Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 17 Mei 2017 10:54 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Tak Bisa Bedakan Siang atau Malam di The Venetian, Macau

Al-zuhri
detikTravel Community
Foto 1 dari 5
Sungai buatan
Sungai buatan
detikTravel Community - The Venetian adalah kasino megah ala Kota Venesia di Macau. Punya sungai dan langit buatan sendiri, seperti tak bisa membedakan siang dan malam di The Venetian.

Saya berkesempatan mengembara ke salah satu kota yang memiliki administratif khusus layaknya Hong Kong, yaitu Makau. Mereka diberikan wewenang sendiri untuk mengurusi rumah tangganya, baik itu mata uang maupun sistem hukum. Bahkan mereka punya bendera sendiri.

Setelah memperoleh Macau Pataca atau MOP (mata uang Makau) di bandara, saya menuju stasiun terdekat dengan Galaxy kemudian melanjutkan perjalanan ke City of Dreams dan mulai berkelana. Sedikit informasi, Yuan dan Dollar Hong Kong juga diterima di sini.

Dari pengalaman, jika menukar uang dalam wujud MOP di kampung halaman saya (Aceh) sangat sulit didapat, namun kita bisa menukarnya setiba di Makau. Untuk menghindari kekhawatiran berlebih, bawa saja Dollar AS, mata uang ini tentunya lebih mudah untuk ditukar dimanapun.

Bicara Makau, tak pernah meleset dari perbincangan kasino kelas dunianya yang mewah. Orang ke Makau pasti identik dengan bermain judi. Betapa tidak, kasino yang memfasilitasi perjudian legal ini telah menghidupkan kota Makau.

Kehidupan di sini tak pernah sepi dengan lalu lalang perjudian kelas berat. Setelah bertolak dari Filipina kemarin, saya memutuskan untuk mengintip kota dimana dewa judi pernah main. Tahu kan dengan film God of Gambler atau Du Shen sebagai judul aslinya itu?

Saya ingin memberitahu bahwa Makau ini dulu pernah menjadi lokasi dimana syuting film tersebut pernah dilakukan. Salah satunya adalah Lisboa yang merupakan satu di antara beberapa kasino terkenal di Asia. Makau telah menjamur kasino yang sudah ramai orang ketahui seperti The Venetian, Wynn, Lisboa, Galaxy, Sands, dan lainnya. Atau mungkin anda sendiri pernah main di salah satunya.

Di antara beberapa kasino, The Venetian mungkin lebih familiar di Indonesia dikarenakan film Korea kesukaan anak muda ini pernah shuting di sana. The Venitian merupakan hasil percontohan bangunan yang ada di Kota Venesia, Italia. Mendatangkan langit dan sungai tiruan seperti yang ada di Venesia. Di dalamnya kita akan menemukan restoran, hotel, mall dan tentunya kasino serta wahana hiburan lainnya.

Berada di dalam Vinetian waktu akan susah ditebak, apalagi jika lama di dalamnya seakan tak mengenal siang dan malam. Langit buatannya pun sangat ahli mengelabui mata seakan tampak hari masih seperti siang. Hanya jam tangan yang dapat memberitahukan kita saat ini siang atau malam.

Orang-orang kerap dibuat lalai berada di dalamnya, tambah bagi yang memiliki taruhan seperti tak ingin keluar sebelum mengepal kemenangan. Di dalam sini binar lampu menggantikan matahari siang dan bulan ketika malam.

Bagi saya pribadi, sekilas pemandangan di dalam kasino sama halnya dengan wahana mainan anak-anak hanya saja di sini mereka bermain dengan tumpukan uang yang ditukar dalam bentuk cish. Tak ketinggalan, saya menyempatkan untuk membidik dan merekam interior elegan di dalamnya untuk dokumentasi perjalanan.

Walaupun sedianya ini adalah hal yang tidak mereka perkenankan untuk dilakukan dan kalau kedapatan pasti akan diminta hapus. Mujurnya, saya lewat dari pengamanan itu bermodalkan nekat dan sedikit trik tapi bukan magic walaupun penjaga ada dimana-mana.

Di Venetian menaiki gondola adalah pengalaman berkesan yang jangan sampai terlewatkan. Apalagi bagi pasangan yang sedang bermulan madu bunga hati masih mekar meruah. Sang pengayuh yang mengenakan pakaian khas akan membawa kita berkeliling di sepanjang sungai buatan itu dengan nyanyian bernuansa Italia habis. Untuk sahabat yang tidak tahu, Gondola adalah perahu dayung tradisional asal Venesia, Italia.

