Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 12 Jan 2018 10:44 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Solo Traveling ke Vietnam? Aman Kok!

Foto 1 dari 5
Post Office
Post Office
detikTravel Community - Traveling sendirian ke Vietnam tidak perlu ada yang dikhawatirkan. Vietnam aman banget, asal kita waspada dan tahu triknya berikut ini.

Saya mendapat tiket ke Vietnam ini saat ulang tahun salah satu maskapai penerbangan tahun lalu (Mei 2016). Melihat harga tiket one way ke Saigon ini hanya Rp 360.000, tanpa pikir panjang saya langsung booked dengan tanggal keberangkatan tahun depan (11 April 2017)

"Ah yang penting dapet dulu, tiket pulangnya mah belakangan, masih tahun depan ini kok berangkatnya, masih bisa nabung," pikir saya.

Ternyata sampai H-30 sebelum saya berangkat, saya belum juga beli untuk tiket pulang dari Vietnam ke Jakarta, karena ternyata selama setahun pencarian saya tersebut tidak menemukan harga yang murah, semua harga return Vietnam-Jakarta di atas Rp 700.000 dimana hal tersebut di luar perkiraan.

Saya kira harga tiket itu di range Rp 300-500 ribuan saja. Pelajaran pertama ketika ada promo yang benar-benar murah, sebaiknya langung beli tiket PP (return ticket), karena kalau di luar promo akan sangat mahal.

Jadi, berapa harga tiket yang saya dapat untuk Vietnam-Jakarta? Rp 1.000.000 saja. Untung dapat diskon Rp 100.000, jadi tinggal Rp 900.000 .

Itenerary 2D1N Vietnam :

10 April 2017, saya berangkat dari Bandara Soekarno Hatta jam 20.30, sampai di Malaysia jam 23.00, kemudian transit selama 8 jam 30 menit di KLIA2. Saya tidur di charging area karena lebih hangat dan tersedia banyak colokan, kemudian boarding lagi menuju Vietnam jam 07.05 pagi.

11 April, jam 08.30 sampai di Vietnam, urus imigrasi kemudian menuju Exit Gate dan mencari bus nomor 152 yang akan mengantarkan saya ke pusat kota yaitu Pham Ngu Lao Street. Bus ini bisa ditemukan di depan Burger King setelah melewati exit gate 2.

Nunggu busnya jalan lama banget. Jadi waktu saya habis di bandara, dan ini menggagalkan rencana saya selanjutnya untuk ke Mui Ne.

Sebenarnya saya sudah merencanakan dengan sangat-sangat matang bahkan 3 bulan sebelumnya untuk mengunjungi Mui Ne. Salah satu penyebab kegagalan saya untuk kesana adalah tiket kepulangan saya ke Indonesia mepet sekali waktunya dan bus yang lelet banget.

Pelajaran ke 2, naik Bus No 152 sampai keluar Bandara aja dan berhenti di halte pinggir jalan setelah itu pesan Grab Bike ke pusat kota (tenang Grab Bike kamu langsung change negara dengan sendirinya tanpa setting ulang dan harganya terjangkau).

Saigon tidak kalah macet dengan Jakarta, apalagi tidak ada jalur untuk bus sendiri. Belum lagi saya nyasar pas jalan kaki dari halte ke Pham Ngu Lao. Alhasil saya sampai di Pham Ngu Lao Street sekitar jam 10.30.

Saya langsung menuju ke Sihn Tourist salah satu travel terbesar dan terpercaya di Vietnam, karena harganya masuk akal bagi para turis. Sampai Sihn Tourist untuk keberangkatan ke Mui Ne hari itu hanya tinggal jam 2 siang, dan saya harus kembali ke Indonesia keesokan harinya pada jam 5.20 sore.

Customer service menyarankan saya untuk tidak memaksakan diri ke Mui Ne karena jadwal Mui Ne ke Saigon keesokan harinya jam 09.00 pagi sampai Saigon jam 3 sore. Dia mengatakan kamu bisa tertinggal pesawat kalau mau memaksakan ikut, karena Saigon sangat macet di siang hari.

Pelajaran ke 3: Kalau mau ke Mui Ne minimal stay 2 hari di Vietnam karena sangat jauh dan macet. Kecewa? Banget! Saya ke Vietnam hanya ingin ke Mui Ne. But show must go on.

Plan A gagal bikin Plan B dadakan, saya memesan hotel yang saya liat paling murah saat itu hanya 110.000 VND (Kurs VND = 0,6 Rupiah) untuk dormitory room. Sampai kamar langsung istirahat.

