnya.

Surau Lubuk Bauk merupakan bangunan masjid kuno terletak di Jorong Lubuk Bauk, Nagari Batipuh Baruh, Kecamatan Batipuh, Kabupaten Tanah Datar, dan hanya sekitar 6 km dari Kota Padang Panjang. Bangunan surau terletak lebih rendah ± 1 m dari jalan raya.

Surau ini berbatasan dengan jalan raya di bagian utara, kolam dan masjid di bagian timur, kolam dan rumah penduduk di bagian selatan, dan rumah penduduk di bagian barat.

Menurut ceritanya, surau ini dibangun oleh para ninik mamak yang berasal suku Jambak, Jurai Nan Ampek Suku sekitar tahun 1896 dan diperkirakan selesai tahun 1901. Tanah surau ini berasal dari wakaf Datuk Bandaro Panjang.

Surau ini dibangun sepenuhnya dengan bahan utama kayu Surian dengan luas 154 meter persegi dan tinggi bangunan sampai ke puncak kurang lebih 13 m dengan corak bangunan dari Koto Piliang yang dapat dilihat dari susunan atap dan adanya menara.

Bangunan dikelilingi pagar besi berbentuk panggung dengan tinggi kolong 1,40 m terdiri dari tiga lantai dan satu lantai berfungsi sebagai kubah atau menara yang terletak di atas atap gonjong berbentuk segi delapan. Lantainya berupa lantai panggung dan atapnya dari seng.

Dinding-dindingnya polos tanpa hiasan (ukiran). Atapnya bersusun emoat tanpa kubah. Atap susun ketiga merupakan atap gonjong menghadap ke arah mata angin. Bagian dinding yang berbentuk segitiga dengan penutup gonjong di keempat sisinya, terdapat hiasan ukuran berupa motif hiasan dari Minangkabau, Belanda, dan Cina.

Bangunan surau memiliki atap bersusun tiga yang terbuat dari seng. Atap pertama dan kedua berbentuk limasan, sedangkan atap ketiga yang juga berfungsi sebagai menara memiliki bentuk gonjong di keempat sisinya. Dari puncak atasnya terdapat hiasan berbentuk catra seperti pada bagian puncak stupa.

Susunan atap dengan bangunan menara tersebut melambangkan falsafah hidup masyarakat Minangkabau. Bahkan diyakini dulunya oraganisasi Muhammdiyah sebelum berkembang di kauman Padang Panjang, lebih dulu berkembang di Lubuk Bauk tersebut sehingga perannya memiliki peran besar dalam melahirkan santri dan ulama yang selanjutnya menjadi tokoh pengembang agama Islam di Sumatra Barat.

Dalam perkembangannya Surau Lubuk Bauk tersebut termasuk salah satu benda peninggalan sejarah yang telah dilakukan kajiannya pada tahun 1984 oleh Proyek Pemugaran dan Pemeliharaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Sumatra Barat bahkan juga sudah dilaksanakan pemugaran  Surau Lubuk Bauk pada tahun anggaran 1992/1993.

Meski tak jauh dari surau ini terdapat masjid yang cukup luas, sampai saat ini  Surau Lubuk Bauk masih digunakan sebagai tempat belajar mengaji dan mempelajari pengetahuan adat disamping melakukan musyawarah/rapat bagi masyarakat setempat. Surau Lubuk Bauk dapat menjadi salah satu destinasi wisata budaya dan religi yang dapat jelajahi.
BERITA TERKAIT
BACA JUGA