Venetian merupakan salah satu kasino mewah di Makau yang signifikannya berada di Pulau Taipa. Secara geografis, Makau dibagi menjadi empat bagian yaitu Pulau Taipa, Pulau Cotai, Metro Makau, dan Pulau Coloane. Kota ini tidaklah besar untuk dikelilingi, dua, tiga hari mungkin cukup. Layanan transportasi umumnya pun sangat membantu bahkan ada bis gratis milik kasino-kasino yang bisa kita tumpangi.

Ada banyak tempat wisata yang bisa dikunjungi di kota tetangganya Zhuhai ini, baik berwujud mesjid, kuil, gereja, benteng, bangunan klasik, museum, kasino, taman, tower, jembatan, kuliner dan berbagai hal lainnya.

Ruins of St. Paul, bekas gereja yang merupakan salah satu landmark kotanya tak terkecuali. Mulai dari area Senado Square menuju Ruins of St. Paul ini sesak dengan lalu-lalang manusia bahkan sampai bulan berkata malam. Di area ini pula kita bisa belanja oleh-oleh khas Makau sambilan mencicipi kuliner istimewa Kota Judi itu.

Kala malam berlabuh, banyak bangunan yang dilumuri lampu membuat mata tak ingin berkedip menikmati keelokannya. Sudah hal umum untuk diketahui bahwa kota-kota di Tiongkok mendandani malam dengan pemandangan lampu warna-warni yang menawan.

Bahkan saya memiliki kesempatan bagus dikala malamnya karena ada festival kembang api ketika itu yang menjadi acara rutin mereka lakukan dengan jadwal yang sudah ditentukan. Saya tahu festival ini dari Lilin, seorang teman Tiongkok asal Sichuan yang baru saja saya kenal. Dia juga sedang menikmati liburan kerjanya di Makau. Kami pun sepakat untuk bersama melewati festival di malam itu.

Persis seperti Hong Kong, Makau juga ramai orang Indonesia. Bahkan ada yang sudah menetap lama, menjadi pengusaha, pembantu dan berbagai bidang profesi lainnya. Salah satunya pria yang beristrikan orang Jepang yang sempat saya jumpai di rumah makan Rasa Sayang, milik pengusaha Indonesia yang belum genap setahun merajut usahanya.

Jadi jangan terlalu khawatir jika ini menjadi kali pertama sahabat berada di Makau, kita hanya butuh banyak menyapa saja. Kemudahan akan datang berawal dari komunikasi yang baik dengan orang-orang di sekeliling.

Selanjutnya, dalam momen menunggu bis saya juga berjumpa dengan seorang tante asal Pulau Jawa yang sudah panjang lebar berbincang dan berbagi informasi, tapi saya lupa menanyakan namanya. Perjumpaan kami harus berakhir di stasiun bis yang jadi tujuannya.

Dari dalam bis saya melihat ia terus melambaikan-lambaikan tangan pada perpisahan yang begitu singkat itu. Raut wajah beliau menggambar kekhawatiran nasib perjalanan saya di Makau. Tapi Alhamdulillah, berkat beliau yang sudah lama bekerja di sana, setidaknya saya sudah memungut banyak informasi bagaimana Kota Judi tersebut, dimana ada orang Indonesianya dan dimana tempat wisata paling bagusnya.

Makau punya sedikit cerita, dulunya kota ini berada di bawah kelola Portugal sebagai tanah jajahannya sebelum akhirnya dikembalikan lagi ke kedaulatan Tiongkok. Sehingga, bahasa resmi mereka adalah Portugis dan Mandarin.

Meskipun sehari-harinya mereka menggunakan dialek lokal yaitu Kanton. Bahasa Portugis masih dapat kita lihat baik di petunjuk jalan bahkan keterangan nama bangunan atau tempat. Sedang Bahasa Inggris sering digunakan dalam pelaksanaan bisnis, pariwisata dan perdagangan.

Bagi sahabat yang belum memiliki deposito cukup mengintip Eropa, bisa menyambangi Makau dulu. Lagi pula tidak dibutuhkan visa dan ada banyak tiket promo untuk menerbangkan animo sahabat kemari.Tiongkok memang unik sekaligus menarik, semua tempatnya memiliki kekhasan tersendiri sehingga setiap kota yang kita kunjungi memiliki magnet untuk membuat para petualang bergairah.
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
Load Komentar ...
NEWS FEED