Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Minggu, 19 Feb 2017 16:30 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Bukit Jaddih di Madura, Tempat Terbaik Melupakan Mantan

Yovie Jehabut
detikTravel Community
Foto 1 dari 5
Pemandangan Puncak Jaddih
Pemandangan Puncak Jaddih
detikTravel Community - Bukit Jaddih merupakan kawasan tambang kapur di Bangkalan, Madura yang berubah menjadi kawasan wisata yang unik. Panoramanya bisa bikin melupakan mantan.

Mendung memayungi kota Surabaya pada Sabtu pagi (11/02/2017). Bangun pagi dengan suasana seperti ini adalah hal yang cukup berat ditambah durasi tidur semalam hanya beberapa jam saja. Meski begitu, janji kami semalam tidak bisa dibatalkan. Bukan karena sudah sepakat, tetapi perjalanan hari ini adalah salah satu hal yang saya impikan. Bersama lima teman sekelas di kelas Berlin, Goethe Institute (Wisma Jerman), kami akan menyambangi beberapa obyek wisata di Pulau Madura.

Perjalanan kami dimulai menjelang pukul sembilan pagi dari Wisma Jerman di komplek Bambu Rucing pusat kota Surabaya, mengendarai mobil milik seorang teman kelas, Yoga.

Suasana jalanan di akhir pekan tak sepadat hari-hari biasanya. Tanpa hambatan berarti, 30 menit berikutnya roda mobil kami sudah benar-benar melaju di atas tanah Madura. Lolita satu-satunya perempuan dalam rombongan duduk di samping Yoga yang duduk tenang dibalik kemudi, bertindak sebagai Trip Manager kami kali ini.

Sebelum menjejali mata dengan dengan keindahan Madura, kami sepakat untuk menjejali perut dengan sarapan yang maknyus. Rumah makan Nasi Bebek Sinjay adalah spot pertama kami hari itu. Rumah makan ini cukup luas,terdiri dari sepasang aula panjang, yang di pagian unjungnya terdapat loket tempat memesan makanan. Suasana rumah makan ini sangat ramai. Parkiran di belakang rumah makan, penuh dengan kendaraan roda dua dan empat. Sepertinya, tempat ini menjadi tempat makan favorit bagi wisatawan yang berkunjung ke Bangkalan.

Makanan baru saja tersaji, hujan tiba ditemani tiupan angin yang cukup kencang. Sesaat kami memandang ke luar. Tak ada ekspresi gelisah di antara kami. Semua sepakat untuk menikmati trip hari ini apapun kondisinya. Pukul 11 siang kami meninggalkan rumah makan dan bergerak ke arah selatan menuju destinasi yang sedang populer yakni Bukit Jaddih. Menempuh jarak 11 km dengan waktu tempuh setengah jam. Hujan kembali mengguyur dengan derasnya.

Kami sepertinya sedang beruntung! Baru saja mobil kami memasuki parkiran di tepi danau biru, pusat Bukit Jaddih, hujan berhenti. Kami tak sabar menapakan kaki di hamparan tanah putih, yang tak lain adalah cadas kapur yang telah (tanpa sengaja) dibentuk menjadi pola-pola tak beraturan seperti sebuah situs kuno.

Bukit kapur Jeddih merupakan kawasan tambang kapur yang sudah dieksplorasi selama bertahun-tahun. Hasil kerukan dan pahatan gunung kapur ini membentuk pola tak beraturan dengan ukuran yang bervariasi.Â

Di tengah-tengah bukit terdapat cerukan yang membentuk kolam yang akhirnya orang menyebut itu sebagai Danau Biru. Konon, air yang ada dalam kolam itu bukan berasal dari genangan air hujan yang terkumpul dari bebukitan kapur di sekitarnya melainkan air yang memang bersumber dari bawah, dari cadas kapur yang sudah dikeruk.

Aktifitas penambangan kapur masih terus berlangsung hingga hari ini, yang membuat kawasan Bukit Jaddih terus akan mengalami perubahan bentuk dari waktu ke waktu. Terlepas dari kontroversi eksplorasi tambang kampur yang terus berlangsung, bukit Jaddih adalah fenomena yang unik. Orang menyebutnya 'luka alam yang indah'.

Tarif masuk di sini berkisar antara Rp 5.000-10.000, sudah termasuk parkir. Di beberapa sudut terdapat gubug-gubug tempat pengunjung bisa menikmati makanan ringan dan minuman yang dijual oleh masyarakat sekitar.

Puas menjelajahi lokasi di sekitar kolam, kami lagi-lagi sesuai dengan arahan sang Trip Manager, kami menuju puncak bukit. Perjalanan dengan kendaraan roda empat cukup menantang. Jalan berkelok mengitari tebing kapur yang curam dengan kedalaman 50 hingga 100 meter.

Dari puncak bukit, kami terkagum menyaksikan bentang bukit kapur yang sudah dipahat dan dikeruk di sana-sini. Tampak seperti kawasan kota kuno. Di beberapa sudut, dinding kapur yang menghitam karena lumut memberi corak tegas pada setiap bagian patahan. Di kawasan puncak, hamparan gundukan yang diselimuti rerumputan hijau menjadi daya tarik sendiri. Dari kawasan puncak juga, kita bisa dengan leluasa memandang bentang alam dan pemukiman di sekitar Bangkalan.

Pukul 13.20, kami akhirnya meninggalkan puncak dan langsung kembali ke kota Bangkalan. Sasaran berikutnya kembali pada urusan perut, yakni makan siang. Kali ini, Yoga yang memegang kendali dengan mengarahkan mobilnya menuju salah satu rumah makan yang menjual nasi Buk khas Madura. Nasi Buk dibungkus untuk dimakan di lokasi selanjutnya. Kawasan pesisir utara Madura, yakni Air terjun Toroan, Ketapang, kabupaten Sampang.

Perjalanan menyusuri pesisir utara Madura adalah sesi personal touching! Cerita mengalir begitu saja, Gibran yang duduk di samping saya kerap melontarkan celotehan sekenannya yang ditipali oleh yang lainnya. Di kursi paling belakang, Jimi dan Flori menyumbang tawa dan celetukan rasa Flores yang kental. Perjalanan selama dua jam menjadi tak terasa.

Air terjun Toroan tidak begitu berkesan. Air yang keruh karena hujan yang terus mengguyur membuatnya kehilangan pesona. Meski demikian, hal itu tak berpengaruh pada kesan perjalan kali ini. Selepas melahap makan siang yang terlambat di sebuah rumah makan dekat air terjun, kami kembali melalui jalan yang sama menuju Bangkalan. Perjalanan pulang memberikan catatannya sendri. Perbincangan yang menyentuh ruang personal seakan menegaskan kalau kami telah menjadi sahabat dan saudara. Beginilah cara alam mengajarkan kami berbagi! Eh, kok artikel travel story ini mirip - mirip curhat yah??? Ingat pesan di Bukit Jeddih, 'Lupakan Mantan, Bahagia Di Sini...!'
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
Load Komentar ...
NEWS FEED