Nah, di saat istirahat ini entah saya dapat ilham darimana, saya chat teman couchsurfing saya area Vietnam. Saya chat dia mengatakan saya gagal ke Mui Ne, kemudian dia menyarankan saya untuk pergi ke Vung Tau yang hanya berjarak 3 jam dari Saigon, dimana 'katanya' pemandangannya hampir sama seperti Mui Ne.

Cus lah saya browsing di Google. Bagus kelihatannya. Lumayan lah mengobati kekecewaan saya. Dan ternyata ini adalah awal dari sebuah 'Get Lost In Vietnam'.

Saya book tiket sekali jalan ke Vung Tau sekitar 95.000 VND, si pak travelnya menjelaskan nanti kamu turun di sini, dengan menunjuk nama alamat di tiket yang saya pegang.

Bodohnya saya OK OK aja gitu tanpa menanyakan:

1. Nanti saya dari alamat itu untuk sampai ke pantai naik apa , bisa jalan kaki atau gimana?
2. Berapa ongkos dari alamat itu ke pantai?

Saya juga lupa tidak beli simcard Vietnam untuk menghubungi teman couchsurfing saya tersebut, hanya saya chat sebelum berangkat.

"Saya berangkat sekarang, nanti saya harus turun dimana?" yang kemudian baru dibalas setelah saya sudah di Indonesia. (nangis guling guling).

Sampai di alamat tujuan, bengong dong saya kok cuma jalan raya aja tanpa ada tanda-tanda pantai? Nanya sama orang tidak ada yang bisa bahasa Inggris. Mau nangis juga percuma.

Eh, ada orang jual Banh Mi. Kelaparan mau beli, udah pake bahasa isyarat tetep aja ibunya gak ngerti. Sampai saya tunjuk-tunjuk itu roti masih aja ibuknya ketawa-ketawa sambil ngomong bahasa Vietnam.

"Yakali saya ngerti,"

Pelajaran ke 5: Setidaknya belajar sedikit bahasa negara yang akan dikunjungi jika mayoritas warganya tidak bisa berbahasa Inggris.

Gagal beli makanan, saya lanjut jalan dengan kaki yang sudah capek, berharap ada orang bisa bahasa Inggris. Akhirnya ada hotel pinggir jalan saya tanya sama ibu-ibu: "Kalau mau ke pantai lewat mana?"

Eh ibu itu malah manggil anaknya yang untungnya bisa bahasa Inggris. Dia bilang: "Lumayan jauh sekitar 2 kiloan, kamu bisa naik taksi,"

Astaga Naga!

Dalam hati mikir percuma juga naik taksi, sunset juga sudah lewat. Taksi juga sudah jarang. Ah sudahla,h saya memutuskan untuk kembali lagi ke Saigon dengan tangan kosong.

Nanya taksi berapa harga untuk sampai ke agent travel yang bisa mengantarkan saya ke Saigon, dia bilang: "20.000 VND mbakyu monggo naik,". Cus, menuju agent travel.

Beruntunglah saya ketemu bule di agent travel dimana dia baru pulang dari pantai dia bercerita banyak, pantainya bagus sunyi, masih terjaga keindahannya, bla bla bla.. bikin mupeng.

Lalu saya bercerita saya gagal ke pantai gara -gara lost way, dan tidak ada yang bisa berbahasa Inggris, kemudian dia Tertawa.

Pelajaran ke 6: Beli Simcard Vietnam untuk memudahkan pesan GrabBike (biar bisa telepon drivernya) dan untuk menghubungi teman kamu yang ada di Vietnam.

Singkat cerita, sampailah saya di Saigon jam 9 malam. Sebenarnya saya tertulis turun di Pham Ngu Lao Street, namun karena lihat ada orang turun depan Pasar Benh Tanh, saya ikutan aja turun situ. Lumayan ada pasar malam di Benh Tanh, sekalian beli oleh-oleh menghilangkan galau.

Di sini nawarnya harus sadis, jangan takut dimarahi pedagangnya. Toh cuma ketemu sekali, karena harganya nggak masuk akal mahalnya. Ampun deh, harus ditawar 1/4 harga. Pulangnya beli Pho seharga 45.000 VND dan kopi vietnam pinggir jalan 20.000 VND.

Pulangnya saya memilih untuk transit Singapore, biar nggak bosan saja. Transit 14 jam di Singapore dari jam 8 malam, boarding ke Indonesia lagi jam 10.20 pagi keesokan harinya.

Kesimpulannya Vietnam Aman Banget, asal kamu aware sama barang bawaan dan diri kamu sendiri. Bilang aja: "NO" sambil lambai tangan dan senyumin aja kalau ditawari becak dan ojek pangkalan, harga yang nggak masuk akal, dan tawaran keliling kota (karena pasti kamu diberi harga yang mahal).

Saya kurang puas hanya stay 2 hari di Vietnam, karena banyak tempat bagus yang belum dikunjungi.
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED