Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 07 Feb 2017 13:15 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Kapal 'Nyangkut' dan Jadi Monumen, Cuma Ada di Aceh

Muhammad Catur Nugraha
detikTravel Community
Foto 1 dari 5
Kapal di atas atap rumah Desa Lampulo Aceh
Kapal di atas atap rumah Desa Lampulo Aceh
detikTravel Community - Saat tsunami 2004 lalu sebuah kapal nelayan terhempas dari laut dan nyangkut di suatu rumah. Dan sekarang kapal itu jadi monumen unik.

Salah satunya adalah tentang sebuah kapal nelayan yang kala itu hanyut hingga tersangkut di atas atap rumah warga di Gampong (Desa) Lampulo, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh.

Kini kapal yang menjadi salah satu korban keganasan gelombang tsunami itu dijadikan monumen dan salah satu lokasi wisata tsunami oleh Pemerintah Kota Banda Aceh.

Akhir Januari lalu, saya bersama keluarga berkesempatan mengunjungi monumen kapal ini. Saat kesini kami ditemani oleh Bang Zulfan, ia adalah traveler asal Aceh yang sangat aktif membagikan informasi tentang wisata Aceh.

Kami tiba di lokasi bersamaan dengan rombongan wisatawan asal Malaysia, kedatangan kami langsung disambut oleh pengelola monumen. Setelah mengisi buku tamu kami diperkenankan duduk di kursi untuk mendengarkan cerita dari seorang ibu paruh baya yang merupakan korban selamat dari amukan tsunami.

Beliau menceritakan tentang kejadian yang ia alami mulai saat gempa hingga gelombang tsunami menerjang Gampong Lampulo yang berada dekat dengan bibir pantai.

Beginilah cerita yang disampaikan, Kala itu warga yang awalnya berada di luar rumah selepas gempa, berlarian mencari tempat tinggi saat mendengar teriakan air laut naik dari ujung jalan. Salah satu tempat untuk menyelamatkan diri adalah rumah Ibu Abasiah yang memiliki dua lantai.

Namun, ternyata air terus meninggi hingga mencapai dagu orang dewasa di lantai dua. Warga pun terjebak, mereka terus berusaha bertahan hidup dengan mencoba menghancurkan plafon rumah untuk naik ke atap tertinggi.

Air terus meninggi, warga yang terjebak mulai berdoa kepada yang Maha Kuasa agar tetap selamat. Di tengah kepasrahan itulah datang pertolongan Tuhan. Tiba-tiba saja datang sebuah kapal yang merapat ke rumah ibu Abasiah. Warga pun menyelamatkan diri ke dalam kapal tersebut. Ada 59 warga yang selamat berkat kapal ini. Mereka menunggu hingga 7 jam lamanya menunggu air laut surut.

Usai mendengarkan cerita, kami mulai mengeksplore bagian rumah yang menyangga kapal. Di bagian bawah kami melihat sebuah plakat yang ditulis dalam tiga bahasa yaitu Aceh, Indonesia dan Inggris.  

Plakat ini dirancang oleh tim Bustanussalatin dan bantuan recovery Aceh-Nias Trust Fund BRR. Di atas plakat tertulis 'Kapal ini dihempas oleh gelombang tsunami pada tanggal 26 Desember 2004 hingga tersangkut di rumah ini. Kapal ini menjadi bukti penting betapa dahsyatnya musibah tsunami tersebut. Berkat kapal ini 59 orang terselamatkan pada kejadian itu'.

Di lantai dua, kami melihat berbagai foto - foto dokumentasi yang menceritakan kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan usai tsunami. Melihat foto-foto tersebut dalam hati terus berdoa agar bencana sedahsyat tsunami yang pernah melanda Aceh tidak terulang lagi.
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
Load Komentar ...
NEWS FEED

Foto: Minum Darah Banteng yang Ngeri

Senin, 21 Agu 2017 18:30 WIB

Tradisi merupakan hal yang dilakukan turun menurun dan kerap kali menantang. DI pedalaman Kenya, seorang pria muda haruslah menikam dan minum darah banteng.