Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 05 Apr 2017 14:57 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Pendakian di Gunung Batur di Bali

rudi_rachmat
d'travelers
Foto 1 dari 5
Peta Gunung Batur dengan maskot anjing Kintamani
Peta Gunung Batur dengan maskot anjing Kintamani
detikTravel Community -

Mendaki ke Gunung Batur tak hanya sekedar naik gunung. Ada banyak hal yang bisa jadi pilihan saat menjelajahi gunung cantik ini, salah satunya sunrise.

Gunung Batur merupakan gunung vulkano aktif dan telah beberapa kali meletus. Erupsi terakhirnya pada tahun 2000, sedang erupsinya yang terbesar terjadi pada tahun 1926.

Batu-batu lava bekas erupsi masih bisa ditemui berserakan di sekitaran kaki gunung. Selain itu gunung ini terkenal pula dengan anjing Kintamani yang mirip serigala, di mana anjing-anjing itu masih bisa ditemukan namun sayang peranakannya kini adalah hasil silangan dengan anjing biasa.

Pendakian gunung yang terletak di kecamatan Kintamani ini menjadi salah satu wisata petualangan yang ditawarkan di Bali. Banyak wisatawan asing yang tertarik melakukan pendakian bersama menuju puncak mulai pagi dinihari, biasanya pada pukul 3.00 WITA, dengan ditemani pemandu tentunya. Bagi kita pendaki domestik yang telah tahu jalur pendakian ataupun sering mendaki, tidaklah diwajibkan untuk menggunakan jasa pemandu.

Melihat kecantikan matahari terbit (sunrise) adalah tujuannya, dan menyaksikan sunrise dari puncak Gunung Batur merupakan salah satu titik terindah di Pulau Bali. Selain itu, pemandangan dari puncak gunung inipun alangkah mempesona. Dari ketinggian, kita bisa melihat Danau Batur di bawah sana, Gunung Abang yang berdiri gagah di sebelahnya, desa Kintamani, perkebunan jeruk, juga hutan pinus yang terhampar luas. Kaldera Gunung Batur yang luas juga teramat jelita.

Salah satu jalur pendakian gunung setinggi 1.717 mdpl ini adalah melalui Pura Pasar Agung, desa Pekraman. Karena pendakian biasanya dilakukan saat dinihari, kita tak perlu khawatir, di sini disediakan tempat beristirahat bagi para  pendaki untuk menunggunya. Di awal pendakian kita akan melewati perkebunan milik masyarakat setempat. Jalurnyapun masih landai. Pendakian kian terasa berat dan menanjak tatkala mendapati jalur berpasir serta sisa-sisa endapan lahar yang gampang longsor juga bebatuan besar yang licin.

Karena tidak terlalu tinggi, maka tak perlu menghabiskan waktu banyak untuk menapaki jalur-jalur di Gunung Batur. Paling lama 2 jam, kita sudah bisa berdiri di puncaknya. Terdapat warung untuk beristirahat di sini, di mana kita bisa membeli makanan dan minuman. Kita tak diperkenankan berkemah di puncak. Sifat pendakian adalah endurance (tektok), yakni naik dan sampai di puncak lalu segera turun kembali.

Setelah turun kembali dari puncak, kitapun bisa bersantai-ria dengan berperahu mengelilingi Danau Batur, mengunjungi desa Trunyan yang terkenal dengan pemakaman mayatnya yang unik, menikmati sensasi mandi air panas di Toya Bungkah, berfoto-foto di Panelokan, ataupun beragrowisata di perkebunan jeruk Kintamani sambil mencicipi kemanisannya yang tak terkira!

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED