Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 10 Jan 2017 11:49 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Ada Jamur yang Bisa Menyala di Gunung Halimun

Muhammad Catur Nugraha
detikTravel Community
Foto 1 dari 5
Glowing mushroom di Taman Nasional Gunung Halimun Salak
Glowing mushroom di Taman Nasional Gunung Halimun Salak
detikTravel Community - Taman Nasional Gunung Halimun di Jawa Barat punya jamur yang unik. Jamur yang bisa mengeluarkan cahaya di kegelapan malam.

Di Taman Nasional Gunung Halimun Salak tepatnya di sekitar Stasiun Penelitian Cikaniki tumbuh jamur unik yang mampu mengeluarkan cahaya di kegelapan malam. Informasi mengenai keberadaan jamur bercahaya ini saya ketahui setelah membaca E-book berjudul Pariwisata Alam 51 Taman Nasional Indonesia yang dikeluarkan oleh Departemen Kehutanan melalui Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi.

Ketika saya membaca bab yang membahas Taman Nasional Gunung Halimun Salak di E-book tersebut dijelaskan mengenai berbagai hal menarik yang ada di Taman Nasional ini salah satunya adalah Jamur bercahaya atau glowing mushroom.

Tertarik untuk melihatnya secara langsung, saya pun berangkat bersama seorang teman menuju Stasiun Penelitian Cikaniki yang berada dalam kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Jarak tempuhnya dari Jakarta sekitar 100 Km ke arah barat daya.

Perjalanan menuju Stasiun Penelitian Cikaniki bisa dikatakan penuh perjuangan karena dari pintu masuk Taman Nasional Gunung Halimun berjarak sekitar 18 Km dimana jalan dengan kondisi bagus hanya 2,5 Km selebihnya adalah jalan beraspal rusak parah dan jalan tanah berbatu hingga tiba di Stasiun Penelitian Cikaniki.

Namun, hal tersebut dapat terobati dengan pemandangan indah selama perjalanan terutama ketika telah melintasi perkebunan teh Nirmala. Demi menyaksikan glowing mushroom kami harus kemah di Bumi Perkemahan Mandalawangi sebab ketika itu Stasiun Penelitian Cikaniki sudah penuh oleh wisatawan lain.

Ketika gelap malam mulai menyapa, kami bergegas menuju Stasiun Penelitian Cikaniki untuk mencari jamur bercahaya didampingi oleh seorang pemandu bernama Asep. Jarak dari Bumi Perkemahan Citalahan ke Stasiun Penelitian Cikaniki sekitar 2 Km.

Setelah 30 menit berjalan kami pun tiba di Stasiun Penelitian Cikaniki. Sebelum memasuki jalur interpretasi, Pak Asep meminta izin kepada petugas yang berjaga. Setelah itu kami mulai melintasi jalur interpretasi yang berada di sebelah Stasiun Penelitian.

Tidak perlu berjalan terlalu jauh, Pak Asep meminta kami untuk mematikan senter. Menunggu sebentar lalu terlihatlah kerlap kerlip berwarna kehijauan di kanan dan kiri. Ya, itulah cahaya yang dikeluarkan oleh jamur yang kami cari.

Jamur unik ini hidup menempel pada kayu atau ranting pohon Rasamala (Altingia excelsa) yang telah mati. Cahaya jamur yang menyala di kegelapan malam ini pada dasarnya karena sifat bioluminescence terjadi ketika enzim luciferase dan bahan kimia luciferin bereaksi.

Adapun elemen ketiga perlu dikeluarkan untuk menghasilkan reaksi ini dan jenisnya bervariasi tergantung jenis hewan atau tumbuhan tersebut (ATP, Kalsium, Peroksida atau Phosphor). Hasil reaksi ketiga elemen tersebut adalah energi dalam bentuk cahaya yang kita lihat dalam gelap.

Biasanya fungsi dari efek bersinar dalam gelap dapat dimengerti bagi beberapa spesies, misalnya kunang – kunang yang mengeluarkan cahaya untuk menarik pasangannya, namun bagi jamur hingga saat ini fungsi dari fenomena tersebut masih merupakan suatu misteri.
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
Load Komentar ...
NEWS FEED

Toilet Mewah ala Lawang Sewu

Minggu, 22 Okt 2017 09:52 WIB

Kalau liburan ke Semarang, kurang greget bila tidak mampir ke bangunan kuno bernama Lawang Sewu. Yang perlu traveler tahu, ternyata toilet Lawang Sewu mewah.